Subject: Fw: SOEKARNO dan HELDY DJAFAR

Saya bisa memaklumi perasaan sdr. A.Dahana. Memang setiap Presiden punya 
kegemarannya masing-masing:
Sukarno suka perempuan...maklumilah dia, maafkanlah...
suharto suka bunuh Komunis...kutuklah dia! tak usah diberi maaf!
Habibi suka komputer...beri dia kado komputer bikinan Tiongkok
Gus Dur suka yang serba mudah, tidak repot-repot, biarkan dia datang ke DPR 
pakek celana pendek
Megawati suka jadi Presiden meskipun tak pernah terpilih...kasihanilah dia
SBY suka menaikkan harga termasuk harga dirinya dan BBM... jatuhkan dia dengan 
omongan
Kita ini bangsa NRIMO yang sudah sejak dalam kandungan ibu. Terimalah semua 
yang pernah ada dan sedang ada sesuai dengan takdir yang dijatuhkan pada kita. 
Perubahan  bukan alam dan dunia kita. Untuk berubah hanya bisa kalau 
mendatangkan ideologi dari luar dan hanya itulah satu-satunya yang tidak bisa 
ditrimo.
ASAHAN

----- Original Message -----
Subject: Fw: SOEKARNO dan HELDY DJAFAR

Tapi siapa Heldy Jafar? Apakah perempuan  ini yang kemudian kawin dengan Herman 
Sarens?

On Fri, Apr 6, 2012 at 9:16 PM, <[email protected]> wrote:

  Makanya gimana negeri kita mau bener. Pemimpin kita yang ngaku pembesrev cuma 
mikirin syahwat. Itulah indonesia!!!!!!
  Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung 
Teruuusss...!

--------

    SOEKARNO dan HELDY DJAFAR

    Siapakah sosok Heldy Djafar dan apa hubungannya dengan Bung Karno?
    Perjumpaan Bung Karno dan Heldy untuk pertama kali ketika Heldy menjadi 
anggauta Barisan Bhinneka Tunggal Ika untuk menyambut kedatangan Tim Piala 
Thomas-tahun 1964. Setahun kemudian Bung Karno mengajaknya berdansa dalam 
sebuah acara di Istora Senayan.
    Ketika itu Bung Karno bertanya, "Kamu kok lama gak kelihatan? Sombong ya, 
pacaran saja?"
    Heldy ketika itu merasa gugup dan menjawab, "Saya enggak pacaran Pak."
    Enam bulan kemudian Bung Karno-Heldy Djafar menjadi pasangan pengantin 
dengan beda usia 48 tahun. Ketika itu Heldy masih gadis ranum berusia 18 tahun. 
Pernikahan dilakukan di Jakarta pada tanggal  11 Mei 1966. Sayangnya, 
perkawinan tersebut hanya berusia 2 tahun. Heldy menjadi kian sulit untuk 
bertemu dengan suaminya, karena Bung Karno masuk tahanan di Wisma Yaso. Heldy 
pun menjadi janda dalam usia yang sangat muda.
    Dalam masa itu ungkapan Bung Karno dalam sebuah surat yang ditulis di atas 
kertas putih yang kini sudah mulai buram dimakan waktu. Tulisann di 
atasnya-dalam huruf  sambung yang indah- masih jelas terbaca:
    "Dear Dik Heldy,
    I am sending you some dollars, Miss
    Dior, Diorissimo, Diorama.
    Of course, also my love.
    Mas"
    Surat ini menyertai kiriman uang dan beberapa botol parfum dikirim Bung 
Karno dari tempat penahanannya di Wisma Yaso-Jakarta kepada Heldy Djafar.
    Perkawinan Bung Karno-Heldy Djafar ini tak bayak diketahui orang, namun 
sebenarnya Heldy merupakan salah satu wanita yang dinikahi secara resmi oleh 
Bung Karno selain Utari Tjokroaminoto, Inggit Garnasih, Fatmawati, Hartini, 
Yurike Sanger, Haryati, Kartini Manoppo, dan Ratna Sari Dewi.
    Jika Utari Tjokroaminoto adalah putri pahlawan nasional kita Tjokroaminoto 
dan kita ketahui kini Maya Estianti-mantan istri Ahmad Dhai merupakan cicit 
dari Utari dan siapakah Heldy Djafar?
    Heldy Djafar, selanjutnya menikah lagi dan mempunyai anak yang kini kita 
kenal sebagai ibu dari Maya (mantan istri Ari Sigit Soeharto).
    Yang akan saya garis bawahi adalah, entah kebetulan atau tidak, bahwa sosok 
seseorang yang terlahir dari orang tua atau leluhur yang mempunyai nama besar, 
barangkali akan menjadi biasa bila seseorang itu mempunyai nama besar. Namun, 
akan menjadi sesuatu yang luar biasa, bila seseorang itu menjadi besar dan 
terlahir dari orang yang biasa-biasa saja.
    Ya, meski hal tersebut sesuatu yang tidak mudah, namun tidak menutup 
kemungkinan bukan kalau, saya, Anda dan kita kelak menjadi orang-orang yang 
mempunyai nama besar.
    Sumber gambar: tribunnews.com

Kirim email ke