----- Original Message -----
From: ASAHAN

Tanggapan atas tanggapan;

Menurut Maria Hartiningsih, karya Putu Oka Sukanta (saya singkat saja POS 
sesuai dengan singkatan yang dibuat pengarangnya sendiri), "ISTANA JIWA"-nya 
POS adalah sebuah novel sejarah. Baik. Kita terima sebagaimana adanya. Dari 
tanggapan Maria Hartiningsih ( wartawan Kompas) ,kita dengan mudah mendapat 
kesan bahwa POS dalam novel sejarahnya ini menumpahkan semua beban perempuan 
yang menderita penindasan ideologi para suami mereka sebagai pengikut atau 
anggota Partai Komunis Indonesia. Kalau ada yang pernah membaca novel N.H. Dini 
"PADA SEBUAH KAPAL" orang akan cepat mengasosiasikan beban para perempuan POS 
ini dengan dengan sebuah episode yang cukup panjang yang digambarkan Dini 
bagiamana seorang perempuan istri seorang kader PKI menderita akibat polah sang 
suami yang tidak mampu bersikap wajar terhadap istri dan bahkan sangat pelit, 
tidak tahu diri, tidak tahu psikologi perempuan, singkat kata bahwa orang 
Komunis atau suami Komunis  adalah para suami yang tidak ideal, bukan suami 
yang mampu membahagiakan istri, suami yang kaku, tidak romantis dan bahkan 
tidak sopan. Begitu lancarnya N.H. Dini mengutuk suami Komunis dalam novelnya 
tsb, begitu agitatifnya seolah dia adalah seorang annggota Agitprop (Agitasi 
Propaganda) PKI yang kembali mengutuk PKI karena tidak bisa memproduksi 
suami-suami atau pacar-pacar yang romantis dan tahu diri. Menurut Dini, para 
lelaki PKI itu sudah bukan saja cacad dibidang ideologi tapi sudah menjadi ras 
tersendiri, ras khusus yang tidak mampu dan tidak pantas jadi suami para 
perempuan. Tapi kelemahan N.H. Dini dalam novelnya sendiri itu adalah karena 
dia memerankan dirinya sebagai perempuan nyinyir yang itu dia artikan sebagai 
seorang feminis yang agressif anti bersuami orang Komunis, padahal yang 
sesungguhnya dia maksudkan adalah suaminya sendiri yang orang Perancis yang 
gagal total mendirikan rumah tangga dengannya dan lalu dia menyalahkan orang 
PKI.

Lalu bagaimana dengan POS?. Secara kaliber, tentu kaliber Putu sebagi pengarang 
sedikit lebih di bawah Dini. Dini lebih pandai bikin novel, lebih berpengalaman 
dan dia perempuan yang bicara rentang perempuan meskipun banyak salah dan 
bahkan beracun. Tapi sebagai tukang cerita yang pandai nyinyir dan juga judes, 
Dini punya kaliber tersendiri sebagai penulis novel. Terus terang  saya suka 
membaca karya-karya N.H. Dini. Bahwa dia anti komunis, biarkan saja, karna 
"memang dari sononya sudah gitu". Tapi Putu berasal dari orang Lekra,"dari 
sononya sudah lain" dan sekarang (sesudah menerima pendidikan dari suharto di 
Pulau Buru) dia ingin lain, ingin seperti Dini dalam hal mencela para suami 
yang jadi Komunis. POS ingin mengatakan pada banyak orang bahwa ideologi 
Komunis yang dalam hal ini ideologi PKI banyak merusak rumah tangga, melecehkan 
para istri-istri mereka  sebagai manusia kelas tiga karena ideologi Komunis 
yang berdominasi dalam rumah tangga sebagai idelogi penjajah perempuan dan 
anak-anak mereka: para istri jadi korban kekuasan para lelaki, anak-anak 
kehilangan masa kanak-kanak mereka karena ditinggal ke pulau Buru dan masuk ke 
penjara-penjara( seolah para suami mereka ingin bertualang ke Pulau Buru dan 
ingin menikmati masa bujangan mereka kembali di pendjara-penjara). Dan semua 
itu menurut Putu adalah kesalahan ideologi Komunis, kesalahan para suami dan 
bukan bukan kesalahan suharto. suharto hanya sebagai guru bagaimana cara 
membebaskan diri dari ideologi Komunisme dan agar bisa menjadi suami yang 
baik.Lantas apa bedanya antara N.H. Dini dengan Putu Oka Sukanta?. Bedanya 
hanya soal kaliber kepengarangan mereka. Karenanya POS ingin membesarkan 
kalibernya sendiri dengan cara bikin novel sejarah yang banyak direstui orang 
terutama oleh para penganut ideologi Sosial Demokrat (Sosdem) yang di arena 
Internasional  Putu ditemukan oleh  "Goethe hause" sekarang ini. Apakah Putu 
yang sudah punya profesi sebagai ahli tusuk jarum merasa kurang memadai 
pendapatannya?. Jelas tidak. Itu sudah sebuah profesi yang sangat mendingan, 
tapi dia ingin rejeki yang lebih besar lagi dengan cara menusuk PKI dan Gerwani 
dengan jarum jarum karya sastranya yang berisi racun yang semakin kental. Kita 
ikuti terus... sinyal kuat "black campaign"Putu Oka Sukanta.
ASAHAN.


----- Original Message -----
From: putu oka
Sent: Thursday, April 26, 2012 3:03 AM
Subject: MARIA HARTININGSIH bedah Istana Jiwa


Sahabat yang baik,
Ada 4 empat makalah yang ditulis untuk Bedah Buku Istana Jiwa tgl. 24 April 
2012 di Goethe Haus Jakarta.Saya akan kirimkan ke empat makalah tersebut, 
berturut-turut mulai hari ini.
Selamat membaca.

Istana Jiwa, Antara Ideologi dan 'Sisterhood'

Maria Hartiningsih*)

1. Istana Jiwa, adalah sejarah yang ditulis dalam bentuk novel. Kisahnya 
didasarkan pada kenyataan hidup para tokohnya. Novel ini memberikan gambaran 
sangat jelas bagaimana ideologi, meski tujuannya ideal, dalam kenyataannya, 
selalu berkait dan berkelindan dengan kekuasaan dan relasi kuasa, dalam hal ini 
antara laki-laki dan perempuan.

2. Istana Jiwa memapar kisah-kisah keluarga yang ditinggalkan suami atau ayah 
yang dituduh tersangkut peristiwa G-30S dan harus berpisah dengan keluarganya 
dalam waktu tak terhingga.

3. Ketika para suami begitu aktif dalam partai untuk tujuan masyarakat 
sejahtera tanpa kelas, para istri mendukung penuh, bahkan kehidupan berkeluarga 
itu awalnya disatukan oleh perjuangan ideologi yang sama. Kisah keluarga Pak 
Rampi, menurut saya, sangat menarik. Pak Rampi adalah anggota partai, istrinya, 
Ibu Suri adalah mantan aktivis Gerwis, cikal bakal Gerwani, dan anaknya, Maria, 
adalah anggota CGMI.

4. Ibu Suri tampaknya melestarikan esensialisme dan mengukuhi "kodrat 
perempuan". Terjadi division of labour, laki-laki pergi berpolitik di ruang 
publik, istri hanya mengurus anak-anak dan rumah tangga. Pak Rampin mengukuhi 
ideologinya sebagai kebenaran tunggal untuk mencapai kesejahteraan dalam 
masyarakat tanpa kelas. Tetapi di dalam rumah ia melakukan diskriminasi dan 
menempatkan istrinya sebagai warga kelas dua di rumah, hanya bergulat dengan 
urusan domestik.

5. Pak Rampin menganggap ideologi politiknya adalah kebenaran tunggal dan yang 
paling utama dalam hidupnya. Di rumah ia sangat berkuasa. Seluruh aturan di 
rumah berjalan di atas aturan baku yang ditentukan sepihak, hanya oleh Pak 
Rumpin. Suara anggota keluarga, khususnya Ibu Suri dan Maria, dibungkam. Namun, 
keyakinan pada cita-cita ideologi juga yang membuat Ibu Suri terlarut dalam 
kesadaran palsu (false consciousness), dan menegasikan dominasi Pak Rampin 
dalam keluarga.

6. Buku ini memaparkan bagaimana laki-laki meletakkan seluruh identitasnya pada 
ideologi politiknya. Pada Pak Rampi, cinta keluarga tak ada artinya 
dibandingkan cita-cita ideologinya. Keluar dari tahanan, ia terus hidup dalam 
mimpi-mimpi besar ideologinya, tak bisa berpijak pada kenyataan dan tak mau 
beradaptasi dengan kondisi riel yang harus diterimanya.

7. Sebaliknya, Ibu Suri mampu beradaptasi dengan situasi seburuk apa pun, dan 
mengukir sejarahnya sendiri. Perjuangannya bangkit secara ekonomi adalah 
perjuangan mengembalikan martabatnya sebagai manusia. Barangkali hal ini bisa 
disebut sebagai perwujudan 'politik tandingan' dari perempuan untuk meluruhkan 
ketidakadilan dengan perjuangan untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Orientasinya 
tanggungjawab dan kecintaannya akan kehidupan.

8. Pak Rampin yang menganggap istri ibarat 'swarga nunut neraka katut', 
terkejut dengan 'pemberontakan' sang istri. Ia merasa eksistensinya sebagai 
laki-laki 'kepala keluarga' dilangkahi dan diremehkan. Bagi tokoh politik yang 
sangat disegani pada masanya, situasi seperti itu tak bisa diterima.

9. Perasaan frustrasi dan dendam - karena kehilangan kebanggannya sebagai 
ideolog partai, sekaligus perasaan direndahkan di dalam keluarga dan dendamnya 
pada penguasa -- menjerumuskan hidupnya.

10. Ia tak bisa lagi berdamai dengan keadaannya. Ia melakukan kekerasan fisik, 
melalui tamparan, dan kekerasan psikologis terhadap istrinya dengan berbagai 
tuduhan, kemudian minggat.

11. Dalam kasus lain, Maruto tetap menerima istrinya Ninuk, yang sejak 
ditinggalkan di Pulau Buru, telah dua kali menikah dan memiliki tambahan dua 
anak - anaknya tiga dengan anak dari Maruto. Di antara dua gambaran ekstrim itu 
terdapat gambaran yang tak kalah menyayat yang bisa dibaca pada hal 286 -289.

12. Juga ada gambaran menarik tentang agama dan ideologi. Agama tampaknya 
merupakan 'senjata pamungkas' untuk menyatukan atau menceraikan, tergantung 
persamaan dan perbedaan agama. Pengaruh agama yang merupakan keimanan personal, 
tampaknya melampaui ideologi. Ini tampak pada hubungan Maria dan Lasono. Meski 
pun sama-sama anggota organisasi mahasiswa pendukung Soekarno (GMNI dan CGMI), 
agama tetap menjadi penghalang hubungan mereka.

13. Pada hubungan Maria dan Antón, agama yang sama menguatkan perjuangan 
cita-cita ideologi mereka. Bedanya dengan hubungan ayah-ibunya, hubungan Maria 
dan Antón terkesan setara. Meski Maria masih mengukuhi elemen-elemen 
konservatif tentang kodrat perempuan, ia juga memperjuangkan hak-haknya sebagai 
pekerja dan warganegara.

14. Gambaran yang sangat kental dari novel ini adalah kisah tentang sisterhood 
atau persaudaraan antar perempuan. Seperti dijelaskan bell hooks (1993), 
sisterhood terbangun atas kesadaran terjadinya bentuk-bentuk penindasan 
didasarkan pada kelas sosial yang luas.

15. Solidaritas politik yang membentuk sisterhood tampak pada anak-anak 
keluarga korban. Itu pula yang menggerakkan Maria dan keluarga korban mendukung 
perjuangan mahasiswa Mei 1998. Mereka memasak dan mengirimkan nasi bungkus 
kepada mahasiswa. Di dalam nasi bungkus itu mereka menitipkan cita-cita 
bersama: menurunkan Soeharto dan rezim Orde Baru. Inilah salah satu bentuk 
'politik tandingan' dari perempuan. Sejarah baru diciptakan perempuan dengan 
'tindakan bermakna' untuk menolak ketidakadilan.

16. Namun, bell hooks juga mengingatkan, sisterhood tidak berada di ruang 
kosong. Braten (1995) menambahkan, solidaritas harus dibangun dari komunikasi 
terbuka. Pengalaman perempuan yang beragam menjadi faktor penting dalam 
solidaritas.

17. Maka, solidaritas patah dalam hubungan antara Maria dengan Rakyati dan 
anaknya Fajar Rampindo. Rakyati dipertemukan oleh kesamaan nasib dan ideologi 
dengan Rampin, ayah Maria, setelah Rampin tak mampu menyesuaikan diri dengan 
kehidupan keluarganya. Keduanya menikah. Rampin meninggalkan Ibu Suri yang 
kemudian meninggal dalam kesedihan. Maria yang kecewa sekaligus marah pada sang 
ayah, melampiaskannya pada Rakyati dan Fajar, meski pun Rakyati bisa 
memahaminya.

18. 'Istana Jiwa' berhenti di situ. Terasa mengambang. Begitulah hidup, dan 
begitu pulalah akhir kisah yang dipilih penulisnya. Namun 'Istana Jiwa', telah 
melengkapi sejarah dari perspektif korban kekerasan politik. Kehancuran 
keluarga dan bagaimana perempuan mempertahankan hidup dirinya dan anak-anaknya 
di masyarakat yang menghukum mereka dengan berbagai stigma pasca G-30S, tak 
pernah ada tempatnya dalam Sejarah Nasional; sejarah sebagai 'His-story'. Kita 
yang wajib mencatat 'Her-story'. Selamat untuk Pak Putu.

----------------------------------------------------------

*) Maria Hartiningsih, wartawan Kompas. Ditulis untuk bedah buku 'Istana Jiwa' 
Karya Putu Oka Sukanta, Jakarta 24 April 2011.
http://jakartametronews.blogspot.com

Kirim email ke