http://www.hidayatullah.com/read/22478/02/05/2012/guntur:-gerakan-%E2%80%9Cindonesia-tanpa-liberal%E2%80%9D-bentuk-phobia-asing.html
Guntur: Gerakan “Indonesia Tanpa Liberal” Bentuk Phobia Asing
Rabu, 02 Mei 2012
Hidayatullah.com – Aktivis Islam Liberal Mohamad Guntur Romli mengkritik
kehadiran gerakan #Indonesia Tanpa Liberal. Baginya gerakan seperti ini adalah
sebuah bentuk phobia (ketakutan) terhadap istilah – istilah asing. Menurutnya
kata liberal dalam arti definisi sederhana adalah hak individu. Termasuk hak
asasi manusia adalah hak yang liberal.
“Kalau ada orang pakai jilbab, kemudian dia harus masuk kerja, kemudian dia
dipaksa untuk menanggalkan jilbabnya, kemudian dia menggugat bahwa ini adalah
hak saya menggunakan jilbab, itukan definisi liberal. Sekarang pertanyaannya,
Indonesia Tanpa Liberal’ lhoh maksudnya yang mana?,” jelas Guntur dalam seminar
umum “Paradigma Feminisme di Indonesia” yang diadakan Komunitas Mahasiswa
Filsafat Universitas Indonesia (KOMAFIL UI) hari Selasa, (o1/05/2012) kemarin.
Menurut mantan pembawa acara program “Kongkow Bareng Gus Dur” di KBR68H Jakarta
ini, ketika seorang punya hak untuk memberikan suara secara individu, tidak
dibedakan dari kelas sosial, ekonomi. Satu orang satu suara itu adalah hak
liberal.
“Berarti orang ini tidak paham apa itu gender, apa itu feminisme, apa itu
liberalisme, apa itu demokrasi. Ada penyakit, mungkin karena asing sudah
dianggap bertentangan dengan Islam,” tambahnya.
Guntur menyakini, bahwa banyak hal bisa dilihat secara harmoni dan damai yang
harus diusahakan melalui diskusi terus menerus dan menjauhkan diri dari klaim
merasa paling benar.
Selain mengkritisi gerakan Indonesia Tanpa Liberal, alumnus Pondok Pesantren
al-Amien Prenduan, Sumenep, Madura ini juga mengkritik Bung Karno, mantan
Presiden Pertama RI sebagai sosok laki – laki yang ironi dan memposisikan
perempuan sebagai boneka.
Guntur mengutip dari buku Bung Karno yang berjudul “Sarinah”. Di mana dari buku
ini Guntur berkesimpulan bahwa Bung Karno memiliki pandangan yang sinis
terhadap feminisme.
“Ketika bicara soal perempuan, tentu saja Soekarno terjebak dengan kodrat, laki
– laki adalah memberikan zat untuk anak, perempuan menerima, melahirkan,
menyusui, dan memelihara anak itu adalah ide Soekarno” jelas salah satu anggota
Jaringan Islam Liberal ini.
Menurut Guntur, seorang perempuan sempurna bagi Soekarno adalah seorang ibu,
seorang istri, seorang kawan dalam perjuangan. Yang dalam kenyataannya Soekarno
adalah seorang penganut poligami. Jadi ketika Bung Karno pernah mengkritik
seorang kawannya yang memuliakan istrinya, Soekarno justru menganggap perempuan
seperti boneka.
“Bagi saya Soekarno itu menganggap perempuan boneka, boneka yang bisa
ditampilkan, boleh diajak dansa dan segalanya, tapi dia tidak pernah hirau
dengan perasaan istri – istrinya itu. Terutama istri pertamanya Ibu Fatmawati,
setelah memilih poligami, Ibu Fatmawati tidak mau hidup bersama dengan Soekarno
dan memilih hidup di luar Istana,” jelas laki – laki yang pernah menulis buku
“Membela Pluralisme” (2005) ini.*
[Non-text portions of this message have been removed]