http://www.analisadaily.com/news/read/2012/06/27/59220/negara_gagal_atau_menjanjikan/#.T-tlcPXDMeU

Hari ini Pkl. 00:01 WIB

Negara Gagal atau Menjanjikan?


AMBISI pemerintah untuk menjadikan Indonesia negara terbesar ke-6 di dunia per 
2025 sedikit-banyaknya mengalami setback dari publikasi hasil servei Fund for 
Peace(FFP) di AS baru-baru ini. Indonesia dinilai berdasarkan indeks sebagai 
negara gagal (FSI--Failed State Index) yang menduduki urutan ke-63 dalam 
kategori "dalam bahaya" pula, sedikit lebih baik dari ke60 negara paling gagal, 
terbelakang dan tak aman di antara 178 negara yang disurvei. Tak mengherankan, 
kalau Ketua Bappenas, Armida Salsiah Alisyahbana dan Sekretaris Kabinet Slamet 
Seno Adji mengeluarkan bantahan keras kemarin, menyusul hal sama oleh Menko 
Perekonomian Hatta Rajasa di Rio de Janeiro, Brazil akhir pekan baru lalu.
Jelas evaluasi buruk dalam FSI, seperti halnya downgrade rating kredit sebuah 
negara merusak citra negara bersangkutan dan iklim investasi sebagai "safe 
haven" di masa krisis. Belum lagi kerugian dari penambahan biaya pinjaman dan 
dampak negatif dalam penarikan investor. Lagi penggolongan dalam kategori 
"dalam bahaya", menurut situasi sekarang, sudah terlalu dibesar-besarkan.

Tak masuk di akal dari segi ekonomi, sebuah negara yang sedang booming dan 
menjanjikan seperti Indonesia dan mendapatkan rating "investment grade" 
baru-baru ini sampai terjerumus dekat kelompok negara-negara paling gagal, 
miskin dan tak aman di Afrika, seperti Somalia, Sudan, Zimbabwe, Angola, 
Ethiopia....Namun beberapa peneliti, pengamat dan pemimpin bisnis senior kita 
juga mengakui sebagian kebenaran survei FFP tersebut yang berdasarkan sistem 
"quantitative parameters" dengan didukung jutaan dokumen publik, analisis dan 
penilaian oleh para pakar terkemuka. 

Diketahui, sebuah koin mempunyai dua sisi. Sisi depan yang terang biasanya 
lebih jelas tampak dari sisi belakang yang gelap atau apa yang disebut "grey 
areas". Perangkat survei Quantitative Parameters bukan hanya berdasarkan 
tingkat keberhasilan indikator dalam bidang/kelomplok ekonomi, melainkan juga 
berdasarkan tekanan bidang sosial, politik dan militer atas pemerintahan sebuah 
negara. Yang mendapatkan angka buruk bagi Indonesia adalah Kelompok Indikator 
Sosial dengan sub-indikator "Group Grievances" yang terdiri dari diskriminasi 
minoritas, ethnis dan religius, kekerasan, ketidakberdayaan otorita dan masalah 
HAM serta hijrah kaum intelektual ke negara orang. Di kelompok indikator 
ekonomi ialah buruknya infrastruktur, kurangnya pemerataan pembangunan antara 
daerah serta hasilnya (income share) rakyat, mutu hidup kawasan kumuh, walau 
laju pertumbuhan baik, tingkat kemiskinan menurun dan daya beli rakyat moderat. 

Arus keluar kaum intelektual dan tawuran anak muda sebagai generasi penerus, 
amat berpengaruh terhadap masa depan pembangunan negara dan bangsa yang cerdas 
dan berakhlak baik. Perhatian terhadap investasi dalam pendidikan tak kalah 
pentingnya dari investasi fisik atau futures komoditas.

Maka masalah HAM, diskriminasi dan keamanan termasuk terorisme, tawuran anak 
muda/kelompok (youth failure) yang terkait dengan "rule of law" mendapatkan 
sorotan utama para penilai survei.

Jelas, hasil penilaian FFP AS tetap kontroversial dengan pandangan kita. 
Demikian juga antara pejabat pemerintah dengan sementara peneliti serta 
pengamat nasional, apalagi antara penonton dan rakyat/keluarga korban penderita 
dari pelanggaran "rule of law" serta para pencari keadilan yang gagal dalam 
kasus-kasus kekerasan terutama HAM.

"Tiada gading yang tak retak". Sinyalemen konstruktif dan fakta nyata dari para 
analis dan pengamat independen hendaknya kita dengarkan demi perbaikan dan 
kemajuan. Mereka tak berniat "menggoyangkan perahu" ketika perahu negara tengah 
menantang badai ekonomi global.

Indonesia pada hakikatnya adalah sebuah negara yang menjanjikan. Dengan 
kekayaan sumberdaya alam melimpah dan good governance plus iklim investasi yang 
kondusif pasti menarik investor kembali setelah pembenahan titik-titik lemah 
atau grey areas yang disoroti FFP dan pengamat kita. Indeks indikator tekanan 
"keluhan kelompok", tekanan demografis maupun penegakan HAM akan membaik dan 
tak menjadi isu internasional lagi di mata calon investor. Segala lapisan 
masyarakat, mayoritas atau minoritas dengan berbeda ethnis, agama dan budaya 
diperlakukan sama di depan hukum dan hidup berdampingan dengan rukun dalam 
atmosfir Bhinneka Tunggal Ika. Ambisi menjadi negara terbesar ke-6 dan 
demokratis di dunia kelak, bukan impian siang bolong atau retorika politik 
belaka, melainkan bisa menjadi suatu kemungkinan.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke