http://www.equator-news.com/utama/20120413/mau-berdagang-jujur-tiru-kota-singkawang

DepanUtama
Mordiadi
|  Jumat, 13 April 2012

Mau Berdagang Jujur? Tiru Kota Singkawang

Kota Tertib Ukur Pertama Indonesia
Singkawang
– 

Jangan melirik amoy semata, kini Kota Singkawang telah ditetapkan sebagai Kota 
Tertib Ukur Pertama di Indonesia oleh Kementerian Perdagangan RI. Inilah kota 
yang memberikan perlindungan dan hak konsumen.

Dengan predikat kota yang menjunjung tinggi kejujuran berjualan itulah banyak 
pemkot dan pemkab mendatangi Kota Singkawang untuk belajar bagaimana tidak 
menipu konsumen lewat timbangan. Sekaligus menjadi daerah percontohan (pilot 
project) tertib ukur senusantara.

“Kota Bekasi ini yang pertama datang studi ke sini, ada juga Sidoarjo. Lantas 
empat kota lain sudah menghubungi via telepon akan berkunjung ke Kota 
Singkawang terkait tertib ukur ini,” ungkap Emy Erwanda SE, Kepala Dinas 
Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disperindagkop 
dan UKM) ditemui usai menerima kunjungan kerja (kunker) di kantor Walikota 
Singkawang, Kamis (12/4).

Sebenarnya predikat jujur timbangan itu sudah sejak 6 Desember 2011 ditetapkan 
oleh Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthy di Hotel Dangau Singkawang. 
Saat itu dia mengharapkan bupati/walikota se-Indonesia mengikuti jejak Kota 
Singkawang menjadi Kota Tertib Ukur.

“Semua bupati/walikota seluruh Indonesia, kalau Singkawang bisa, masa Anda 
tidak bisa? Atau kalau mau, bisa datang ke Singkawang, lihat bagaimana caranya 
dan pengelolaannya,” kata Bayu ketika itu.

Bayu menjelaskan, proses menjadi kota paling tertib main dacin itu cukup 
panjang. Proses penelitian dan pemeriksaan dilakukan oleh metrologi. “Kota 
Singkawang telah memenuhi semua persyaratan untuk menjadi Kota Tertib Ukur,” 
katanya.

Tentu saja kota yang dipimpin DR KRA Hasan Karman menginstruksikan jajaran 
dinasnya untuk serius me-register (mendata) semua alat ukur yang jumlahnya 
mencapai ribuan unit. Sekaligus memberikan bimbingan terkait penggunaan alat 
tertib ukur tersebut dan lainnya. “Paling istimewa, Pemkot Singkawang telah 
mengalokasikan anggaran untuk kegiatan ini,” ungkap Bayu.

Menurut dia, apa yang telah dilakukan Singkawang ini seyogianya dilakukan semua 
kabupaten/kota di Indonesia. Selain sebagai amanah undang-undang, juga sebagai 
upaya memberikan hak konsumen untuk mendapatkan perlindungan.

Bayu mengungkapkan, upaya menciptakan Kota Tertib Ukur ini tentu dihadapkan 
pada berbagai kendala. Pertama, jumlah alat ukurnya sangat banyak, sementara 
petugas pengawasannya terbatas. Tetapi dengan pelatihan kepada pihak-pihak 
tertentu, permasalahan tersebut teratasi.

“Ini langkah kecil. Tetapi sangat penting, karena kalau kita tidak bisa 
mengurus yang kecil, bagaimana mengurus yang besar. Urusan besar dimulai dari 
urusan kecil yang bisa diselesaikan dengan baik,” kata Bayu bangga.

Sebagai Kota Tertib Ukur, menurut Bayu, setidaknya akan menghilangkan rasa 
waswas dan memunculkan keyakinan masyarakat kepada sistem yang digunakan. 
“Yakin pada sistem, itu adalah tanda kemajuan,” ujarnya.

Bayu mengatakan ini merupakan prestasi istimewa bagi Singkawang, sehingga dia 
beserta rombongan datang langsung untuk menandatangani prasasti penetapan Kota 
Tertib Ukur pertama di Indonesia.

Tentu bukan karena hadis Nabi yang bersabda, “Belajarlah sampai ke negeri Cina” 
sehingga banyak pemkot dan pemkab studi ke Singkawang yang populasinya 65 
persen warga Tionghoa. Bahkan Hasan Karman sendiri tak paham dengan ayat 
mengenai orang-orang yang curang dalam timbangan (Qs. al-Mutaffifin 1-6).

Terakhir, empat kota yang sudah menghubungi akan kunjungan kerja ke Singkawang 
adalah Solo, Batam, Samarinda, dan Balikpapan. “Setiap ada pembahasan mengenai 
Kota Tertib Ukur, Kota Singkawang selalu dipanggil ke pusat untuk memberikan 
informasi kepada kota-kota lainnya tera ulang ini,” jelas Emy.

Apabila Pemkot Singkawang yang diundang untuk menjelaskan mengenai penerapan 
tera yang tertib itu, otomatis selaku Kepala Disperindagkop dan UKM Kota 
Singkawang, Emy berkali-kali berangkat untuk menjelaskannya. (dik)

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke