MALANG
Ayah Tunanetra, Anak Ditolak Masuk SD
 Penulis : Yatimul Ainun | Jumat, 29 Juni 2012 | 14:03 WIB
  Dibaca: *2992*
Komentar<http://regional.kompas.com/read/2012/06/29/14032897/Ayah.Tunanetra.Anak.Ditolak.Masuk.SD#komentar>:
*9*
 |

<http://twitter.com/home?status=%5BMALANG%5D+Ayah+Tunanetra%2C+Anak+Ditolak+Masuk+SD+http://kom.ps/ABkT1q+via+%40kompascom>
<http://regional.kompas.com/read/2012/06/29/14032897/Ayah.Tunanetra.Anak.Ditolak.Masuk.SD#>
Share:

*MALANG, KOMPAS.com* — Seorang anak yang memiliki ayah tunanetra di Kota
Malang, Jawa Timur, ditolak masuk sekolah dasar negeri. Hal ini terjadi
dalam proses penerimaan peserta didik baru (PPDB) di SDN Sawojajar 1,
Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang.

Kifli Ismunandar, orangtua dari siswa yang ditolak, Keyla Putri (7),
melaporkan penolakan tersebut kepada LSM Koalisi Masyarakat Peduli
Pendidikan (KMPP) Malang.

Kifli yang merupakan warga Jalan Kapi Pramuja, Sawojajar, Kabupaten Malang,
Jumat (29/6/2012), mengetahui anaknya gagal masuk di sekolah tersebut saat
pengumuman penerimaan siswa baru, Rabu kemarin. "Anak saya menangis karena
tidak diterima di sekolah itu tanpa ada alasan yang jelas," aku Kifli.

Berdasarkan cerita Keyla kepada Kifli, saat menjalani tes akademik, Keyla
sudah berhasil menjawab semua pertanyaan yang diajukan guru penguji selama
15 menit. Setelah itu, guru penguji bertanya soal pekerjaan ayah Keyla.
Dengan polos Keyla pun menjawab kalau bapaknya tidak bekerja karena
tunanetra. Sementara ibu Keyla tukang cuci dan setrika baju.

Menurut Keyla, setelah mendengar jawaban tersebut, si guru penguji terdiam
dan tak melanjutkan pembicaraan dengan Keyla. "Anak saya langsung kecewa.
Apakah karena jawaban tentang pekerjaan itu yang membuat anak saya gagal
masuk SDN Sawojajar 1, atau karena faktor lain? Ini belum jelas alasan
sekolah," kata Kifli.

Kifli memang bukan warga Kota Malang. Namun, sekolah yang paling dekat ke
rumahnya adalah SDN Sawojajar 1. Banyak pula anak dari tetangga Kifli yang
bersekolah di SDN Sawojajar 1. "Memang sekolah yang terdekat adalah SDN
Sawojajar 1," ujarnya.

Setelah mendapatkan pengakuan Keyla, kemarin Kifli langsung mendatangi
sekolah tersebut. Tujuannya untuk mempertanyakan alasan penolakan Keyla
sebagai siswa SDN Sawojajar 1. "Saya hanya ingin tahu, apa alasan pihak
sekolah menolak anak saya. Apa karena nilainya jelas atau alasan lain?"
katanya.

Sayangnya, Kifli tidak berhasil menemui kepala sekolah. Tidak ada satu pun
perwakilan sekolah yang juga mau menemuinya. "Saya hanya ditemui salah
seorang anggota komite sekolah dan dijanjikan untuk dipertemukan dengan
pihak sekolah pada Sabtu besok," aku Kifli.

Menurut juru bicara KMPP Malang, Didit Sholeh, yang ditemui siang ini,
Kifli memang melaporkan kasus yang menimpa anaknya itu ke mereka. "Kasus
yang diadukan oleh Pak Kifli itu menunjukkan jika ada yang tidak beres
dalam PPDB," katanya.

Menurut Didit, pihak sekolah dinilai sudah melakukan pelanggaran hak asasi
manusia karena seorang anak gagal menikmati hak untuk belajar. "Buktinya,
ada pertanyaan tentang pekerjaan orangtua. Apalagi orangtua Keyla seorang
tunanetra. Kami akan melakukan advokasi masalah kasus ini," ungkap Didit.
"Pihak Dinas Pendidikan Kota Malang harus segera turun tangan karena
pelanggaran itu sudah masalah kemanusiaan, jelas melanggar HAM," ucapnya
lagi.

Secera terpisah, anggota Komisi D DPRD Kota Malang, Sutiadji, menegaskan
bahwa yang jelas, sekolah tidak boleh melakukan diskriminasi terhadap para
siswa dengan alasan tidak menerima calon siswa karena orangtua siswa tidak
mampu, apalagi tunanetra. "Kalau benar ada sekolah melakukan diskriminasi,
Dispendik Kota Malang (Dinas Pendidikan Kota Malang) harus tegas dan
memberi sanksi kepada pihak sekolah bersangkutan," katanya.

Sutiaji juga berjanji, pihaknya akan segera melayangkan surat teguran
kepada Dinas Pendidikan Kota Malang, atas kasus tersebut. "Dinas Pendidikan
harus bertindak tegas atas pelanggaran itu," katanya.

Sementara itu, Kepala SDN Sawojajar 1 Bettin Juniaria Herina Sutrisnawati
membantah tuduhan Kifli tersebut, saat dihubungi melalui telepon. "Semua
pengakuan Kifli tidak benar. Jelas pengakuan itu tidak benar. Kalau *ngotot
*ingin masuk, silakan temui saya," kata Bettin.

Menurutnya, tidak ada kriteria orangtua dan tidak ada sesi wawancara dengan
calon siswa. "Kita juga masih menanti daftar ulang. Kalau ada yang
mengundurkan diri, bisa diisi calon lain. Ada 10 orang sistem cadangan,"
kata Bettin.

Menurutnya, kriteria untuk masuk SDN Sawojajar 1 adalah batasan umur 7
tahun sampai 12 tahun serta siswa mampu membaca abjad. "Untuk nilai hasil
tes, tidak diumumkan karena internal sekolah. Yang jelas dalam tes itu tak
ada pertanyaan atau wawancara soal kondisi orangtua. Tidak benar kalau
dikatakan sekolah tanya kondisi orangtua," ujar Bettin lagi.
  *Editor :*
Glori K. Wadrianto


-- 
*menunda 1 hari = menunda profit 2% sehari, segera daftar
disini<http://www.justbeenpaid.com/join.cgi?r=JwsuX2z4Oq&p=&c=>
* *
Gratis bonus 10$** & cashback menarik menanti anda**
** *
setelah daftar hubungi
FB : [email protected]
YM: [email protected]
Gtalk: [email protected]


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke