Ref: Pak Harto orang Jawa tentu saja kental dengan petuah Jawa. Bukan  hanya 
petuah saja, bahkan  bahasa pun demikian, waktu mau ditanya-tanya tentang 
korupsi oleh jaksa, Pak Harto menolak berbicara bahasa Indonesia, tetapi  harus 
ditanya dalam bahasa Jawa, karena dikatakan oleh pengacaranya  bahwa kalau 
ditanya dalam bahasa Indonesia, maka denyut jantungnya bisa bertambah keras dan 
ini  berbahaya bagi kesehatan beliau.

http://www.antaranews.com/berita/314176/pakar-soeharto-kental-dengan-petuah-bernuansa-jawa

Pakar: Soeharto kental dengan petuah bernuansa Jawa
Selasa, 5 Juni 2012 00:07 WIB | 1053 Views

 
Presiden Republik Indonesia kedua, mendiang HM Soeharto (ANTARANEWS)

  Petuah itu di antaranya `orang hidup harus tekun, teken, dan tekan`, `menjadi 
pejabat jangan hanya cari jenang (materi) tetapi carilah jeneng (nama baik), 

Yogyakarta (ANTARA News) - Mantan Presiden Soeharto merupakan sosok yang kental 
dengan petuah bernuansa Jawa yang cukup bermakna, kata pakar filsafat dari 
Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Slamet Sutrisno.

"Petuah itu di antaranya `orang hidup harus tekun, teken, dan tekan`, `menjadi 
pejabat jangan hanya cari jenang (materi) tetapi carilah jeneng (nama baik)`, 
dan `mikul dhuwur mendhem jero`," katanya pada diskusi bedah buku "Pak Harto, 
The Untold Stories", di Yogyakarta, Senin.

Menurut dia, di luar sisi kontroversialnya, Soeharto mememiliki estetika 
kehidupan sebagai seorang presiden yang tidak banyak didengar dan diketahui 
oleh khalayak. 

"Hal itu bisa dilihat dari kisah seorang pengamen Munari Ari yang waktu itu 
suka menumpang tidur di kamar mayat Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). 
Munari hapal pada Rabu dan Jumat setiap pekan Pak Harto melintas kawasan itu 
ketika akan bermain golf," katanya.

Ia mengatakan pada waktu itu muncul gagasan nakal bagaimana caranya Munari bisa 
mendekati Presiden Soeharto. Dengan berbagai cara akhirnya Munari berhasil 
berjajar di tepi jalan raya ketika iring-iringan mobil yang membawa Soeharto 
persis di depan mereka, kemudian mereka melakukan sikap sempurna seraya memberi 
hormat.

Hal itu, menurut dia, rutin dilakukan Munari. Semakin lama dengan sikap Munari 
tersebut justru Soeharto merespons simpatik. Suatu ketika saat melewati depan 
RSCM, mobil berjalan pelan-pelan dan tepat di depan Munari dan beberapa 
kawannya, Soeharto menurunkan kaca mobil.

"Saat itu Munari dan kawannya senang karena direspons Pak Harto, bahkan di lain 
waktu Munari sempat dipanggil ke rumah Mbak Tutut diperkenalkan kepada Pak 
Harto. Hal itu bukti nyata bahwa Pak Harto memang dekat dengan rakyat kecil," 
katanya.

Ia mengatakan, pascaberhentinya Soeharto sebagai presiden, ternyata tidak 
pernah berhenti memikirkan kesejahteraan rakyat. Hal itu disampaikan Hioe Husni 
Wirajaya, pemancing di Kepulauan Seribu yang menjadi rekan memancing Soeharto.

"Setelah merasa kasihan kepada rakyatnya yang masih saja sulit menjalani 
kehidupan di masa reformasi, Pak Harto memiliki ide seribu gerobak dorong untuk 
menjual nasi murah. Hitung-hitungannya dulu setiap pedagang akan dapat untung 
seribu rupiah per bungkusnya, tetapi sayang program itu tidak terealisasi 
karena Pak Harto keburu wafat," katanya.

Mantan Sekretaris Pribadi Presiden Soeharto, Irjen Pol Anton Tabah mengatakan, 
pada waktu itu Soeharto merasa sedih melihat reformasi yang belum banyak 
memberikan manfaat bagi kesejahteraan kepada masyarakat.

"Pak Harto menilai reformasi yang tanpa visi dikhawatirkan akan membawa 
demokrasi yang tanpa arah dan dapat menimbulkan persoalan," katanya.
(B015*H010/M008) 
Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © 2012


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke