http://www.ambonekspres.com/index.php?option=read&cat=42&id=38721

JUMAT, 06 Juli 2012 | 104 Hits


Oleh: Asran Salam, (Alumni UNM, Pengurus Besar HMI MPO) 

Pudarnya Peran Negara 

 
Banyak tokoh atau pemikir yang merumuskan teori asal muasal sebuah negara. 
Terlepas dari semua teori tersebut, ada sebuah kenyatan historis yang tidak 
terbantahkan bahwa Indonesia sebagai sebuah negara yang....

merdeka dari penjajahan berkat perjuangan rakyatnya. Darah banyak tertumpah 
demi terbebas dari kolonialisasi.

Tapi kini, negara yang berdiri di atas tetesan darah pejuangnya, lesuh dan 
mengalami kerapuhan serta kemunduran. Darah para pahlawan tidak mampu menjadi 
pengingat dalam memori kolektif kita. Perjuangan  mereka begitu cepat 
dilupakan. Harapan agung para pahlawan, telah diabaikan anak cucu mereka 
sendiri. Terbukti dengan tidak diwujudkannya harapan tersebut dalam kenyataan.

Bagaimana tidak, negara kita yang sudah lama merdeka, hanya sebatas bebas dari 
penjajahan fisik. Sementara penjajahan baru (neokolonial) masih menggerogoti 
negara kita. Penjajahan baru yang kini menimpa negara kita berbentuk penguasaan 
semua aset negara oleh pihak asing.

Anehnya, yang menyerahkan itu adalah para pemimpin negara kita melalui beberapa 
kontrak dengan regulasi tertentu yang banyak merugikan negara. Apa yang 
dilakukan pemimpin kita sungguh jauh berbeda dari perjuangan para pahlawan. 
Pahlawan kita dulu berjuang mengusir penjajah namun sekarang kita malah 
“memanggil” penjajah datang.

Kemunduraan sebuah negara sebagaimana teori dependency, melihat bahwa penyebab 
adalah faktor eksternal dan struktural. Adanya ketergantungan dari penetrasi 
asing dan dunia luar menyebabkan timbulnya distorsi besar-besaran dalam 
struktur ekonomi, politik, budaya yang pada gilirannya menimbulkan konflik 
sosial yang gawat dan akhirnya menimbulkan penindasan negara terhadap rakyat.

Selain teori dependency tentang kemunduran negara, teori modern juga melihat 
bahwa sebuah negara mengalami kemunduran disebabkan faktor internal dan 
cultural. Dalam artian, sebuah negara mengalami berbagai problem internal dan 
kulutral yang akan menjadi pemicu sebuah kemunduran. Ketika mengamati kedua 
teori tersebut maka, negara ini berada kedalam kerangka teori ini.

Peran Terabaikan
Peran negara dari segi ekonomi terkait basic needs rakyat, meliputi penyediaan 
sandang, pangan, dan papan kepada rakyat masih jauh dari yang seharusnya. Kita 
saksikan kemiskinan masih mencapai angka 70 juta jiwa (2010) dan penerima 
layanan kesehatan bagi orang miskin (Jamkesmas) mencapai 76,4 juta jiwa. Di 
sisi lain masih banyak rakyat yang tinggal di tempat-tempat kumuh. Dengan 
demikian salah satuh peran negara dari segi ekonomi sedang mengalami kemunduran.

Dari segi hukum, peran negara semestinya memperlakukan sama rakyatnya. Tapi 
kenyataannya, hukum di negara ini hanya diperuntukkkan bagi yang tidak memiliki 
kekuasaan ataupun uang. Masih segar di ingatan bagaimana kasus hukum terkait 
korupsi seperti skandal Century yang telah meraup uang rakyat hingga Rp6,7 
triliun, korupsi para wakil rakyat sangat mewabah hingga menjalar sampai pada 
instansi kepolisian serta kasus mafia pajak yang tak kunjung menunjukkan titik 
terang kapan selesai diusut hingga ke akar-akarnya.

Peran negara dalam bentuk budaya juga mengalami kemunduran. Negara kita yang 
dulunya dikenal sebagai negara yang santun, ramah, toleransi dijunjung tinggi, 
akhir-akhir ini justru kerap terjadi aksi kekerasan terhadap aliran tertentu. 
Saat ini tercipta sebuah teror dalam bentuk perasaan tidak aman, golongan 
minoritas begitu dikebiri oleh golongan mayoritas. Ironisnya, pemerintah 
beserta aparat masih juga tidak bertindak cekatan sehingga kejadian seperti itu 
terus berulang.

Peran negara dalam penyediaan kesehatan dan pendidikan yang merupakan basic 
needs rakyat, hingga kini juga belum menjadi prioritas. Biaya pendidikan dan 
kesehatan masih terlalu mahal untuk dijangkau masyarakat bawah. Wajar jika 
negara ini tertinggal jauh dan tidak mampu mengejar bangsa lain.

Partai politik yang diharapkan mampu menjadi jembatan menyampaikan aspirasi 
rakyat, faktanya partai politik sibuk dan terjebak pada pragmatisme politik 
transaksional. Partai politik hanya sibuk mengklarifikasi kasus-kasus korupsi 
yang menimpa kader-kadernya, hingga tidak ada ruang dan waktu untuk memikirkan 
kepentingan rakyat. Pada hakikatnya bangsa ini dari segi politik melalui partai 
politik tidak memiliki arah yang jelas dalam membangun rakyatnya.  
 
Wajah Pemerintah 
Pemerintah pusat hingga daerah diharapkan mampu memungsikan dan menjalankan 
peran-peran negara sebagaimana mestinya. Tapi saat ini pemerintah kita masih 
sibuk dengan politik serta upaya mempertahankan kekuasaan atau sibuk menjaga 
citra agar tetap disenangi.

Persiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), sebagai pemegang kebijakan tertinggi 
negara juga masih terjebak dalam menjaga kekuasaan dan citra hingga 
tugas-tugasnya sebagai kepala negara banyak terabaikan. Kritik dari berbagai 
elemen masyarakat pun tidak dijadikan sebagai motivasi untuk bekerja, akan 
tetapi krtitik itu dianggap sebagai upaya kudeta.

Presiden SBY banyak tampil dalam media layaknya para artis mengumbar berbagai 
program dan janji bahwa akan menyelesaikan semua permasalahan Negara. Semua itu 
hanya berada dalam retoris belaka karena faktanya berbagai kasus di negara 
belum juga diselesaikan. Sebaliknya, yang disuguhkan ke publik adalah memohon 
belas kasihan agar dimaklumi.

Negara yang tanahnya pernah dibasahi darah para pejuang dan pahlawan, kini 
berwajah buram karena tindakan para penguasa yang tidak menjalankan perannya. 
Negara ini sudah lama dieksploitasi untuk kepentingan golongan tertentu. 
Kekayaannya  habis untuk membiayai pertarungan politik dan kekuasaan. Kekayaan 
negara yang semestinya membiayai kebutuhan dasar rakyat, telah dirampas oleh 
pemerintahnya sendiri dan segelintir golongan. Mereka terjajah di negeri 
sendiri.

Negeri ini harusnya telah maju dan dapat disejajarkan negeri maju yang lain. 
Masalahnya, bahkan Malaysia pun yang negaranya sangat kecil dan dulu sangat 
jauh tertinggal dari negara ini, kini telah jauh meninggalkan kita. Harapan 
kita agar negara ini semakin maju, tidak kunjung kita jumpai. Semuanya hanya 
menjadi angan-angan. Negara ini tidak berjalan maju tetapi justru berjalan 
menuju kemunduran. (*)

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke