TKI Indonesia Dilarang Lakukan Tugas Berbahaya
TEMPO.CO

TEMPO.CO , Singapura -- Kedutaan Besar Republik Indonesia di Singapura 
menegaskan pembantu asal Indonesia tidak boleh mengerjakan tugas-tugas 
berbahaya, termasuk membersihkan jendela luar di gedung tinggi, seperti 
apartemen.

”Klausul tersebut telah ditetapkan dalam kontrak kerja yang sudah diperbarui. 
Kontrak ini telah ditetapkan dan berlaku juga bagi pembantu yang baru datang,” 
kata Sukmo Yuwono, konsuler KBRI di Singapura, kepada Tempo, Selasa 8 Mei 2012.


Sukmo juga meminta para pembantu rumah tangga asal Indonesia berani mengatakan 
tidak jika mendapat tugas yang membahayakan hidupnya. »Jangan ragu melapor ke 
KBRI,” ujarnya.


Kedutaan Indonesia, menurut Sukmo, pernah memulangkan seorang pembantu yang 
menolak tugas membersihkan jendela di gedung tinggi. »Dia sangat ketakutan. 
Tapi setidaknya dia tetap hidup. Saya kerap menelepon keluarga pembantu yang 
menjadi korban jiwa. Tugas itu sangat berat,” katanya kepada AP.


Sebanyak delapan pembantu asal Indonesia tewas sejak 2011 karena terjatuh dari 
gedung tinggi. Sebelum meninggal, para pembantu tersebut sedang membersihkan 
jendela atau menjemur pakaian. Pembantu asal Indonesia adalah separuh dari 200 
ribu pekerja rumah tangga domestik dari luar Singapura.


Insiden kecelakaan kerja di Hong Kong, salah satu tujuan kerja pembantu asal 
Indonesia, lebih jarang terjadi dibanding di Singapura. Sebab, sebagian besar 
gedung apartemen memiliki jasa pembersihan kaca luar gedung. »Sedangkan di 
Singapura 80 persen penduduknya tinggal di apartemen publik yang tidak 
menyediakan jasa tersebut,” kata Sukmo menambahkan.


Pekan lalu pengadilan mendenda seorang majikan Sin$ 5.000 dan melarangnya 
mempekerjakan pembantu rumah tangga. Hukuman ini dijatuhkan karena pembantu 
yang bekerja kepadanya tewas setelah membersihkan jendela dari lantai lima.
AP | STRAIT TIMES | SITA PLANASARI

KBRI Imbau TKI Jangan Mau Diajak Demo
Antara – 09-05-2012

Kuala Lumpur (ANTARA) - KBRI Kuala Lumpur mengimbau para TKI di negara itu 
jangan mau dibujuk-bujuk atau diajak terlibat dalam unjuk rasa dengan alasan 
apapun.

"Kita harus menyadari bahwa di sini di negeri orang," kata Atase 
Ketenagakerjaan KBRI Kuala Lumpur Agus Triyanto dalam pertemuan dengan para TKI 
di perkebunan kelapa sawit di Negara Bagian Perak Malaysia, Selasa malam.

Menurut dia, keterlibatan dalam unjuk rasa, apalagi yang terkait politik di 
negara lain, hanya akan merugikan TKI.

"Jangan mau karena hanya akan merugikan TKI. Walaupun dijanjikan uang transport 
dan makan, jangan mau," katanya.

Agus juga mengingatkan agar TKI jangan mau diajak masuk organisasi apapun 
karena ada uang iurannya setiap bulan. Lebih baik bekerja secara baik dan tak 
usah mengurusi organisasi apapun.

Hal senada disampaikan anggota DPD RI Parlindungan Purba.

"Kalian ke sini untuk bekerja," katanya.

Parlindungan mengingatkan TKI untuk tidak terlibat kepentingan politik di 
negara setempat dan jangan mau diajak membuat masalah dengan menyerang kelompok 
lain.

"Itu akan merugikan dan tidak sesuai dengan tujuan TKI ke sini untuk bekerja," 
kata anggota DPD RI dari Sumatera Utara yang beberapa waktu lalu juga berperan 
membebaskan para nelayan yang ditahan polisi Malaysia itu.

Hal itu mendapat sambutan baik dari para TKI yang bekerja di perkebunan kelapa 
sawit milik Felda, BUMN Malaysia di bidang perkebunan.

Pada bagian lain, Agus juga mengemukakan bahwa KBRI Kuala Lumpur akan 
menyelenggarakan sidang isbat untuk pernikahan massal TKI. Dengan demikian, TKI 
yang secara agama sudah menjalin perkawinan secara sah, akan dicatatkan secara 
hukum positif.(rr

Kirim email ke