Ref: Alasan pembakaran pos jaga tidak dikatakan, tetapi barangkali dapat
diduga masalahnya terkait sengketa tanah hutan hak ulayat yang diambil tanpa
kompensasi memada atau mungkin juga ada masalah lain. Kalau hutan harapan
isinya pohon-pohon ecalyptus, maka tidak banyak faedahnya bagi penduduk
pedesaan setempat, sebab hutan jenis ini berbeda dari hutan sebelum yang sangat
berguna bagi penduduk, bisa menjadi sumber untuk memenuhi kebutuhan hidup
sehari-hari, diambil hasinya seperti damar, rotan, buah-buahan, berburu
binatang liar etc dan faktor lain ialah melindungi kelembaban tanah yang
berarti sumber air bisa dilindungi. Kalau pohon-pohon ecalyptus ditanam, tak
banyak menguntungkan penduduk, selain kayunya. Tumbuh-tumbuhan lain sukar hidup
di sekitarnya selain sejenis rumput yang kalau tak salah ingat namanya “lalang.
Satu-satu binatang yang bisa hidup dengan pohon ecalyptus ialah “Koala”, karena
binatang ini memakan daun pohon ecalytus. Binatang ini terdapat di Australia.
Pohon ecalyptus ini karena bisa tumbuh cepat maka dibuat perkembunannya untuk
keperluan industri atau juga terkenal dengan istilah “industrial forest. Apakah
hutan harapan adalah hutan industri? Kalau hutan industri maka isinya
pohon-pohon ecalyptus.
Anda sebagai pembaca silahkan tambah penjelasan.
http://epaper.tempo.co/PUBLICATIONS/KT/KT/2012/05/24/ArticleHtmls/Perambah-Bakar-Pos-Jaga-Hutan-Harapan-24052012009022.shtml?Mode=0
Perambah Bakar Pos Jaga Hutan Harapan
JAMBI
Bentrokan juga terjadi di PTPN II Deli Serdang.
Sekitar 70 orang yang diduga sebagai perambah dan pembalak liar di
kawasan Hutan Harapan, yang tengah direstorasi oleh PT Restorasi Ekosistem
Konservasi Indonesia (PT REKI), menyerang dan membakar pos jaga milik
perusahaan itu pada Selasa lalu.
Empat orang petugas keamanan juga babak belur dikeroyok massa. Salah satu
korban, Febrian, kini harus dirawat di rumah sakit setempat.
Direktur Operasional PT REKI, Yusup Cahyadin, kepada wartawan,
mengatakan, saat peristiwa itu terjadi pos jaga itu ditempati oleh 15 orang.
“Sebelum melakukan penyerangan, kelompok perambah menghidupkan chainsaw
(gergaji mesin) dan sengaja membunyikannya keras-keras. Diduga untuk memancing
agar personel kami keluar. Tapi personel belum sempat keluar, warga langsung
menyerang dan membakar pos,“ ujarnya.
Personel PT REKI yang ada di sana tidak berkutik karena kalah jumlah.
Selain itu, massa membawa berbagai jenis senjata tajam seperti parang dan
golok.
Setelah membakar pos, massa langsung mengeroyok personel yang ada.
Kejadian ini diduga terjadi karena warga tidak terima saat personel
perusahaan menyita tiga unit gergaji mesin dan senjata tajam milik perambah
pada Ahad lalu. Selain membakar pos, para perambah menyita telepon seluler
milik petugas keamanan perusahaan.
Kepala Kepolisian Resor Batanghari Ajun Komisaris Besar Robert A. Sormin
mengatakan pihaknya telah terjun ke lokasi kejadian. “Kami sudah meminta
keterangan kepada empat orang personel keamanan PT REKI untuk mengetahui
kronologi kejadian,” katanya.
Sementara itu, Urip Wiharjo, Kepala Departemen Perlindungan Hutan PT
REKI, menyatakan kejadian kekerasan dan teror seperti ini dialami pihaknya
untuk kedua kali. Pada 15 April lalu, terjadi penyanderaan terhadap dua
personel keamanan PT REKI dan satu personel anggota Polres Batanghari.
Bentrokan juga terjadi antara ratusan petani dan petugas keamanan PT
Perkebunan Nusantara II di Dusun Salang Paku, Kecamatan Kutalimbaru, Deli
Serdang, Sumatera Utara, Selasa lalu. Kepala Kepolisian Sektor Kutalimbaru Ajun
Komisaris Robinson Surbakti mengatakan bentrokan itu terjadi sangat cepat.
“Kami menerima laporan bahwa bentrokan terjadi dengan sangat cepat.
Iring-iringan 15 truk mengangkut petugas keamanan PTPN II yang akan melakukan
okupansi di lahan kebun Tunggu Rono dihadang dan langsung dibakar para petani,“
kata Robinson.
Dalam bentrokan itu, empat petani terluka karena terkena bacokan dan
tusukan anak panah.
Sedangkan seorang supir truk PTPN II bernama Zainal Abidin harus
kehilangan jari telunjuk kanan akibat sabetan pedang petani.
Adapun polisi masih berjaga di lokasi bentrokan hingga kemarin.
Robinson Surbakti mengatakan situasi sudah berangsur normal.
Polisi juga masih menyelidiki orang-orang yang diduga sebagai provokator.
“Masih terus kami selidiki,“ ujar Robinson kepada Tempo kemarin. ● SAHAT
SIMATUPANG
[Non-text portions of this message have been removed]