http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/berkat-ranesi-kami-tahu-kami-didengar-dunia

Kamis 21 Juni RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM 
SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET 

 
Map 
Jakarta, Indonesia 
Jakarta, Indonesia 
Berkat Ranesi Kami Tahu, Kami Didengar Dunia
Diterbitkan : 21 Juni 2012 - 10:20am | Oleh Aboeprijadi Santoso (Foto: 
Aboeprijadi Santoso) 
Diarsip dalam: 
  a.. Goodbye Ranesi 
  b.. Indonesia 
  c.. perpisahan Ranesi 
  d.. Timor Timur
Akhirnya, sesudah 65 tahun setia menemani pendengar dan pembaca, Radio 
Nederland Siaran Indonesia dengan berat hati mohon diri. Kali ini untuk waktu 
tak terbatas. Menandai berakhirnya era Ranesi, kami siapkan berbagai artikel 
khusus tentang Ranesi, mitra, dan tentu saja pendengar.

Seperti di Indonesia pada 1940an, radio bagi Timor Timur (kini Timor Leste) 
sejak 1980an menjadi alat perjuangan. Pemberitaan radio asing, termasuk Radio 
Nederland, menjadi alat pembebasan tiga tahap. Pertama, bebas dari keterkucilan 
antar sesama; kedua, bebas dari keterkucilan dari dunia; dan ketiga, media 
bebas menjadi senjata yang menopang perjuangan bangsa.

Veteran perjuangan
Tiga anggota Tim Veteranus (veteran perjuangan) dari Kementerian Sosial Timor 
Leste berada di Jakarta untuk menghimpun bahan historiografi. Kepada rekan 
Aboeprijadi Santoso, ketiganya – Diogo Netto, Krekas dan Angelo – bercerita.

“Tahun 1980an adalah tahun-tahun yang tertutup, koran-koran lokal hanya 
mengabarkan yang baik-baik saja. Sejak itu hanya radio-radio asing – Radio 
Australia, Voice of America, BBC dan Radio Nederland – menarik perhatian 
(karena) ternyata perjuangan kita sudah didengar orang luar. Setiap jam Warta 
Berita, orang berkerumun di rumah-rumah orang yang punya radio, (karena) tidak 
semua orang memiliki radio 12 band (gelombang pendek),” cerita Diogo Netto.

“Mereka dengar jam 7 pagi (Waktu Indonesia Tengah) dan siaran ulang jam 8 
malam. Oom saya alm. Franciscus Canellas, setiap jam siaran, dia suruh semua 
anak dan istri diam, lalu dia masuk kamar untuk dengar berita. Di sekitar rumah 
oom di Villa Verde (sebuah kawasan di Dili), banyak mau hu (intel tentara). Oom 
saya sejak mula ikut perlawanan Fretilin, dia pasang antene tinggi. Dia mantri 
kesehatan, tapi ikut Fretilin ke hutan jadi perawat.”

Bencana dahsyat
Perburuan tentara Indonesia mengejar Fretilin (1975-1979) mengakibatkan bencana 
dahsyat. Sekitar 180an ribu penduduk tewas karena panen yang gagal, wabah, dan 
perang. Akhirnya Operasi Pagar Betis mengepung gerilya dan rakyat di pegunungan 
Matebian.

“Nah, setelah cerco aniquilamento (kampanye pengepungan dan pembinasaan) itu, 
oom turun gunung. Kebiasaan oom dengar radio setiap malam dan pagi itu menular 
ke saya. Kita jadi tahu bahwa perjuangan kita belum selesai, padahal Indonesia 
bilang (soal Tim-Tim) sudah selesai dengan integrasi. Tapi kami sembunyi, 
karena seguranza (aparat keamanan) itu luar biasa ketat. Kita ungkap 
terang-terangan pasti kita ditangkap dan disiksa,” ungkap Diogo Netto.

Peran radio sebagai alat perjuangan berubah menjelang dan terutama setelah 
hasil referendum 1999.

Mengungsi ke hutan
“Banyak orang mengungsi ke hutan dan ke NTT (Timor Barat). Di situ radio juga 
menjadi media paling efektif, termasuk Radio Nederland. Berita paling ditunggu 
(pada saat tentara Indonesia dan milisi mengamuk) adalah kapan pasukan PBB 
datang. Itu harapan paling besar dan harapan itu terpenuhi dari semua radio, 
termasuk Radio Nederland. Para pengungsi sangat antusias mendengarkan radio 
karena tak ada TV dan koran. Di tempat tempat lain juga sama. Bahkan dalam film 
yang dibuat (juru-kamera) Max Stahl untuk CAVR (Dengar Pendapat Korban) di 
Dare, tampak orang orang sedang mendengarkan radio.”

Karena mendengar radio, simpul Netto, “orang merasa punya aspirasi yang sama, 
menjadi tahu nasib sesama warga di hutan, dan apa yang dilakukan oleh, misalnya 
Jose Ramos-Horta, di luar negeri.”

“Hidup masa itu sulit,” Krekas menimpali.

“Mulai 1982, kita pingin dengar nasib teman teman apa masih ada di hutan. Sejak 
itu, kami merasa Timor didengar dunia internasional. Saya dipindah ke Atauro. 
Pada 1983 ada berita dari Radio Nederland, militer Indonesia menyiksa rakyat. 
Kita diteror, kita tidak boleh dengar radio asing. Siapa mendengar, itu 
risikonya ditanggung sendiri,” kata Krekas.

Orang takut, tapi bagaimana pun mereka tetap mendengar radio.

Entah dibawa ke mana
“Ketika Paus (Yohannes Paulus ke-II) datang (1989), ada yang ditangkap, yang 
lain sembunyi, tapi radio selalu dibawa dan dengar Radio Nederland. Sejak 
pembantaian 12 November (St. Cruz, 1991) berita tersebar. Waktu ada embargo 
Belanda (maksudnya, penghentian konperensi donor IGGI 1992) ada satu ditangkap 
karena dengar Radio Nederland, entah dibawa ke mana.” 

Di Viqueque dan di hampir semua kabupaten informasi radio memberi motivasi 
untuk terus berjuang.

“Kalau berita asing menguntungkan, itu semua senang. Tapi kalau berita (Kapten) 
Prabowo membunuh sekian, kita termenung. Tentang Resolusi PBB sejak 1976, kalau 
buat RI ada dukungan sekian persen itu orang sedih, tapi kalau dukungan pada 
Tim-Tim naik, mereka senang. Misalkan pada 1992 Belanda menghentikan bantuan 
(IGGI), itu reaksi rakyat di satu sisi sedih banyak pemuda gugur, di lain pihak 
senang karena bantuan dihentikan.”

Berita-berita tentang saudara-saudara di hutan itu memberi motivasi, ungkap 
Krekas.

Mudah dimengerti
“Pada 1980an ada kasus kasus orang dengar radio asing ditangkap dan disiksa. 
Pada 1999, situasi juga mencekam. Pada 20 September (1999) jam 4 pagi kita 
dengar pasukan (PBB) meluncur dari Australia. Radio bilang pasukan tiba jam 6 
pagi, lalu kita berhamburan ke luar rumah.”

Menurut Angelo, “orang tertarik mendengar radio, karena bahasanya mudah 
dimengerti dan memberitakan masalah masalah yang dialami penduduk Tim-Tim. Apa 
apa yang dari dalam tidak diwartakan, tapi dari radio asing kita bisa dengar.”


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke