http://www.lampungpost.com/index.php/buras/39181-melebar-jurang-kaya-dan-miskin.html
      Sabtu, 23 June 2012 00:00 


      Melebar, Jurang Kaya dan Miskin! 

      "SALAH satu faktor penting penyebab merosotnya amat tajam indeks negara 
gagal (ING) Indonesia—dari peringkat 87 pada 2009 menjadi 63 pada 2012—adalah 
kian melebarnya jurang antara si kaya dan kaum miskin!" ujar Umar. "Ketimpangan 
sosial yang semakin menganga itu bagaikan luka membusuk di tubuh bangsa hingga 
baunya tercium di Washington DC, Amerika Serikat, di mana lembaga peneliti 
nirlaba Fund for Peace memeringkat ING 178 negara di dunia!" 

      "Apa sebenarnya yang tersirat di balik penegasan tambah lebar dan 
dalamnya jurang antara si kaya dan si miskin itu, padahal statistik di dalam 
negeri mencatat penurunan jumlah orang miskin di Indonesia dari tataran 15% 
pada 2009 menjadi sekitar 12% pada 2012?" tanya Amir.


      "Itu soal beda cara pengukurannya!" jawab Umar. "Statistik kita pakai 
hitungan konsumsi berbilang sen di bawah 1 dolar AS per orang per hari, sedang 
Washington pakai pendapatan 2 dolar AS per orang per hari! Akibatnya, jika 
pakai kacamata mereka jurang itu tampak menganga lebih lebar dan lebih dalam!"


      "Tapi kenapa kita pakai kacamata kuda yang melihat jurang itu sempit 
sehingga bisa membuat kita terjerumus?" kejar Amir.


      "Masalahnya, kita sudah berada dalam jurang itu, jadi tak perlu takut 
terjerumus masuk jurang lagi!" jawab Umar. "Beda dengan orang yang belum 
terjerumus, perlu kacamata yang benar agar tak terjerumus! Sedang kita yang 
telanjur berada dalam jurang, perlu pakai kacamata rayband agar hal-hal buruk 
dalam jurang terlihat menjadi serbaindah!"


      "Jadi itu rupanya tujuan kita membuat pranata ukuran sendiri yang berbeda 
dengan standar universal?" timpal Amir. "Bukan untuk melihat esensi masalah, 
melainkan sekadar pelipur lara dari realitas pahitnya hidup! Realitas itu, 
merosotnya ING dari peringkat 87 ke 63 dalam tiga tahun seiring yang tecermin 
di ranah hukum berupa kecamuk korupsi di jantung kekuasaan negara yang nilainya 
tembus triliunan rupiah!"


      "Maka itu, kita seharusnya rajin berkaca diri di cermin universal, agar 
tak terbuai cermin gila yang mencitrakan wajah kita tampan, padahal di cermin 
normal terlihat wajah kita celemotan dengan riasan kosmetik artifisial yang 
norak!" tegas Umar. "Kita layak menyadari bahwa ketimpangan sosial jurang 
kaya-miskin yang semakin lebar itu merupakan 'penyakit dalam' yang menggerogoti 
tubuh bangsa! Karena itu harus diobati dan dirawat dengan baik agar peringkat 
ING-nya tak terus memburuk! Penyakit seperti itu tak cukup diobati minyak 
angjn, apalagi kalau tujuannya cuma agar bau harumnya merebak!" ***
     
        


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke