http://epaper.tempo.co/PUBLICATIONS/KT/KT/2012/06/10/ArticleHtmls/Labirin-Kekejaman-10062012011011.shtml?Mode=0#
Labirin Kekejaman
Triyanto Triwikromo
Aku tahu ketika saat itu tiba kau akan mencariku. Mirip para penjelajah agung,
kau akan menafsirkan setiap jejak yang kutinggalkan. Tidak gampang, karena
bertahun-tahun aku bungkam, bertahun-tahun aku menyimpan riwayatku di
keheningan lereng gunung, di kesunyian ujung tanjung. Mungkin kau tidak akan
pernah menemukan aku.
Mungkin kau hanya akan memergoki jejak-jejak kaburku.
MEREKA, pada Oktober tanpa tipus atau desen tri, mengetuk pintu se tiap rumah
di Alas, me nangkap, dan menciduk secara sembarangan orang-orang yang dianggap
berkomplot membunuh para jenderal dalam Tarian Harum Bunga di Lubang Buaya.
Para serdadu rahasia yang tidak pernah tercatat dalam kesatuan itu datang
seperti wabah. Malam itu, mereka dengan dingin menembak siapa pun yang berlari
ke hutan. Mereka juga dengan dingin menusukkan bayonet ke lambung orang-orang
malang yang saat diinterogasi menjawab berbelit-belit segala pertanyaan yang
merontokkan keberanian.
Jika kau tidak ingin merasakan kekejaman tiada tara, jangan pernah berharap
bertemu mereka. Baiklah, jika kau tidak percaya, akan kuceritakan apa yang
terjadi pada Magdalena Markini. Hanya karena tidak mau menunjukkan
persembunyianku, Magda, kakak perempuanku, dibakar hidup-hidup, di halaman
rumah.
Sungguh, sebelum dibakar, kusaksikan dari atas pohon rambutan, seorang serdadu
menghajar kepala Magda dengan gagang senapan. Bukan hanya itu. Begitu
tersungkur, serdadu yang lain menginjak kepala rapuh Magda dengan sepatu lars,
sehingga hidung dan mulutnya penyok.
“Kau sembunyikan di mana Elisabet Rukmini, penari pembunuh itu?“ Magda tidak
menjawab. Ia membuat tanda salib dengan menempelkan ujung jari di kening, dada,
dan kedua bahu, sambil berkomat-kamit.
“Jangan menipu kami dengan pura-pura berdoa!“ seorang serdadu menghunjamkan
sepatu lars ke dada Magda, “Bukankah telah lama Tuhan telah kalian bunuh?
Kenapa sekarang pura-pura memuja-Nya?“ Magda tetap bungkam dan sekali lagi
berkomat-kamit. Mungkin dia berharap Kristus akan datang menyelamatkan dirinya
pada saat tak seorang pun berani melawan para serdadu bengis itu. Dan Kristus
memang telah terbunuh, sehingga tak mungkin turun ke bumi hanya untuk
menyelamatkan Magda.
Karena itu, tak ada keajaiban ketika seorang serdadu tiba-tiba berjongkok dan
menyundutkan rokok yang masih menyala ke mata Magda. Magda menjerit, tetapi tak
satu penduduk kampung mendengar suaranya. Mungkin mereka sudah dibakar juga.
Mungkin mereka telah pergi sebelum para serdadu pembunuh tiba.
“Sekali lagi... di mana kau sembunyikan Elisabet Rukmini? Kau tahu apa yang
diperbuat adikmu pada 30 September?” Magda, yang disiksa hanya karena menjadi
kakak seorang yang dianggap sebagai pembunuh para jenderal, menggeleng.
“Kau tahu hukuman orang yang menyembunyikan pengkhianat negara?” Magda tetap
menggeleng.
“Baiklah. Sebentar lagi kau akan tahu apa hukuman yang pas untukmu...” Lalu
seorang serdadu mengguyurkan minyak tanah ke tubuh Magda. Mereka membakar tubuh
indah kakak perempuanku yang senantiasa merasa hidup sehati de
ngan Kritus, tetapi tak pernah mendapatkan pertolongan dari Putra Nazareth itu.
Sebenarnya saat melihat Magda berlari ke sana kemari dengan tubuh penuh nyala
api itu, aku ingin menjerit. Aku ingin setidak-tidaknya bisa mengalihkan
pandangan para serdadu agar mereka tidak terus-menerus menyiksa Magda.Tetapi
niat itu kuurungkan. Aku harus hidup. Kelak aku harus mewartakan kekejaman para
serdadu bengis itu. Aku tidak mungkin bisa menceritakan apa pun kepadamu jika
mereka membunuhku saat itu.
Karena itu, apa boleh buat aku harus menyaksikan tubuh Magda pelan-pelan jadi
abu dan debu. Aku juga tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali menunggu para
serdadu pergi.
Sambil menunggu aku tidak berdoa untuk keselamatanku.Tubuh Magda yang
pelan-pelan meleleh, mata yang tak bisa berteriak saat disundut rokok, atau
bibir yang mengatup saat bayonet ditusukkan ke lam bung itu, bagiku cukup
menjelaskan Kristus berada di pihak mana?
ULAN tidak menyala di ujung B hutan saat aku meninggalkan kampung yang terbakar
itu.
Karena itu, setelah turun dari pohon rambutan, aku berlari menembus jalanan
gelap yang berlawanan dari arah para serdadu pergi. Meskipun demikian, aku tahu
ke mana harus melesat, ke mana harus mencari keselamatan.
Hanya, tidak mudah dalam kegelapan yang teramat pekat, aku menemukan tempat
persembunyian.
Sebab untuk mencapai persembunyian teraman, yakni sebuah gereja di seberang
desa, aku harus menembus puluhan kebun mawar penuh duri, menyeberang sungai
cukup deras, dan menyusup ke gua penuh kelelawar.
Penderitaanku sepertinya melebihi kesakitan Kristus. Agar sampai ke tiang
salib, tiang penyelamatan Allah untuk putra terindah, Kristus memang harus
mengenakan mahkota duri. Tetapi aku? Seluruh tubuhku harus ditancap ribuan duri
runcing agar sampai ke sungai itu.
Cukup lama aku harus terjebak dalam keindahan kebun mawar yang menyakitkan itu.
Cukup lama karena setiap bisa menembus satu kebun, aku harus menembus kebun
mawar yang lain.
Pada saat seperti itu, pikiranku sudah melesat ke gereja. Aku bertemu dengan
Romo Sindhu dan segera memberi tahu segala hal yang telah terjadi pada Magda.
Aku bilang pada paderi santun itu betapa Kristus tidak berkutik di hadapan para
serdadu yang bengis dan begitu digdaya.
Akan tetapi, nyatanya, tubuhku masih terjepit di kebun mawar berduri. Jika
beberapa saat lagi aku bisa melepaskan diri dari jebakan kesakitan dan
keindahan ini, aku juga masih harus berenang di sungai deras dan dingin. Jika
sungai itu bisa kutaklukkan, belum tentu aku bisa menyusup gua tanpa obor.
Jadi, memang rasanya mustahil mewartakan kekejaman serdadu kepada orang lain.
Sebab jika bisa keluar dari jebakan gua, tidak mungkin para serdadu rahasia
dari kesatuan lain membiarkan aku melenggang ke gereja Romo Sindhu.
Meskipun demikian, aku yakin Romo Sindhu menantiku dengan sabar. Romo Sindhu
akan sabar pula mendengarkan seorang perempuan yang terluka mewartakan kabar
tak menggembirakan tentang sebuah kampung yang terbakar dan puluhan warga yang
dihajar serdadu dalam kegelapan.
KU terjun ke sungai tepat ketiA ka puluhan ular keluar dari lu bang
persembunyian. Ular-ular itu hendak bermigrasi ke lubang-lubang lain. Aku tak
bertanya kepada ular mengapa mereka harus berpindah dari hilir ke muara. Dan
karena tidak ingin bersentuhan dengan ular-ular menjijikkan yang hanyut di
permukaan air, aku memilih menyelam dan sesekali menongolkan kepala untuk
menghirup udara.
Rupa-rupanya ular-ular itu tidak disusupi oleh iblis atau Lucifer, sehingga
mereka tidak berhasrat menggoda keturunan Hawa. Bahkan karena pada saat sama
mereka memiliki keinginan lain, sedikit pun mereka tidak berkehendak memagut
atau membelit tubuh manusia yang telah terluka. Karena itu sambil menahan
perih, aku terus menghanyutkan tubuh hingga mencapai ujung, hingga mencapai
bibir gua.
Kau tahu, di bibir gua itu, air tak lagi mengalir dengan deras. Sungai di bawah
gua juga tidak ganas. Ini memudahkan aku melewati jebakan terakhir dengan
sedikit tenang.
Meskipun demikian, aku tidak bo
Nyatanya, tubuhku masih terjepit di kebun mawar berduri. Jika beberapa saat
lagi aku bisa melepaskan diri dari jebakan kesakitan dan keindahan ini, aku
juga masih harus berenang di sungai deras dan dingin. Jika sungai itu bisa
kutaklukkan, belum tentu aku bisa menyusup gua tanpa obor. Jadi, memang rasanya
mustahil mewartakan kekejaman serdadu kepada orang lain. Sebab jika bisa keluar
dari jebakan gua, tidak mungkin para serdadu rahasia dari kesatuan lain
membiarkan aku melenggang ke gereja Romo Sindhu.
leh lengah. Di tengah gua yang dialiri sungai di bawah tanah itu, aku pernah
mendengar dari para penjelajah, ada pusaran air yang bisa menyedot siapa pun
hingga ke kedalaman 20 meter. Jika aku tidak beruntung, bukan tidak mungkin
tubuhku akan tersedot dan akhirnya terjepit di gorong-gorong gua.
Hanya, kau pun tahu, gua tidak akan menyakiti siapa pun yang menjelajah
rongga-rongga tubuhnya jika mereka patuh pada aturanaturan yang seakan-akan
telah diguratkan di dinding-dindingnya.
Pertama, jangan pernah meneriakkan kata-kata konyol ketika berada di zona
kegelapan abadi yang tepat berada di pusat gua. Kata-kata yang kemudian bergema
berulang-ulang itu hanya akan membingungkan dan akhirnya berubah jadi dengung
yang menyiksa telinga.
Jika telinga sudah tersiksa, kau akan bingung, dan akhirnya mencoba menghindar
dengan menyusup ke kedalaman sungai di bawah tanah. Pada saat itulah kau tidak
tahu pusaran air akan menyedot dan menenggelamkanmu.
Kedua, jangan pernah membunuh segala satwa yang ada di dalam gua.
Para satwa sangat peka dan tahu siapa yang berbuat jahat kepada mereka dan
sanak saudara. Jika yang kausakiti seekor ular, ular itu akan menyimpan wajahmu
di matanya. Sanak saudara ular akan bisa melihat wajahmu di mata ular yang
terbunuh sehingga dalam waktu singkat mereka akan memburumu.
Ke ujung dunia kau pergi, ular-ular itu akan menguntitmu.
Ketiga, jangan membawa dan meninggalkan apa pun di dalam gua.
Kau jangan berhasrat memotong stalaktit atau stalakmit, karena pada saat sama
batu-batu runcing itu akan berhasrat menusuk lambungmu.
Karena itu dengan rasa hormat pada segala yang hidup di dalam gua, aku berenang
di sungai bawah tanah itu. Aku hafal lekuk liku gua karena sejak kecil bersama
temanteman sebaya, telah berulang-ulang melintasi keindahan alam berjarak
kurang lebih 350 meter itu untuk sampai ke gereja Romo Sindhu.
Pada waktu kecil, kami seperti menemukan surga ketika bisa menembus gua itu.
Dan selalu sesudah itu Romo Sindhu bilang kepada kami, “Ya, kalian telah
menemukan surga!“, sehingga kami berulangulang berlomba-lomba menuju ke gereja
Romo Sindhu ketika hari Minggu tiba.
Apakah aku akan sampai di ujung gua? Aku tidak tahu. Aku hanya merasa Romo
Sindhu dengan wajah berbinar menyambut kedatanganku.
ULU pada usia 12 tahunan, D setelah aku berhasil menyem bul dari sungai di
bawah gua, Romo Sindhu bertanya kepadaku, “Apa saja yang telah kau lihat di
dalam gua, Elisabet Rukmini?“ “Aku tidak melihat apa-apa, Romo, kecuali
kelelawar dan kegelapan?“ “Kau tidak melihat pahatan tubuh Kristus tersalib?“
“Aku tidak melihat tubuh Kris tus, Romo.“
“Kau tidak melihat tubuh Magda dewasa dibakar oleh para serdadu?“ “Aku tidak
melihat tubuh Magda, Romo.“
“Kau tidak melihat tubuh dewasamu diburu oleh para serdadu?“ “Aku tidak melihat
tubuhku, Romo.“
“Kau tidak melihat semua yang akan terjadi telah diguratkan di dinding gua?“
“Aku tidak melihat semua yang akan terjadi tergurat di dinding gua, Romo.“
“Sungguh?“ “Sungguh, Romo.“
Romo Sindhu tidak marah mendengar jawaban-jawabanku saat itu. Ia mengusap
rambutku dan berbicara lirih sekali,“Kelak kau akan melihat semua yang telah
tergurat di dinding gua jika waktunya telah tiba.“
ALU, apa yang sesungguhnya L kulihat di dalam gua pada Ok tober 1965 yang perih
itu?
Mungkin karena halusinasi, aku seperti melihat tubuhku disalib oleh para
serdadu bengis. Mereka beramai-ramai menusukkan bayonet ke lambung, hingga
tubuhku terku lai, hingga aku tidak mampu berbuat apa pun.
Tidak kupedulikan pahatan-pahatan aneh itu. Aku hanya ingin segera bertemu Romo
Sindhu, paderi yang tampak tidak pernah uzur itu.
Aku hanya ingin tersungkur di halaman gereja dan berharap Romo Sindhu
membopongku sebagaimana Bunda Maria melakukan hal sama pada tubuh Kritus yang
terkulai tak berdaya.
Akan tetapi, nyatanya, aku masih harus melewati sedotan air di zona kegelapan
abadi. Sedotan itu sungguh tidak terhindarkan sehingga tidak ada gunanya
mengingat apa pun yang layak kita sebut sebagai kehidupan. Pada saat kritis
semacam itu, aku hanya percaya pada kata-kata ibuku: ngelia ning aja keli,
ikutilah arus, tetapi jangan sampai hanyut.
Karena itu, aku tidak melawan pusaran air. Kubiarkan tubuhku disedot. Kubiarkan
tubuhku dilemparkan ke permukaan. Kubiarkan arus yang tenang membawaku ke bibir
gua, bibir yang mendekatkan aku pada gereja Romo Sindhu.
KU merangkak untuk sampai A ke pintu gereja. Aku mengetuk keras-keras pintu itu
agar Romo Sindhu bergegas membuka dan membopong tubuhku yang tidak berdaya.
Akan tetapi seperti tak ada kehidupan di gereja itu. Seperti tak ada yang
mendengar ketukanku di pintu yang telah rapuh itu.
“Romo, buka pintu! Tolong aku!“ Tetap tidak ada sahutan dari dalam.
I MANA paderi terindah itu D sekarang? Mengapa dia justru meninggalkan aku pada
saat kubutuhkan? Sebagaimana Kristus meninggalkan Magda, mengapa Romo Sindhu
juga meninggalkan aku pada saat aku begitu berhasrat memohon pertolongannya?
Jawabannya sungguh di luar dugaan. Begitu pintu yang ternyata tidak terkunci
bisa kubuka, aku melihat kepala Romo Sindhu pecah berlumur darah. Matanya yang
mendelik ke arahku seakan menahan kesakitan.
Aku tahu: beberapa orang pasti telah menghajar Romo Sindhu dengan sangat kejam.
Darah juga mengucur dari lambung Romo. Itu berarti seseorang telah menusukkan
semacam tombak atau bayonet atau lembing ke lambung Romo yang rapuh. Dada Romo
juga hancur. Sese orang--mungkin lebih--pasti telah menginjak tubuh ramping
Romo dengan hentakan sepatu lars yang keras.Yang mengejutkan zakar Romo juga
dihabisi. Tampaknya ditembak dari jarak dekat, sehingga zakar itu kocar-kacir.
Kekejaman itu mungkin telah terjadi cukup lama sehingga begitu banyak lalat
merubung mayat Romo Sindhu. Tentu saja aku kehilangan senyum Romo Sindhu.
Mulutnya penyok. Giginya rompal.
Mayat Romo Sindhu memang belum membusuk. Akan tetapi siapa pun yang melihat,
tidak akan sanggup menghindar dari kemualan yang menyodok-nyodok perut. Mayat
itu begitu menjijikkan. Mungkin Kristus pun tidak akan sanggup menahan kematian
yang mengenaskan itu karena para pembunuh menghabisi Romo Sindhu seperti
membantai seekor kambing.
NGKAU mungkin mengira paE ra iblis sengaja berkomplot menyerbu desa itu untuk
membunuh Romo Sindhu. Aku tidak percaya sangkaan semacam itu. Aku punya
kesimpulan lain. Mungkin sebagaimana Magda tidak mau membocorkan di mana
persembunyianku, Romo juga tidak mau menun jukkan di mana umat-umat yang
dicurigai terlibat sebagai pembunuh para jenderal itu berada. Dan karena Romo
Sindhu bungkam, para serdadu itu membunuhnya. Ya, sesederhana itu perkiraanku.
Mungkin dugaanku salah. Akan tetapi jika melihat luka-luka di sekujur tubuh
Romo Sindhu yang teramat mirip dengan luka-luka Magda, aku yakin pembunuh
mereka berdua berasal dari kamp latihan yang sama. Itu berarti jika pembunuh
Magda tak kurang dan tak lebih adalah para serdadu, maka pembunuh Romo Sindhu
pun tak jauh-jauh amat dari lembaga ketentaraan.
Tentu saja jangan kau tanyakan dari kesatuan mana para serdadu itu. Kehadiran
mereka yang bagai wabah jelas tidak tercatat di dokumen mana pun. Para pengadil
kejahatan perang tak akan bisa menghukum para petinggi militer karena memang
tidak ada satu catatan pun yang mampu melibatkan mereka sebagai otak pembunuhan
paling keji di negeri ini.
Lalu, siapa yang membunuh Romo Sindhu? Saat itu tak seorang pun tergerak untuk
menjawab. Jika tahu jawabannya pun, mereka tidak akan pernah mewartakan kabar
pembunuhan itu kepada orang lain. Pengetahuan tentang pembunuhan, kau tahu,
hanya akan berputar-putar di hati dan terkubur bagai mumi.
ADI apa yang bisa kulakukan J saat itu? Tak ada.Tindakan ajaib tidak pernah
dimiliki oleh perempuan rapuh. Kemenangan dan kedigdayaan dikuasai oleh mereka
yang mempunyai senapan dan sepatu lars, sehingga mustahil aku bisa mengubah
dunia hanya bermodal keinginan untuk mewartakan kekejaman para serdadu kepada
orang lain yang telah kehilangan telinga.
Karena itu lebih baik aku tidak perlu berbuat apa-apa. Aku akan pura-pura mati
sehingga ketika para serdadu tiba, mereka tidak perlu capai-capai membunuhku.Ya
ya, ini pilihan cerdas. Sebagaimana macan bodoh yang tak mengendus mangsa tak
berdaya, para serdadu tidak akan menjamahku. Aku tahu para serdadu akan
beringas jika mereka berhadapan dengan mangsa yang juga beringas.
Tetapi untuk pura-pura mati bukanlah pekerjaan gampang. Aku harus bisa mengatur
napas agar tidak menimbulkan deru. Aku harus mengatur detak jantung agar tak
seorang pun mendengarkan bunyinya yang gaduh.
Dan sial, sebisa-bisa kulakoni kepura-puraan itu tetap saja aku gagal menahan
kentut. Entah akibat suara kentut atau memang telah lama para serdadu mengintip
seluruh gerak-gerikku, mereka tiba-tiba muncul dari persembunyian dan beradu
cepat mengepungku.
“Kau tidak perlu bersembunyi lagi! Kau tidak punya lagi kesempatan untuk lari!“
ARI? Ke mana harus berlari?
L Pikiranku mungkin bisa berla ri, tetapi tubuhku mustahil digerakkan untuk
sekadar merangkak. Karena itu, kuputuskan untuk diam saja. Aku yakin begitu aku
mematung, para serdadu akan bergeming. Mereka tidak akan menusukkan bayonet ke
lambungku. Mereka tidak akan menyundutkan rokok ke mataku. Mereka tidak akan
menginjakkan sepatu lars ke wajah sehingga mulutku tidak penyok dan gigi tidak
rompal.
“Namamu Elisabet Rukmini?“ Aku diam.
“Namamu Elisabet Rukmini? Jangan sampai kami salah membunuh!“ Aku tetap diam.
“Sekali lagi namamu Elisabet Rukmini? Kau tak ingin kami membunuhmu bukan? Ayo
jawab?“ Tak ada gunanya menjawab pertanyaan itu.Aku tahu mungkin mereka memang
tidak diperintahkan membunuhku sehingga tidak perlu aku mematuhi gertak sambal
sialan itu.
Pada saat-saat seperti itu aku justru punya kekuatan. Kekuatan meredam amarah.
Kekuatan untuk tidak melawan kekejaman.
Apakah salah tidak melawan kekejaman?
Aku tidak perlu menjawab pertanyaan itu. Dijawab atau tak dijawab tetap saja
salah seorang serdadu menggebuk tengkukku dengan gagang senapan hingga aku
pingsan, hingga aku tak tahu ke mana mereka mereka menyeret tubuhku.
Kekejaman telah menjelma kekuatan yang tidak bisa dilawan, sehingga akan
sia-sialah siapa pun yang berusaha mencekik kedigdayaannya. Karena itu, setelah
siuman, aku tak peduli lagi pada apa pun yang terjadi. Aku tak takut lagi pada
senapan atau sepatu lars yang mengancam. Aku tak takut lagi pada tusukan
bayonet di lambung.
Aku tak takut lagi apakah dalam semenit atau lima menit ke depan aku masih bisa
bernapas atau memimpikan kebebasan.
Sungguh, saat itu aku benar-benar tak takut lagi mendengar hentakan sepatu lars
dan senapan yang dikokang. Aku tak takut pada ketakutan.
Semarang, 20 Mei 2012 Triyanto Triwikromo bekerja sebagai wartawan dan dosen di
Semarang, Jawa Tengah. Buku cerita pendeknya, Ular di Mangkuk Nabi (2009), yang
beroleh Penghargaan Sastra dari Pusat Bahasa; dan buku puisinya, Pertempuran
Rahasia (2010).
[Non-text portions of this message have been removed]