Analisis Politik
Memimpikan Pemimpin yang Bukan Pemimpi
| Laksono Hari W
KOMPAS/HENDRA A SETYAWANJ Kristiadi Pengamat politik dari CSIS,
Oleh J Kristiadi

”Perlu waktu puluhan juta tahun untuk membentuk gugusan terumbu karang dan 
mencuatkannya ke permukaan bumi sebagai pegunungan karst. Sebaliknya, bagi 
pabrik semen, hanya butuh puluhan tahun untuk menghancurkan dan mengubahnya 
menjadi mesin uang”

(Pidato Presiden dikutip ”Kompas”, Jumat, 4 Mei 2012, hal 33).

Namun, di halaman yang sama Kompas mencatat, setelah delapan tahun berlalu, 
gaung yang coba digemakan Presiden pun mulai meredup. Isu pelestarian karst 
dianggap tak menarik. Intinya, peringatan Presiden sebagai pemegang kekuasaan 
pemerintahan tertinggi agar harta karun dijaga demi kelestarian lingkungan 
harus tunduk pada nafsu keserakahan. Dalam waktu yang sangat singkat, mesin 
uang telah memorakporandakan anugerah Tuhan yang seharusnya dapat mendukung 
eksistensi bangsa dan negara.

Berita tersebut hanya secuil dari proses penghancuran aset bangsa yang secara 
masif dilakukan para pemburu dan penikmat kekuasaan. Kekayaan negara telah 
menjadi sarana, sasaran, dan obyek untuk membangun oligarki dan dinasti 
kekuasaan. Indikasi paling gamblang adalah semakin merebaknya kasus dugaan 
korupsi melalui ekstraksi kekayaan negara, baik melalui budget maupun berbagai 
kebijakan, oleh jaringan kekuasaan yang semakin terkuak oleh publik.

Oleh sebab itu, meski pemilihan umum presiden masih dua tahun lagi, elite 
politik telah sangat sigap menimang-nimang calon orang nomor satu di Indonesia. 
Sementara itu, kebijakan yang menyangkut kehidupan mendasar masyarakat, seperti 
kemiskinan, pengangguran, dan politik pendidikan dibiarkan terbengkalai. 
Hiruk-pikuk kebijakan bahan bakar minyak (BBM) sejak akhir 2010 tidak kunjung 
jelas nasibnya.

Genderang pertarungan kekuasaan telah ditabuh oleh Partai Golkar dengan 
”memaksakan” pencalonan ketua umumnya. Ketergesaan yang justru mendapat 
perlawanan sengit lingkaran internalnya serta subordinatnya sehingga dapat 
memorakporandakan soliditas partai. Partai politik lain tidak kalah sibuk dan 
kalang kabut mengatur siasat dan muslihat untuk melakukan hal yang sama. Partai 
politik terkadang kesulitan menentukan calon tunggal kandidat yang disepakati 
bersama. Kegaduhan juga diramaikan oleh isu pindahnya tokoh partai yang satu ke 
partai lain. Perang dingin di kalangan internal Partai Demokrasi Indonesia 
Perjuangan mencerminkan kerapuhan konsolidasi partai politik. Sementara itu, 
partai yang juga telah siap adalah PAN dan Gerindra yang masing-masing 
mencalonkan ketua umumnya.

Mencermati hasrat menggebu para elite politik yang terlibat dalam perebutan 
kekuasaan, dikhawatirkan tidak akan menghasilkan pemimpin yang berjuang untuk 
kepentingan rakyat, tetapi para pemimpi yang mengidap epithumia. Bahasa Yunani 
untuk menjelaskan hasrat dan gairah yang didorong oleh nafsu yang bergelora dan 
eksesif, ekstrem, berlebihan, disertai dengan tataran moral primata yang absen 
cita-cita, empati, dan refleksi. Sedemikian menggelegaknya dorongan selera dan 
gelora libido tersebut sehingga sering kali menabrak batas-batas kepantasan dan 
aturan.

Mungkin gejala tersebut mirip fenomena yang oleh Plato dinamakan megalothymia, 
keinginan atau motivasi seseorang untuk diakui eksistensinya sebagai superior. 
Lawannya, isothymia, kebutuhan emosional yang menginginkan keberadaan seseorang 
apabila setara dengan lainnya. Konsep tersebut digunakan oleh Francis Fukuyama 
dalam bukunya, The End of History and the Last Man, untuk menegaskan demokrasi 
adalah puncak dari sistem politik yang beradab karena setiap warga membutuhkan 
pengakuan kesetaraan kedudukan satu sama lain.

Dapat dipastikan mimpi seperti itu akan sangat bertolak belakang dengan mimpi 
masyarakat yang menginginkan hidup yang lebih baik. Para calon pemimpin harus 
dipaksa bermimpi yang nyambung dengan mimpi rakyat. Dalam negara tanpa komandan 
dan arah yang jelas serta nyaris menjadi anarki, rakyat bermimpi mempunyai 
pemimpin yang mempunyai tekad, kebulatan hati, teguh dalam prinsip, kemampuan 
memotivasi rakyat, serta kalau perlu nekat mengambil risiko untuk memberikan 
arah yang jelas dalam perjalanan bangsa mewujudkan cita-cita bersama.

Oleh sebab itu, rakyat Indonesia tidak boleh kalah sigap dengan para elite yang 
mengincar kekuasaan dan kedaulatan milik rakyat. Rakyat harus semakin 
menyadari, meski secara konstitusional rakyat adalah pemegang kedaulatan, dalam 
praktik penyelenggaraan kekuasaan ternyata rakyat hanya kebagian janji para 
elite yang kering prestasi yang memihak rakyat.

Maka, rakyat Indonesia juga harus semakin mewaspadai dan mengantisipasi serta 
mengonsolidasikan diri mencegah terjadinya mimpi buruk akibat ilusi para elite 
yang semakin sulit mengendalikan hasrat instingtifnya mereguk nikmat kekuasaan. 
Kekuatan masyarakat juga tidak boleh kendur melakukan tekanan agar agenda 
negara melakukan pembangunan politik dilakukan dengan prinsip dan pakem yang 
lebih jelas. Kuncinya adalah partisipasi. Tanpa partisipasi penuh dari rakyat, 
mimpi pemimpin akan menjadi mimpi buruk masyarakat.

J Kristiadi Peneliti Senior CSIS

Kirim email ke