Keinginan pengamat sebenarnya berpihak pada pengusaha nasional dan Rakyat, agar perusahaan-perusahaan lokal tidak bangkrut dan pengangguran tidak terjadi. Tetapi apakah bisa pemerintah melakukan pembatasan termasuk melakukan sistem proteksi atas barang-baran tertentu. Persoalannya, sistem perdagangan bebas sekarang ini menjadi kebijakan kapitalis dunia untuk menghindari kebangkrutan mereka. Selain itu, apa yang dinamakan pemerintah terdiri dari para pengusaha yang menja di penguasa dan mereka yang bergantung pada investasi modal asing. Jadi mereka adalah para komprador dan kapitalis birokrat. Dalam hal mencari keuntungan melalui kekuasaan, mereka juga bertindak sebagai calo untuk memasarkan barang-barang dari luar, sehingga yang terpikir oleh mereka adalah komisi dari masuknya barang-barang import, tak peduli dari manapun datangnya, karena Indonesia telah dijadikan 4 sumber bagi kapitalis asing, yaitu a. menjadi sumber pasar bagi produksi kapitalis asing, b.sumber tenaga murah (kalau di dalam negeri mereka jadi penganggur, ya dijual saja untuk dijadikan budak di luar negeri. Untuk itu didirikan PJTKI sebanyak-banyaknya), c.jadi sumber bahan mentah murah (kalau perlu pemerintah biki undang-undang perampokan untuk menguras semua kekayaan alam Inonesia), dan d. para prajurit dan dijadikan penjaga keamanan bagi kepentingan dan produksi modal asing. Bukankah itu semua yang terjadi di negeri zamrud khatulistiwa yang gemah ripah loh jinawe ini?
Salam, nurman. Pada tanggal 09/05/12, [email protected] <[email protected]> menulis: > Pengamat Ekonomi: Batasi Produk Impor China > http://www.gatra.com/terpopuler/46-ekonomi/12246-pengamat-ekonomi-batasi-produk-impor-china > > Jakarta - Pengamat ekonomi dari Universitas Gadjah Mada mengharapkan > pemerintah segera membatasi masuknya produk impor khususnya dari China demi > menjaga kelangsungan hidup industri nasional. > > "Produk China dengan harga yang jauh lebih murah sangat diminati konsumen di > Indonesia sehingga dikhawatirkan akan menggeser produk lokal yang harganya > jauh lebih mahal," kata pengamat tersebut, Rimawan Pradiktyo, di Jakarta, > Selasa malam (8/5). > > Menurut dia, apabila pemerintah tidak melakukan pengaturan terhadap masuknya > produk China, dampaknya akan sangat besar. > > Rimawan menilai produk China bisa mengungguli produk lokal yang harganya > jauh lebih tinggi sehingga konsumen tidak meminati produk lokal, yang pada > gilirannya akan mematikan perusahaan lokal. > > Akibatnya, lanjut dia, banyak perusahaan lokal akan ditutup dan meningkatkan > pengangguran di dalam negeri. Kondisi ini akan mendorong investasi asing > makin berkurang karena mereka mengalihkan dananya ke negara lain yang akan > dijadikan basis produksi. > > Lebih lanjut dia berpendapat bahwa para investor asing kemungkinan akan > menginvestasikan dana di China maupun di Vietnam ketimbang Indonesia sebagai > basis produksi dan mengekspor produknya ke pasar domestik. > > "Minat investor akan berubah karena produsen lebih tertarik berekspansi di > China dan mengekspor barang jadinya ke Indonesia," tuturnya. > > Namun, Rimawan mengemukakan, dengan meningkatnya impor barang konsumsi, > menunjukkan bahwa geliat industri nasional belum terlalu pulih meski ada > tren meningkat dibandingkan tahun lalu. > > "Pemerintah harus memberikan dorongan kepada pengusaha agar industri lebih > bertumbuh. Jika impor makin tinggi dan masyarakat lebih memilih produk > impor, produsen akan beralih menjadi importir," katanya. [TMA, Ant] > > >
