http://www.shnews.co/detile-126-desakralisasi-gedung-dpr.html


Desakralisasi Gedung DPR

Ruhut Ambarita/Web Warouw/Deytri Aritonang/M Bachtiar Nur | Rabu, 08 
Februari 2012 - 09:19:57 WIB


Perbincangan mengenai ketidakpekaaan nurani sosial DPR tidak pernah 
habisnya.

Setelah pada Mei 2011 Badan Urusan Rumah Tangga DPR telah menganggarkan Rp 
1,8 triliun untuk pembangunan konstruksi gedung dewan yang baru, dengan 
alasan konstruksi gedung yang lama mengalami kemiringan tujuh derajat, dan 
mengakomodasi penambahan jumlah staf ahli anggota DPR dari tiga staf 
menjadi lima staf.

Kini, awal 2012 ini publik kembali tersentak dengan anggaran Rp 20 miliar 
untuk perbaikan sarana dan prasarana fasilitas sanitasi toilet lengkap 
dengan perluasan lahan parkirnya, serta tampilan mewah ruang rapat Badan 
Anggaran DPR lengkap dengan multimedia serbacanggih.

Adanya fasilitas yang serbamewah dan serbamodern tersebut akan menciptakan 
ketimpangan sosial dan ekonomi yang lebih lebar antara wakil rakyat dan 
rakyatnya sendiri.

Gedung DPR bukan lagi disebut sebagai rumah rakyat, tetapi lebih tepat 
sebagai rumah sakral. Adanya pagar yang cukup tinggi mengelilingi kompleks 
gedung DPR adalah satu indikasi kesakralan tersebut bahwa rakyat Indonesia 
tidak bisa sembarangan masuk dan beraktivitas di sana.

Indikasi sakral lainnya penjagaan esktra ketat yang diberlakukan untuk 
menghalau para demonstran yang notabene adalah rakyat. Kesan itulah yang 
kemudian membentuk opini bahwa gedung DPR menjaga jarak dengan masyarakat 
luas sebagai konstituennya. DPR menjadi semakin angkuh dengan gemerlapnya 
fasilitas tersebut.

Perilaku bermewah diri dan menjaga jarak yang dilakukan anggota DPR tentu 
amatlah kontras bilamana mengamati dan mengomparasikan dengan perilaku 
anggota DPR Australia di mana menjaga jarak dan bermewah diri adalah hal 
yang tabu mereka lakukan.

Dalam hal ini, penulis ingin berbagi pengalaman mengenai suasana 
berparlemen anggota DPR Australia yang diharapkan bisa menjadi perenungan 
untuk menyikapi perilaku anggota DPR di negeri kita.

Refleksi DiriSecara sekilas, Gedung DPR Australia atau lebih dikenal 
Parliament House of Australia tidaklah berbeda dan mencolok dibandingkan 
dengan gedung perkantoran dan hotel lainnya yang berada di kawasan Capital 
Hill, ACT (Australian Capital Territory) Canberra.

Gedung ini luasnya hanya kurang dari 24 hektare, setengahnya dari luas 
kompleks gedung DPR Indonesia yang luasnya 48 hektare. Apabila gedung DPR 
di Indonesia belomba-lomba untuk menampilkan kemewahan dan modernitas, 
gedung DPR Australia justru menampilkan kesederhanaan dan kesejarahan.

Dalam bangunan gedung DPR Australia terpatri sejarah perjalanan bangsa 
tersebut sejak masa Aborigin hingga era persemakmuran Inggris sekarang 
ini. Hal ini dimaksudkan agar anggota DPR tidak lupa mengenai rakyatnya 
yang diwakilinya.

Seperti ingin memahami sebagai rumah rakyat, gedung DPR Australia tidak 
dirintangi pagar tinggi yang mengelilingi kompleks maupun penjagaan ekstra 
ketat sebagaimana yang terjadi di DPR Indonesia. Para anggota DPR 
Australia ini mempersilakan rakyatnya mengunjungi gedung parlemen setiap 
hari dan waktu.

Bahkan gedung parlemen menjadi tempat wisata menarik dengan disediakan 
free guided tours oleh parlemen yang dimulai pada pukul 09.00 pagi dan 
berlangsung setiap 30 menit secara berkelanjutan hingga batas akhir waktu 
pada pukul 04.00 sore hari (Faiz, 2011).

DPR Australia mewajibkan para anggota DPR-nya seintens mungkin bertemu dan 
bertatap muka untuk mengetahui apa yang sedang terjadi pada konstituen 
mereka guna menjaga pandangan buruk dari orang-orang yang mereka wakilkan.

Oleh karena itulah, jarang didapati anggota DPR Australia bermewah-mewahan 
seperti menggunakan mobil mahal maupun pakaian gemerlap. Mereka justru 
menghindari hal tersebut untuk menghindari stigma negatif dari masyarakat, 
terlebih lagi pada masa krisis sekarang ini.

Untuk menuju gedung parlemen cukup menggunakan transportasi umum membaur 
dengan rakyatnya. Menjaga hubungan mereka dengan masyarakat dapat menjadi 
pembelajaran atas kebijakan pemerintah yang sudah digulirkan. Pada poin 
inilah letak mendasar perbedaan sikap berperilaku anggota DPR kita dengan 
anggota DPR Australia.

Anggota DPR kita hanya bertemu dengan masyarakatnya hanya pada masa reses 
sidang kabinet. Itu pun sering kali hanya terbatas dan waktu singkat, 
karena terpotong dengan kunjungan kerja/studi banding ke luar negeri 
maupun agenda rapat mendesak partai politiknya.

Yang menarik dan patut dicontoh ialah ruang sidang DPR Australia yang agak 
menjorok ke bawah tanah sehingga terkesan mereka bersidang di bawah 
telapak para pejalan kaki yang lalu lalang berjalan di kompleks parlemen 
tersebut.

Makna filosofinya ialah anggota DPR adalah pelayan dan abdi rakyat 
sehingga dengan adanya pejalan kaki yang melintas di atas kepala mereka 
dimaksudkan bahwa kepentingan masyarakat di atas segala-galanya 
dibandingkan dengan dirinya maupun partainya.

Adanya fasilitas mewah dalam gedung DPR sebagaimana yang terdapat dalam 
kasus Indonesia justru akan membebani pola pikir dan kinerja para anggota 
DPR Australia ini.

Fasilitas mewah diartikan sebagai setumpuk beban moral dan etika dari 
masyarakat kepada anggota DPR Australia ini. Bandingkan dengan fasilitas 
mewah DPR Indonesia yang lebih diartikan sebagai beban pemenuhan citra dan 
egoisme pemimpin kepada rakyatnya.

Pelajaran dari kasus gedung DPR Australia setidaknya dapat dijadikan 
refleksi diri untuk mendeskralisasi dan menghilangkan stigma angkuh yang 
sering kali dipertontonkan anggota DPR kita kepada rakyatnya. Sudah 
saatnya anggota DPR kita bersikap sederhana dan membumi seperti halnya 
masyarakat Indonesia pada umumnya.

Oleh karena itulah diperlukan sikap terobosan yang dilakukan pemimpin DPR 
untuk bersikap sederhana supaya dijadikan contoh bagi para anggotanya 
sehingga citra DPR yang tidak peka dan tidak berempati sosial akan 
tereduksi secara bertahap.

*Penulis adalah Analis Politik dan Kebijakan Publik FISIPOL UGM.
--
I am using the free version of SPAMfighter.
We are a community of 7 million users fighting spam.
SPAMfighter has removed 105 of my spam emails to date.
Get the free SPAMfighter here: http://www.spamfighter.com/len

The Professional version does not have this message

Kirim email ke