http://www.republika.co.id/berita/kolom/resonansi/12/06/11/m5er1e-fenomena-jilbab-di-kampus-as


Fenomena Jilbab di Kampus AS
Senin, 11 Juni 2012, 03:00 WIB
 
Muslimah Amerika Serikat (ilustrasi)


REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Prof Azyumardi Azra 

Suatu Senin siang, hari terakhir April 2012. Di pelataran Perpustakaan Charles 
E Young, UCLA, sambil menunggu pertemuan dengan Profesor Khaled Abou Fadl dan 
Profesor Poo Nawala, saya mengamati pengunjung perpustakaan yang keluar masuk. 
Sambil iseng, saya menghitung dalam hati jumlah mahasiswi yang menggunakan 
jilbab. 

Selama sekitar setengah jam duduk di pinggir pelataran perpustakaan, saya 
mencatat dalam hati ada empat mahasiswi berjilbab; ada yang berkulit hitam, 
sawo matang, dan juga putih. Empat jelas bukan jumlah banyak; sama sekali tidak 
dapat dibandingkan dengan begitu banyaknya mahasiswi lain yang lalu lalang tak 
berjilbab; atau bahkan berpakaian seadanya karena Los Angeles yang kian panas 
menjelang summer. 

Tetapi, jelas pula, jumlah empat orang tersebut bagi saya sedikit banyak 
mencerminkan pertumbuhan signifikan para pemakai jilbab, yang kelihatan kian 
merata di berbagai kampus universitas AS. Karena, jika saya ingat ketika dua da 
sawarsa lalu saya belajar di kampus universitas AS—dalam hal ini Columbia 
University, New York City—hampir tidak pernah saya saksikan mahasiswi 
berjilbab. 

Meningkatnya jumlah mahasiswi yang me makai jilbab (hijab) bukan kesan saya 
sendiri. Berbagai studi dilakukan peneliti tentang gejala ini, khususnya 
setelah peristiwa 11 September 2001, yang menyaksikan meningkatnya pemakaian 
jilbab di kalangan mahasiswi Muslim di berbagai kampus AS. 

Peristiwa 9/11 yang juga sekaligus meningkatkan sikap antipati di kalangan 
masyarakat lokal Amerika terhadap Islam, Muslim, masjid, mushala, dan simbol 
Islam lain, ternyata berdampak sebaliknya, yakni bertambahnya pengguna 
menyangkut jilbab — bukan niqab atau burqa, tertutup penuh sejak dari ujung 
rambut, muka, mata, sampai ujung kaki. 

Dalam konteks ini, pemakaian jilbab sangat boleh jadi merupakan salah satu 
bentuk politik identitas (identity politics) secara sederhana— tidak berlebihan 
seperti niqab dan burqa, sehingga tidak menampilkan perbedaan mencolok (blatant 
differences) yang dapat memancing mekanisme pertahanan diri masyarakat setempat 
lainnya. 

Meski demikian, tetap saja perlu diajukan pertanyaan; apakah pemakai jilbab 
mengalami pelecehan? Dalam suatu kesempatan lain tahun lalu di sebuah kampus 
universitas terkenal di Cambridge, pernah saya menanyakan hal ini kepada tiga 
mahasiswi. Mereka mengaku belum atau tidak pernah mengalami pelecehan hanya 
karena ia mengenakan jilbab. 

Sebaliknya, mereka sering mendapat apresiasi dari kawan-kawan non-Muslim 
mereka. Boleh jadi karena mereka tinggal di Cambridge atau Boston, 
Massachusetts, yang merupakan kawasan kosmopolitan, yang masyarakatnya sangat 
beragam dan terbiasa dengan perilaku macam-macam. 

Tetapi, jelas pula kasus harassment terhadap pemakai jilbab bukan tidak ada, 
khu susnya di kawasan yang relatif monokultural di daerah tengah dan selatan 
AS. Menurut catatan American Civil Liberties Union (ACLU), pada 2006 ada 154 
kasus pelecehan—meski jelas tidak harus terjadi di kampus. 

ACLU juga mencatat laporan, 69 persen perempuan berjilbab lebih rentan terkena 
diskriminasi dibanding sekitar 29 persen Muslimah tidak berjilbab. Juga ada 
kasus di mana perempuan berjilbab ditolak bekerja di kepolisian (kecuali di New 
York Police Department, Chicago, dan Los Angeles yang membolehkan) atau pe 
kerjaan lain. 

Oleh karena itu, ACLU merasa perlu mengeluarkan pernyataan bahwa pelecehan 
terhadap pemakai jilbab merupakan pelanggaran hukum. Adalah bertentangan dengan 
Amendemen Pertama dan Empat Belas Konstitusi AS jika ada undang-undang, baik di 
tingkat federal maupun negara bagian, yang secara spesifik melarang pemakaian 
jilbab. Larangan yang sama juga dinyatakan dalam Akta Pemulihan Kebebasan 
Beragama. 

Dengan pembelaan atas nama kebebasan beragama—meski di sana-sini bakal tetap 
ada pelecehan terhadap pemakai jilbab—agaknya bisa dipastikan kian banyak 
perempuan Muslim AS mengenakan jilbab. Dan, itulah Amerika dengan segala 
kontradiksinya, yang ternyata juga menjadi lahan subur bagi ekspresi simbolisme 
agama semacam jilbab.
Redaktur: M Irwan Ariefyanto
Sumber: resonansi

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke