http://www.mediaindonesia
com/read/2012/07/10/332060/70/13/Calon-Presiden-Siapa-Peduli-
Sunny wrote :
Ref: Siapa beruntung dengan adanya pemilihan presiden atau anggota badan
yang disebut DPR?
=============================================================================
===============
Sambutanku :
** Jika melihat Calon2 yg di "MEDIA-LISASI-KAN " maka kesimpulannya adalah
sbb :
Yang Untung mereka yang terpilih ....
Yang BUNTUNG mereka yang memilih....... ( lebih2 mereka yang tidak sama
sekali kebagian sepeserpun...... Kasih suara - timbalanya "Dikentuti " ....)
.........................................................
....
-------Original Message-------
From: Sunny
Date: 10.7.2012 18:30:36
To: Undisclosed-Recipient:,
Subject: [inti-net] Calon Presiden Siapa Peduli
Ref: Siapa beruntung dengan adanya pemilihan presiden atau anggota badan
yang disebut DPR?
http://www.mediaindonesia
com/read/2012/07/10/332060/70/13/Calon-Presiden-Siapa-Peduli-
Calon Presiden Siapa Peduli
Selasa, 10 Juli 2012 00:01 WIB
PEMILIHAN presiden masih dua tahun lagi, tetapi ingar-bingar sudah
menggelegar. Sebagian partai politik mulai mengelus-elus calon presiden yang
bakal digadang-gadang dalam Pilpres 2014. Bahkan, ada parpol yang sudah
memutuskan kandidatnya.
Namun, survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menemukan fakta
yang menarik. Jika pemilihan presiden dilakukan saat survei diadakan, yakni
pada 20-30 Juni, 60% responden ternyata belum punya calon presiden yang
bakal mereka pilih.
Padahal, nama sejumlah tokoh yang disebut-sebut bakal maju sebagai calon
presiden pada 2014 sudah luas beredar. Ada Megawati Soekarnoputri, Jusuf
Kalla, Prabowo Subianto, Aburizal Bakrie, Wiranto, Anas Urbaningrum, dan
Hatta Rajasa.
Hasil survei SMRC itu mengindikasikan sejumlah hal. Pertama, hiruk pikuk
calon presiden hanyalah heboh di tingkat elite, sedangkan rakyat tidak
peduli dengan siapa pun yang bakal menjadi presiden.
Kedua, partai politik tidak mendengarkan aspirasi rakyat, tetapi hanya
mendengarkan suara pengurus. Akibatnya, ada parpol sudah memutuskan calon
presiden tanpa mendengarkan suara rakyat.
Ketiga, adanya apatisme publik. Masyarakat beranggapan ada atau tidak ada
presiden tidak ada pengaruhnya secara konkret bagi kehidupan mereka. Hal
tersebut terkait erat dengan kinerja presiden-presiden sebelumnya.
Jika kinerja presiden-presiden sebelumnya berkontribusi besar bagi kehidupan
masyarakat secara langsung, tentu tingkat partisipasi dan atensi publik
dalam pemilihan presiden juga besar.
Fakta bahwa partai politik menjadi elitis dan hanya mendengarkan suara
pengurus mestinya mendorong perlunya dibuka ruang bagi munculnya calon
presiden melalui jalur independen. Kita tahu bahwa menurut konstitusi calon
presiden hanya diusung partai politik. Tetapi bila parpol gemar mencampakkan
suara rakyat, perlu calon presiden dari jalur independen.
Kita khawatir jika posisi seperti hasil survei itu berlarut hingga 2014 saat
pemilihan presiden digelar, legitimasi presiden terpilih kelak akan sangat
buruk karena partisipasi publik dalam pemilihan presiden hanya 40%.
Bandingkan dengan Pemilu 2009 yang diikuti 74% pemilih dari sekitar 171 juta
warga yang terdaftar sebagai pemilih. Hasilnya, pasangan Susilo Bambang
Yudhoyono-Boediono memenangi pemilihan presiden satu putaran dengan meraup
dukungan 60,80% suara sah.
Dengan tingkat partisipasi pemilih lebih dari 50% dan hasil yang meyakinkan,
presiden terpilih sebenarnya memiliki legitimasi yang kuat. Tinggal
berpulang kepada presiden terpilih, apakah memiliki kemampuan dan keberanian
mengelola legitimasi itu agar tidak gampang didikte partai-partai koalisi
yang mendukungnya.
Kita mengusulkan agar kelak partai politik peraih suara terbanyak dalam
pemilu legislatif yang terutama didukung mengajukan calon presiden. Hal itu
untuk menghindari adanya politik dagang sapi, juga menghindari adanya
koalisi obesitas yang memenjarakan presiden terpilih.
[Non-text portions of this message have been removed]
[Non-text portions of this message have been removed]