Ada Cina di Bordir Tasikmalaya  Senin, 23 April

TEMPO.CO, Jakarta - Sulaman yang dipakai di pelaminan dan pakaian adat 
Minangkabau, kemudian sulaman atau bordir Tasikmalaya hingga sulaman beberapa 
daerah lain di Indonesia, secara tidak langsung terinspirasi atau mendapat 
pengaruh dari Tionghoa atau Cina. Sulaman Indonesia memiliki ciri-ciri sebagai 
berikut.

1. Ragam hias menggunakan pola-pola yang bisa dijumpai pada barang-barang 
porselen, perak, keramik, pakaian jubah kekaisaran, dan sebagainya.

2. Ragam motif sulamannya antara lain ular naga, p'u-tzu atau burung kuang atau 
burung Phoenix, kiling atau lambang campuran seekor binatang yang bentuknya 
perpaduan badan rusa, ekor sapi, dahi serigala, dan ladam kuda dengan rambut 
dan sisik berwarna lima. 

Dalam sebutan Tionghoa, yang jantan adalah Ki dan betinanya disebut Ling. 
Selanjutnya motif atau ragam hias singa, pilinan awan, mutiara berlidah api, 
swastika atau banji, bunga peony, bunga krisan, bunga pakis, kembang goyang, 
melati, mawar, dan kenanga.

3. Warna-warna dasar yang digunakan memiliki perlambang, seperti merah 
melambangkan kegembiraan yang sering dipakai di pesta, berani, dan tahan uji. 
Warna sulaman kuning, hijau, biru, dan pemakaian warna benang emas.

4. Pemakaian bahan dasar yang dipakai adalah kain sutera, satin, menggunakan 
benang sutera, wol, emas, dan perak.

5. Teknik penyulamannya menggunakan teknik yang sama persis untuk mencapai 
karakter yang diinginkan. Tiga teknik menyulam yaitu suji cair atau kepalo 
samek terbuka seperti sulaman khas Pesisiran, suji kepalo samek tertutup yang 
biasa didapat di Kota Gadang, dan suji batakaik yang tersebar di seluruh daerah 
di Indonesia. 

HADRIANI P

Kirim email ke