Tulisan Derek Manangka dibawah cukup menarik disimak. Saya tidak pernah 
berkenalan dengan Om Liem dan tidak hendak menilai pribadinya, saya hanya ingin 
mencoba menarik pelajaran untuk kemajuan bangsa dalam membangun masyarakat adil 
dan makmur menjadi kenyataan. 

Pertama, Jangan biarkan persekongkolan atau kolusi terjadi antara PENGUASA dan 
PENGUSAHA yang dalam kenyataan selama ini sangat merusak dan merupakan 
pelanggaran systim ketatanegaraan. Yang berarti membiarkan KORUPSI merajalela 
dan kekayaan jatuh menggendutkan perut segelintir pejabat-parasit, sedang 
rakyat banyak makin melarat, ... CEGAH dan HENTIKAN segala bentuk KOLUSI yang 
masih terjadi.

Kedua, untuk mendorong maju pertumbuhan ekonomi nasional yang sehat, jangan 
berikan hak monopoli usaha pada pengusaha, siapapun dia. Begitu usaha 
dimonopoli seorang/grup pengusaha, perkembangan ekonomi menjadi tidak sehat dan 
rusak. Pemerintah yang berkuasa-lah yang berperan harus mencegah dan tidak 
membiarkan seorang pengusaha memonopoli usaha, ... Tanggungjawab berapa 
ditangan PENGUASA! 

Oleh karena itu adalah sangat janggal, terbalik yang terjadi dimasa ORBA 
runtuh, Mei 1998, SASARAN kemarahan ditujukan pada pengusaha dan bukan utamanya 
pada PENGUASA! Soeharto sebagai orang No.1 yang berkuasa di Indonesia dan 
seharusnya PALING BERTANGGUNGJAWAB justru tidak diapa-apakan bahkan akan 
dinobatkan menjadi PAHLAWAN NASIONAL, sedang Om Liem menjadi sasaran kemarahan 
yang mengakibatkan terpuruknya ekonomi Indonesia. 

Sungguh terbalik dengan yang terjadi di Tiongkok, selama 30 tahun terakhir ini, 
kabarnya sudah lebih 20 ribu pejabat korup ditembak mati, tapi TIDAK seorang 
pengusaha pun yang terdengar juga ditembak mati, pengusaha cukup dijatuhi 
hukuman penjara saja.

Tentu, saya tidak mengatakan Om Liem tidak bersalah. TIDAK! Tetap harus diakui, 
Om Liem disatu pihak telah ber-JASA mengangkat ekonomi Indonesia maju dengan 
segala usaha yang dibangunnya, tapi juga ikut membuat ekonomi nasional terpuruk 
lebih parah dengan menggondol keluar BLBI yang dikucurkan, ... entah berapa 
jumlah yang digondol keluar sehingga Pemerintah nyaris bankrut. Dan entah 
bagaimana konkritnya Om Liem membersihkan diri dari dosa yang telah diperbuat, 
sampai dimana Om Liem mengembalikan kucuran BLBI yang digondol keluar itu, ... 
apakah sudah lunas?

Yang perlu diperhatikan betul oleh bangsa ini, jangan biarkan kolusi antara 
PENGUASA dan PENGUSAHA berlanjut dengan memberikan pengusaha (apapun suku atau 
etnis) memonopoli jenis usaha apapun di Indonesia.

Salam,
ChanCT



http://nasional.inilah.com/read/detail/1871303/om-liem-simpan-rahasia-hingga-akhir-hayatnya
Merasa Berutang Kepada Indonesia
Om Liem Simpan Rahasia Hingga Akhir Hayatnya

 
Liem Sioe Liong - ist
Opini: Derek Manangka
nasional - Rabu, 13 Juni 2012 | 07:30 WIB 

INILAH.COM, Jakarta - Liem Sioe Liong yang akrab disapa Om Liem, sudah sekitar 
satu dekade tidak terdengar lagi kiprahnya di Indonesia. Hanya orang-orang 
tertentu saja yang tahu bahwa Om Liem sudah menetap Singapura.

Namun kendati sudah lama tidak pernah terdengar kiprahnya, begitu Om Liem 
dikabarkan meninggal dunia Minggu (10/6/2012), kabar kepergiannya untuk 
selama-lamanya itu, dengan cepat tersebar ke seluruh strata masyarakat. Hal ini 
menandakan, Om Liem sudah menjadi sosok yang dikenal luas masyarakat di 
Indonesia.

Kabarnya banyak yang ingin melayat, termasuk yang memiliki utang budi, ingin 
memberi penghormatan terakhir kepada almarhum. Tapi begitu tahu bahwa 
jenazahnya disemayamkan di Singapura, mereka yang ingin melayat pun mengubah 
niatnya. Sebab untuk ke Singapura, sekalipun jaraknya dekat, tetap membutuhkan 
biaya tidak kecil dan tentu saja mengorbankan waktu.

Maka mereka yang tidak jadi melayat ke Singapura berharap akan memberi 
penghormatan terakhir kepada almarhum, di saat jenazahnya dibawa ke Jakarta 
untuk dikebumikan. Tapi kabar terakhir menyebutkan, jenazah Om Liem akan 
dikubur di negara kota berpenduduk 5 juta jiwa itu. Para calon pelayat itu pun 
cukup banyak gigit jari.

Mereka yang kecewa terutama para karyawan dan karyawati perusahaan induk dan 
anak-anak perusahaan milik Om Liem atau Salim Grup. Jumlah mereka diperkirakan 
mencapai puluhan ribu orang dan tersebar di berbagai tempat atau kota di 
Indonesia.

Belum termasuk para bekas karyawan dari kelompok usaha Salim Grup baik yang 
sudah pensiun atau berpindah tempat bekerja, tapi masih merasa punya ikatan 
emosional dengan pendiri konglomerasi BCA, Indosiar, Indofood, Indomie, 
Indomobil dan Indomart tersebut.

Masyarakat yang ingin melayat memang diberi kesempatan hingga 17 Juni 2012. 
Tetapi tetap saja untuk melayat ke rumah duka Mount Vernon Funeral Parlours, 
Singapura, tempat jenazah Om Liem disemayamkan, merupakan sebuah persoalan 
tersendiri.

Lalu timbul pertanyaan, mengapa jenazah Om Liem tidak dikubur di Indonesia? 
Pertanyaan ini wajar, masuk akal dan memang pantas diajukan. Karena sejauh ini 
Om Liem dikenal sebagai warga negara Indonesia. Bukan warga Singapura.

Sejauh ini memang tidak ada penjelasan resmi dari pihak keluarga mengapa 
jenazah Om Liem tidak dikubur di negara tempat dimana ia berhasil membangun 
sebuah konglomerasi bisnis terbesar di Indonesia. Spekulasi pun beredar bahwa 
Om Liem ataupun keluarganya, pasti memiliki alasan kuat.

Selain itu menurut para kerabat dekat Om Liem, jauh sebelum meninggal, taipan 
pendiri BCA, Indofood, Indomobil, Indosiar, Indomart dan lain-lainnya itu, 
sudah menulis wasiat bahwa ia ingin dikebumikan di Indonesia.

Tapi wasiat Om Liem itu tidak jadi dipenuhi, mengingat isteri Om Liem yang 
sudah lanjut usia, mungkin akan mengalami kesulitan nyekar ke makam Om Liem 
bila makamnya berada di Indonesia atau jauh dari Singgapura.

Sekalipun begitu ada juga spekulasi yang beredar mengenai rumah kediaman Om 
Liem di Jl Gunung Sahari, Jakarta. Rumah itu sebagiannya sudah hangus terbakar. 
Rumah itu menempati sebuah kompleks yang cukup luas dan tidak berada di kawasan 
elit. Bagian belakangnya, ada jalur rel kereta api yang setiap hari memancarkan 
suara bising ke rumah-rumah penduduk sekitar.

Kediaman itu, sebagian bangunannya tidak lagi diperbaiki atau direnovasi. 
Semenjak kediaman itu menjadi sasaran amukan massa yang anarkis pada saat 
kerusuhan rasial Mei 1998, bekas bangunan yang terbakar tetap dibiarkan menjadi 
puing. Rumah kediaman Om Liem menjadi sasaran amukan massa tidak lama setelah 
Presiden Soeharto menyatakan berhenti sebagai Presiden per 21 Mei 1998.

Mudah ditebak, mengapa kediaman Om Liem menjadi sasaran? Yah karena Om Liem 
selama bertahun-tahun dikenal sebagai seorang konglomerat yang paling dekat 
dengan penguasa Orde Baru itu. Om Liem dengan julukan sebagai salah seorang 
manusia terkaya di dunia pada era itu, dianggap menjadi kaya raya berkat 
kedekatannya dengan Presiden Soeharto.

Ketidak sukaan kepada Soeharto dilampiaskan kepada sahabatnya, Om Liem. Massa 
yang tidak berani atau tak mampu merangsek ke kediaman Soeharto di Jl.Cendana, 
Jakarta Pusat, lalu mengalihkan kekesalan mereka ke rumah Om Liem.

Memang cukup diskriminatif. Sebab yang menjadi kaya raya di era pemerintahan 
Soeharto, bukan hanya Om Liem. Namun herannya hanya Om Liem yang menjadi 
sasaran kemarahan. Terhadap kejadian diskriminatif ini, tidak pernah diungkit 
ataupun dikomentari Om Liem. Maklum Om Liem tergolong orang yang tidak suka 
berbicara banyak.

Padahal menurut beberapa kalangan yang dekat keluarga Om Liem, sejatinya 
sebagai pengusaha, Om Liem juga menghadapi banyak kendala di Indonesia. Kendala 
itu tidak ringan. Kalau saja saran para konsultan dituruti, Om Liem sudah lama 
merelokasikan bisnisnya ke negara lain. Sebab berbisnis di Indonesia, 
belakangan sudah mulai membuat konglomerat seperti Om Liem merasa lelah 
(fatigue).

Tapi Om Liem sudah bertekad tidak akan meninggalkan Indonesia, walaupun situasi 
Indonesia tidak selalu kondusif. Mengapa? Karena Om Liem merasa "berutang" 
kepada Indonesia. Di negara multi etnis dan multi ras ini, Om Liem memulai 
usahanya dari skala yang paling kecil hingga menjadi sebuah konglomerasi. 
Keraksasaan bisnis Salim Grup sudah merambah ke berbagai negara di Asia maupun 
benua Afrika.

Om Liem dikenal sebagai pengusaha sukses yang high profit but low profile. Om 
Liem tidak sama dengan kebanyakan pengusaha nasional yang senang berbicara 
kepada pers, mengumbar kesuksesannya di dalam bisnis. Om Liem jarang terlihat 
minta difoto bersama dengan para pejabat atau penguasa. Kebiasaan ini menurun 
kepada Anthony Salim, salah seorang puteranya yang kemudian dikenal sebagai 
pewaris dan penerus kerajaan bisnis Salim Grup.

Om Liem dan Anthony Salim merupakan contoh positif dari pengusaha sukses yang 
selalu menghindar dari kegiatan pencitraan. Setiap masalah yang muncul dan 
dapat berakibat rusaknya citra Salim Grup, oleh Om Liem diselesaikan dengan 
cara elegan dan tidak berisik. Prinsipnya seperti orang yang menangkap ikan 
dari sebuah kolam. Ikannya berhasil ditangkap, tetapi airnya tidak menjadi 
keruh.

Pada 1990-an awal misalnya, Indomilk, salah satu anak perusahaan Salim Grup 
didera isu yang menyebutkan bahwa produk tersebut punya kandungan lemak babi. 
Jelas isu ini sangat sensitif dan dapat membahayakan eksistensi kelompok usaha 
Salim Grup.

Namun dalam waktu singkat isu sensitif itu berhasil diredam tanpa menyenggol Om 
Liem ataupun putera mahkotanya. Yang tampil sebagai penangkal isu adalah staf 
profesionalnya seperti Eva Ryanti Hutapea yang menggandeng sejumlah pakar 
komunikasi dan biro iklan.

Pembakaran rumah kediaman Om Liem di Jl. Gunung Sahari pernah menjadi salah 
satu topik di acara talk show sebuah tv swasta. Anton Medan, seorang bekas 
narapidana yang menjadi mubaligh, secara terbuka menjelaskan bagaimana peranan 
dan alasan massa menjadikan rumah Om Liem sebagai sasaran.

Penjelasan itu cukup mengejutkan. Bahkan ada yang berspekulasi, kemungkinan 
akan ada reaksi dari Om Liem atau putera-puterinya. Namun reaksi itu tidak 
mengemuka sama sekali.

Hingga dengan saat ia menghembuskan nafasnya yang terakhir dalam usia 97 tahun, 
Om Liem tidak pernah berbicara tentang pembakaran kediamannya itu, plus 
kesulitan dan kesuksesannya. Taipan yang memberi penghidupan bagi jutaan rakyat 
Indonesia tetap tidak bergeming jika sudah menyangkut persoalan sensitif.

Hanya ada satu pesan yang disampaikannya kepada anggota keluarganya. Yaitu Om 
Liem merasa berutang kepada Indonesia. Karena itu ia minta pewarisnya jangan 
sampai angkat kaki dari Indonesia dan merelokasi bisnisnya ke negara lain. 
Sebuah komitmen, idealisme dan nasionalisme ala Om Liem. Selamat jalan Om Liem. 
[mdr]

Kirim email ke