Ke mana uang pajak saya?
Mohamad Susilo | 2012-03-23, 14:43

Seorang warga di Inggris membaca koran berisi rincian anggaran pemerintah.

Saya punya teman yang tinggal di pinggiran Jakarta. Salah satu hal yang sering 
ia tulis di akun Facebook-nya kira-kira berbunyi seperti ini, "Satu ruas jalan 
yang saya lalui setiap hari sudah lama rusak dan sepertinya tak kunjung 
diperbaik. Wahai para pejabat, buat apa uang pajak yang saya bayarkan? Ke mana 
larinya pajak saya?"
Ia sepertinya kecewa karena menilai pemerintah tidak transparan soal 
pembelanjaan uang yang diambil dari pajak rakyat.

Saya tidak tahu persis apakah pertanyaan semacam ini banyak dilontarkan oleh 
warga Inggris.

Yang pasti, Menteri Keuangan Inggris, George Osborne, ketika menyampaikan 
pidato anggaran hari Rabu (21/3) mengatakan setiap pembayar pajak akan 
mendapatkan rincian mengenai besarnya pajak yang dibayar dan untuk apa saja 
uang pajak tersebut ketika berada di tangan pemerintah.

"Di era informasi seperti saat ini, rakyat harus tahu untuk apa saja uang pajak 
mereka dibelanjakan," ujar Menteri Osborne.

Para pejabat pemerintah memberikan gambaran bahwa mereka yang mendapatkan gaji 
£50.000 per tahun akan membayar pajak pendapatan dan kontribusi lain -biasa 
disebut national insurance- sebesar £14.183.

Dari jumlah tersebut, £4.727,67 akan dibelanjakan untuk pos-pos kesejahteraan 
rakyat.

Pos kesehatan mendapatkan jatah £2.469,68, pendidikan £1.848,73, pertahanan 
£818,52, dan pos keamanan akan mendapatkan jatah £705,62.

Pos bantuan internasional diberi jatah £141,12 sementara £70,56 akan 
disumbangkan ke Uni Eropa.

Rakyat berhak tahu

Pemerintah mengatakan rakyat berhak tahu ke mana saja uang pajak yang mereka 
bayarkan.

Para penyelenggara negara juga berharap dengan adanya transparansi seperti ini, 
rakyat akan tahu berapa persisnya pajak yang mereka bayar -meski angka itu 
tertera di slip gaji- dan pada akhirnya akan memilih partai politik yang 
berjanji menerapkan pajak yang lebih rendah.

Ben Gummer, anggota parlemen dari Konservatif, satu dari dua partai koalisi 
yang berkuasa saat ini, mengatakan orang memiliki kecenderungan untuk 
mengetahui rincian uang yang dibelanjakan.



Biaya untuk menyediakan rincian pajak £800.000 per tahun.

Kepada media di Inggris, Gummer mencontohkan orang-orang yang habis belanja 
dari supermarket.

"Lihat saja, banyak yang memelototi kuitansi yang mereka terima. Mereka ingin 
tahu perincian harga belanjaan," katanya.

Rincian ala kuitansi belanjaan ini semestinya juga diterapkan untuk pajak, kata 
Gummer.

"Kita diwajibkan membayar pajak, di sisi lain pemerintah juga wajib memberi 
tahu kita, untuk apa saja pajak yang kita bayar," kata Gummer.

Kontroversial?

Menurut rencana rincian pajak seperti ini akan dikirim ke setiap pembayar pajak 
mulai 2014.

Dan ketika terkait dengan pajak, sudah barang tentu kebijakan ini menuai 
kontroversi. Mereka yang tidak setuju berpandangan, berapa dana yang harus 
dikeluarkan untuk membuat rincian untuk 29 juta pembayar pajak di Inggris.

Kalangan lain mengusulkan versi online saja untuk menghemat anggaran.

Pemerintah mengatakan penyediaan rincian belanja pajak akan memakan biaya 
sekitar £800.000 per tahun.

Para pejabat mengatakan dana itu layak dikeluarkan demi transparansi.

"Surat rincian pajak ini berpotensi untuk mengubah dan menggairahkan 
demokrasi," kata Gummer, anggota parlemen dari Konservatif.

Di tataran praktis, keterangan perincian pajak seperti ini bisa menjawab 
pertanyaan teman saya di pinggiran Jakarta, yang saya singgung di atas.

Itu kalau aparat pajak di Indonesia mau meniru rekan-rekan sejawat mereka di 
Inggris.


Kirim email ke