Kampus Serang Balik Marzuki
TEMPO.CO – 09-05-2012
TEMPO.CO, Jakarta - Pengamat politik Universitas Gadjah Mada, Ary Dwipayana, 
menilai pernyataan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Marzuki Alie--yang menuding 
orang pintar dan perguruan tinggi sebagai biang korupsi--adalah salah arah. 
"Korupsi itu diciptakan karena ada peluang dalam struktur politik dan hukum 
yang tak jalan, bukan karena persoalan sekolahnya di mana," katanya kepada 
Tempo, Selasa 8 Mei 2012 kemarin.

Pernyataan itu disampaikan Ary menanggapi pidato Marzuki dalam acara diskusi 
”Masa Depan Pendidikan Tinggi di Indonesia” di kampus Universitas Indonesia, 
Depok, Jawa Barat, Senin 7 Mei 2012. Dalam pidatonya, Marzuki menyebutkan, 
"Koruptor adalah orang-orang pintar. Mereka bisa dari anggota ICMI, anggota 
HMI, lulusan UI, UGM, dan lainnya." (Baca: Marzuki Alie Kesandung Pernyataan 
'Koruptor' dan Sebut Banyak Koruptor Lulusan UI, Marzuki Digugat)


Ary menilai ucapan Marzuki itu merupakan upaya melawan opini publik terhadap 
DPR. Citra para politikus Senayan terus melorot karena makin banyak anggota DPR 
yang terjerat kasus korupsi. "(Ucapan Marzuki) termasuk counter atas kegagalan 
partai politik yang menjadi bagian utama dari perilaku korupsi itu," ujarnya. 
Dia meminta Marzuki sebagai Ketua DPR melakukan refleksi, melihat ke dalam DPR 
dan partainya.


Peneliti Indonesia Corruption Watch, Donald Fariz, mengatakan perilaku korupsi 
sudah membudaya di kalangan anggota DPR. Dalam catatan ICW, selama lima tahun 
terakhir banyak legislator Senayan yang terseret kasus korupsi. Yang terekspos 
luas ke publik sudah lebih dari 40 orang, dan mungkin bakal berlipat seiring 
dengan penyelidikan Komisi Pemberantasan Korupsi. "Perilaku korupsi di DPR saat 
ini sudah sangat mengkhawatirkan," kata Donald.


Saat ini ada sejumlah kasus yang akan menyeret beberapa politikus. Kasus 
korupsi Wisma Atlet SEA Games, misalnya, sudah menyeret nama Muhammad 
Nazaruddin dan Angelina Sondakh sebagai terpidana dan tersangka. Politikus 
Partai Demokrasi Perjuangan, I Wayan Koster, juga disebut Nazaruddin kecipratan 
uang korupsi. Tahun lalu ada sederet nama anggota DPR yang terjerat kasus suap 
mantan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Miranda Swaray Goeltom.


Donald yakin DPR adalah ladang korupsi. Puluhan anggota Dewan yang diseret 
hukum saat ini baru sebagian kecil dari banyak anggota DPR yang bermasalah. 
"Yang terekspos ke publik itu hanya yang kurang beruntung," Donald menambahkan.


Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso menganggap pernyataan Marzuki sebagai cermin 
kegalauan anggota Dewan Pembina Partai Demokrat itu atas maraknya kasus 
korupsi. "(Itu) kegalauan atas maraknya korupsi yang menimpa siapa saja, alumni 
mana saja," katanya. (Baca: Priyo Budi: Masak Marzuki Ceroboh Gitu)


Menanggapi itu, Ketua DPR Marzuki Alie tidak akan mempersoalkan gugatan dari 
pengacara publik David Tobing atas ucapan Marzuki yang menyebut bahwa koruptor 
bisa saja berasal dari organisasi atau perguruan tinggi seperti Universitas 
Indonesia (UI) dan Universitas Gadjah Mada (UGM). 


"Biarkan saja, kalau orang nuntut itu biasa saja. Siapapun tak bisa mengadili 
siapa saja karena pemikirannya," kata Marzuki saat dihubungi Tempo, Selasa, 8 
Mei 2012. 


Menurut Marzuki, apa yang disampaikan saat menjadi pembicara di UI, Senin 7 Mei 
2012 pagi bukan sesuatu yang tendensius. "Saya memang diminta mengkritisi 
prilaku korupsi." (Baca: Digugat Soal UI dan UGM, Jawaban Marzuki Alie)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke