Memenuhi ajakan bung Salim, saya juga sebagai anggota milis diskusi 'Group 
diskusi kita' ingin menyumbang beberapa pendapat dan pikiran saya dalam usaha 
menjawab beberapa pertanyaan bung Salim:

Pertama kali saya mengunjungi Tiongkok (Peking) adalah di tahun 1965 pada bulan 
Juli/Agustus. Ketika itu saya sudah dapat menyaksikan putik-putik Revolusi 
Besar Kebudayaan Proletar (RBKP) yang dipimpin oleh Ketua Mao. Beberapa 
kumpulan para pemuda dan anak-anak di jalan-jalan kota Peking dari barisan 
Garda Merah juga sempat saya saksikan.

Kali ke dua saya mengunjungi Tiongkok adalah di pertengahan tahun 1971 dan kali 
ini berlangsung selama 6 bulan terus  menerus dan sempat menyaksikan dan 
meninjau hampir ke seluruh provinsi Tiongkok yang boleh dikunjungi oleh orang 
asing. RBKP sedang mencapai puncaknya yang saya saksikan dari dekat, langsung 
ke jantung dan darahnya. Tujuan pokok dan dasar dari RBKP adalah menggulingkan 
kekuasaan para kader PKT (Partai Komunis Tiongkok) yang menempuh jalan 
kapitalisme atau menurut istilah Ketua Mao: "menggempur markas besar penguasa 
penempuh jalan kapitalisme". Dan memang sejarah telah membuktikan bahwa para 
penguasa penempuh jalan kapitalisme seperti yang di sasar Ketua Mao dengan 
RBKP-nya adalah betul yang benar-benar ada. Hanya saja sang pemenang adalah 
pihak lawan-lawan Ketua Mao dan RBKP kalah yang telah "diresmikan" setelah 
Ketua Mao wafat di tahun 1976. Tiongkok yang sekarang, seperti yang juga 
disaksikan oleh dunia adalah telah merestorasi kapitalisme dan membangun 
kapitalisme dengan perubahan (terutama di bidang ekonomi) yang begitu dahsyat 
dan menggemparkan dunia.

Di antara kalangan para bekas PKI sendiri (yang di luar negeri)  terjadi 
perdebatan dan perbedaan pendapat tentang Tiongkok sekarang ini. Terjadi 
pendapat pro dan kontra mengenai jalan yang ditempuh Tiongkok. Yang kontra 
mengatakan bahwa Tiongkok sekarang sudah sepenuhnya menempuh dan membangun 
kapitalisme dan membuang jalan solisalis dan  menolak pernyataan PKT yang 
menyebut dirinya sebagai penempuh "sosialisme dengan ciri Tiongkok". Alasan 
yang kontra ini ialah bahwa Tiongkok memberlakukan penghisapan manusia atas 
manusia yang itu sama sekali selalu ditentang oleh sosialisme. Yang Pro adalah 
setuju dengan filsafat Deng siau Ping yang terkenal; "biarkan mereka kaya 
duluan, rakyat kaya belakangan" atau ; "tidak penting kucing hitam atau kucing 
putih, yang penting adalah yang  bisa menangkap tikus".Saya sendiri tidak aktif 
mengikuti perdebatan dan polemik tapi tidak berarti saya bersikap netral dan 
tidak punya pendirian.
Saya setuju dengan RBKP dengan segala kekurangan dan ekses-eksesnya yang juga 
turut saya saksikan sendiri tapi RBKP menurut saya adalah bentuk perlawanan 
yang paling besar yang berskala seluruh negeri terhadap restorasi kapitalisme 
di Tiongkok. Perlawnan tersebut meskipun berahir dengan kekalahan tapi telah 
menunjukkan dan juga memberikan pelajaran besar pada para penguikut ideologi 
sosialisme bahwa perjuangan antara sosialisme melawan kapitalisme akan selalu 
terjadi selama kapitalisme ujud di dunia ini. Persolannya adalah siapa yang 
akan menang dan siapa yang kalah atau siapa mengalahkan siapa. Saya sendiri 
melihat Tiongkok sekarang sebagai percobaan besar yang masih memerlukan waktu 
yang mungkin lama tapi mungkin juga tidak apakah percobaan itu akan berhasil 
atau gagal (katakanlah bila kita percaya bahwa yang ditempuh Tiongkok sekarang 
adalah "membangun sosialisme dengan ciri Tiongkok"). Tapi kalau kita tidak 
percaya, itu berarti bahwa memang Tiongkok membuang sosialisme dan membangun 
kapitaalisme secara penuh dengan ciri apapun. Untuk hal yang belakangan saya  
masih belum bisa menilai Tiongkok sudah sepenuhnya meninggalkan sosialisme dan 
sepenuhnya menempuh jalan kapitalisme. Tapi bahwa kapitalisme sedang dibangun 
dan diberlakukan di Tiongkok, tidak mungkin ditampik, tidak mungkin ditolak, 
tidak mungkin dinafikan. Juga sosialisme yang masih ada dan masih tampak di 
Tiongkok sekarang tidak bisa diabaikan, tidak bisa dihilangkan. Apakah mungkin 
dikatakan: "30 persen sosialisme, 70 persen kapitalisme atau 30 persen diktatur 
proletriat 70 persen diktatur borjuasi ???
Tapi sebagai kesan atau pendapat pribadi saya sendiri, membangun sosialis di 
abad ke 21 sudah sangat sulit atau mungkin akan sangat lambat bila dilakukan 
sendirian tanpa sedikitpun campur tangan kapitalisme. Apalagi bila mengingat 
bangsa Tionghoa adalah bangsa dagang, bangsa yang telah menjadi darah daging 
mereka punya bakat dagang yang besar atau seperti juga pepatah Belanda yang 
mengatakan sudah seperti "hart en nier" adalah bangsa dagang. Kapitalisme di 
Tiongkok adalah kapitalisme bakat alam tapi juga perlawanan terhadap pemerasan 
kapitalisme adalah juga perlawanan bakat alam yang pada gilirannya telah 
melahirkan ideologi sosialisme. Lain halnya dengan bangsa Indonesia yang bakat 
alam mereka adalah bangsa konsumen, bangsa penerima barang-barang yang sudah 
sedia ada, bangsa yang mengertikan "dagang" adalah berarti membeli, berhutang 
hingga meminta. Kapitalisme di Indonesia adalah kapitalisme import yang pada 
pokoknya hanya melahirkaan armada konsumen dan bukan armada kapitalisme baru 
bikinan Indonesia sendiri.

Hari depan PKT saya kira hanya bisa dijawab dengan dua verssi: jawaban 
ideologis dan jawaban politis. Jawaban ideologis, PKT semakin kehilangan 
perannya sebagai Partai Proletar yang mengemban misi membangun masyarakat 
Komunis yang peranan itu semakin meredup dan akan menghilang. Jawaban politis, 
PKT semakin memperlihatkan dirinya sebagai partai embe-embel dalam masyarakt 
kapitalis di Tiongkok sekarang ini. Namun sebagai partai embel-embel, dia belum 
sama sekali kehilangan peranannya karena kapitalisme masih memerlukannya untuk 
alih kekuasaan ke tangaa mereka secara damai tanpa pertumpahan darah. Lalu ke 
manakah Tiongkok akan pergi pada ahir-ahirnya? Itu terserah pada setiap orang 
untuk menjawabnya menurut pandangan politik dan ideologinya masing-masing. Tapi 
menurut pandangan saya sendiri, Indonesia, bila ingin berevolusi, tidak perlu 
meniru atau menempuh jalan revolusi Tiongkok tapi juga kaum revolusioner 
Indoensia jangan sampai memusuhi Tiongkok selama mereka tidak memusuhi kaum 
revolusioner Indonesia, biarkan Tiongkok menempuh jalannya sendiri, itu adalah 
urusna bangsa mereka meskipun kita selalu bisa mengutarakan pendapat kita 
tentang siapa saja termasuk Tiongkok asalkan tidak sampai mencampuri urusan 
mereka. Kita bisa belajar dari siapa saja, dari musuh maupun dari kawan asalkan 
tidak membuta, mengekor seperti kerbau dicocok hidung, apalag hingga dogmatis.
ASAHAN.




Kirim email ke