Ref: Traffic control tahu bahwa gunung di daerah pegunungan tsb tingginya  
lebih dari 2000 m, mengapa mengizinkan untuk terbang  pada 1800 m.  Flight 
recorder atau lazim dikenal dengan nama  Black Box didesign untuk memancarkan 
signal posisinya selama 30 hari bila berada 6000 m dibawah permukaan air. 
Contoh “black box” sekalipun warnanya merah, seperti gambar dibawah ini :

 

An example of a flight data recorder; the underwater locator beacon is the 
small cylinder on the far right. (English translation of warning message: 
FLIGHT RECORDER DO NOT OPEN)

http://epaper.tempo.co/PUBLICATIONS/KT/KT/2012/05/12/ArticleHtmls/ALASAN-MENARA-IZINKAN-SUKHOI-BERMANUVER-12052012001006.shtml?Mode=0#

ALASAN MENARA IZINKAN SUKHOI BERMANUVER 
TANGERANG 






Spekulasi diizinkannya Sukhoi Superjet 100 menurunkan ketinggian dari 10 ribu 
ke 6.000 kaki terungkap. Mulya Abdi, Pelaksana Harian Manajer Umum Menara 
Pemandu Lalu Lintas Udara atau Air Traffic Control (ATC) Bandara 
Soekarno-Hatta, mengatakan bahwa Sukhoi diizinkan turun karena dinilai aman. 
“Saat Sukhoi meminta izin turun ke 6.000 kaki, pesawat itu berada di kawasan 
Atang Sanjaya,“ kata Mulya kemarin. Itu wilayah aman untuk manuver. Jarak Atang 
Sanjaya dengan Gunung Salak sekitar 12 kilometer. Pesawat Sukhoi Superjet 100 
menabrak tebing Gunung Salak saat melakukan demonstrasi penerbangan Rabu lalu. 
Sebanyak 45 orang berada dalam pesawat itu.

Mulya menjelaskan, pilot Sukhoi tiga kali melakukan kontak dengan ATC 
Soekarno-Hatta. Pertama, saat lepas landas dari Halim Perdanakusuma. Kedua, 
saat izin turun ke 6.000 kaki. Ketiga, saat izin melakukan orbit (memutar) ke 
kanan di sekitar Atang Sanjaya. “ATC mengizinkan karena masih di area aman 
penerbangan,“ katanya.

Ketua Komisi Nasional Keselamatan Transportasi Tatang Kurniadi belum bisa 
menjelaskan penyebab kecelakaan Sukhoi. “Kami terus mencari kotak hitam pesawat 
Sukhoi.“ AYU CIPTA | ANGGA SUKMA WIJAYA | SUKMA TIGA KALI KONTAK, LALU SEPI 
Petugas menara pengendali (Air Traffic Control atau ATC) Bandar Udara 
Soekarno-Hatta tiga kali berkomunikasi dengan pilot Sukhoi Superjet 100 sebelum 
nahas menjemput, Rabu siang lalu. 1. Pukul 14.12 WIB. ATC mengizinkan Sukhoi 
terbang menuju Bogor.
2. Pilot meminta izin menurunkan pesawat dari ketinggian 10 ribu kaki ke 6.000 
kaki. ATC mengizinkan karena pesawat berada di area aman Atang Sanjaya. Jarak 
Atang dengan Gunung Salak sekitar 8 mil.
3. Setelah menurunkan ketinggian, pilot Sukhoi meminta persetujuan orbit 
(berbelok memutar) ke kanan di sekitar kawasan Atang Sanjaya.
4. Sekitar 20 menit kemudian, ditetapkan pesawat lost contact. CUACA Badan 
Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mengatakan cuaca di Bogor dan Gunung 
Salak pada Rabu aman untuk penerbangan. Tapi Lembaga Penerbangan dan Antariksa 
Nasional mencatat, dari satelit terpantau awan kumulonimbus yang rapat sampai 
70 persen menjulang tinggi sampai 37 ribu kaki (11,1 km).
DATA KORBAN: Pukul 10.00 WIB, di lokasi kecelakaan di lereng Gunung Salak, 
Sukabumi, pada ketinggian 5.800 kaki, Tim SAR menemukan 12 jasad korban.

AYU CIPTA | SUBKHAN | EVAN | JOBPIE 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke