R a l a t Ref: Lantas apa yang bisa dibuat untuk menghindari bencana besar yang akan datang? Tahun 1999 sudah terjadi bencana besar buatan manusia yaitu rezim Neo-Mojopahit kirim Laskar Jihad ke Maluku disponsor oleh SBY dan komplotan biadabnya. Sekarang tunggu bencana buatan Illahi.
http://www.ambonekspres.com/index.php?option=read&cat=53&id=38832 RABU, 17 Juli 2012 | Siklus 100 Tahunan Setelah Elpaputih Ambon Diambang Bencana Besar AMBON, AE—Sesuai siklus Geologi, Kota Ambon dan Provinsi Maluku secara umum terancam bencana besar siklus bencana 100 tahunan setelah, bencana Elpaputih, Kabupaten Maluku Tengah sekitar 1899 silam. Bencana diprediksi akan terjadi pada tahun 1999, namun perkiraan ilmiah itu belum terbukti. Hal ini disampaikan pakar Geofisika dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (F-MIPA) Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon, Robert Hutagalung. “Pasti akan terjadi lagi. Hanya kapan? Saya belum bisa memastikan pastinya,” kata dia. Sesuai siklus geologi, bencana seperti Elpaputih akan berulang setelah 100 tahun kemudian. Dengan hitungan manual, bencana dasyat itu harusnya sudah terjadi pada tahun 1999. Bukannya bencana yang terjadi, malalah konflik horisontal “Kalau menurut teori Geologi, umurnya 100 tahun, baru siklus itu akan terulang lagi,” katanya, Senin (16/7). Hanya saja, prediksinya, Ambon dan Maluku secara umum tetap dilanda bencana dalam interval waktu 25 tahun, 50 tahun dan 75 tahun setelah elpaputih 1899 silam. Dan puncaknya pada 1999 lalu. Kendati hal tersebut belum bisa dipastikan kapan terjadi, dia meminta Pemerintah Kota Ambon maupun Provinsi Maluku tidak boleh mengambil resiko, karena Ambon dan wilayah Maluku pada umumnya dilalui oleh banyak jalur patahan. Sedangkan wilayah pemukiman di Kota Ambon pada umumnya banyak berada pada daerah sekitar patahan. Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitiannya. “Kalau gempa terjadi, akan berdampak pada masyarakat yang pada umumnya berada di dekat jalur patahan,” ujarnya. Untuk itu, kata dia, perlu dilakukan penelitian secara Geofisika untuk meneliti lokasi-lokasi patahan dengan teliti untuk menentukan kebijakan tata kota atau pemukiman penduduk. Bisa saja dilakukan antisipasi kerawanan, katanya, pada pemukiman penduduk di daerah tertentu dekat patahan dengan membuat penyangga. Tapi bisa saja, pembuatan penyangga tidak efektif. ‘’Jalan satu-satunya dilakukan relokasi pemukiman, dengan cara pemerintah harus menyediakan pemukiman baru bagi penduduk yang berada di daerah rawan bencana,” kata dia. Hanya saja, lanjut Hutagalung, kebijakan tersebut harus diambil setelah dilakukan penelitian secara seksama. “Saya takut kalau kondisi patahan yang ada sangat parah. Untuk itu, harus dilakukan penelitian untuk mengetahui apakah ada bongkahan atau ruang kosong di dalam tanah. karena ini akan sangat fatal bila terjadi gempa di Kota Ambon, karena bisa mengakibatkan tanah terbelah atau jeblos ke bawah,” tandasnya. (CR9 [Non-text portions of this message have been removed]
