Ref: Jauh dari negara gagal karena laba masih tetap diperoleh?

http://www.antaranews.com/berita/318941/pengusaha-indonesia-jauh-dari-negara-gagal

Pengusaha: Indonesia jauh dari negara gagal 
Jumat, 29 Juni 2012 21:01 WIB | 

 
Oesman Sapta. (FOTO.ANTARA)

  Sangat tidak setuju," 

Jakarta (ANTARA News) - Seorang pengusaha nasional mengatakan Indonesia jauh 
dari kriteria menuju negara gagal karena indikator-indikator termasuk indikator 
ekonomi tidak menunjukkan Indonesia menuju ke arah terpuruk.

"Sangat tidak setuju," kata, Oesman  Sapta, pemilik OSO Group di sela "Pemred 
Gathering", di Jakarta, Jumat, menanggapi hasil survei dari The Fund for Peace 
(FFP) yang diumumkan di Washington, Amerika Serikat, beberapa waktu lalu, yang 
menempatkan Indonesia berada peringkat ke-63 dari 178 negara berdasarkan indeks 
negara gagal.

Oesman mengatakan bahwa justru Indonesia menunjukkan berbagai kemajuan-kemajuan 
dan terus berkembang yang tidak bisa dicapai oleh negara lain. 

Untuk itu, dia meminta agar masyarakat tidak terlalu mengkhawatirkan hasil 
survei tersebut.

Meski demikian, Oesman juga meminta pemerintah terus berupaya agar hal yang 
telah dicapai dapat terus dipertahankan dan terus ditingkatkan.

Misalnya, Indonesia harus mampu dari hanya memproduksi dan mengekspor barang 
mentah menjadi barang setengah jadi atau barang jadi. Dengan demikian, lanjut 
dia, Indonesia dan masyarakatnya akan mendapatkan nilai tambah.

Sebelumnya, Ketua Departemen Keuangan Partai Demokrat Muhammad Ikhsan Modjo 
juga mengimbau masyarakat Indonesia untuk tidak perlu menanggapi serius apalagi 
membesar-besarkan publikasi pemeringkatan Indonesia sebagai negara gagal.

"Pemeringkatan Indonesia sebagai negara hampir gagal itu tidak akurat dan 
metodologinya dipertanyakan," kata Muhammad Ikhsan Modjo.

Faktanya, perekonomian Indonesia terus tumbuh dan Indonesia masuk ke dalam 20 
negara maju atau G20 dari pendeketakan pertumbuhan ekonomi, katanya.

Bahkan, kata dia, pada saat terjadi krisis global di Amerika Serikat pascatahun 
2008 yang berdampak ke Eropa, negara Indonesia tidak terpengaruh.

"Pada saat itu, di Asia hanya tiga negara yang pertumbuhan ekonominya tetap 
positif, yakni China, India, dan Indonesia," katanya.

Sementara Sekretaris Kabinet Dipo Alam survei itu perlu ditelaah secara cermat 
dan objektif sehingga semua pihak tidak dengan mudah mengonfirmasi bahwa 
Indonesia memang negara gagal.

Dipo Alam mengatakan bahwa pandangan objektif itu dapat dilakukan dengan 
melihat sejumlah kenyataan bahwa ada perbaikan ekonomi dibandingkan tahun-tahun 
sebelumnya dan juga peningkatan peran Indonesia di kancah politik 
internasional. 
(U002/D007) 
Editor: Ruslan Burhani


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke