Seorang politikus yang bodohnya sedang-sedangan saja tidak akan melontarkan ucapan sedungu Marzuki ini. Bahkan seorang politikus yang anti rakyat sekalipun, tidak akan menunjukkan kebodohannya dengan uacapan yang sebanal ucapan Marzuki.
Tapi mengapa bisa sampai demikian?. Tentu ada sejarahnya. suharto, selama lebih dari 30 tahun tidak hanya membodohkan rakyat tapi juga membodohkan para intelektuil (politikus) produk kekuasaannya. Ucapan Marzuki Ali sebagai seorang Ketua DPR adalah ucapan yang tidak beradab. Dia tidak tahu sumber yang menyebabkan kemiskinan rakyat dan bahkan dia tidak tahu bahwa dirinya yang lebih bodoh dari rakyat yang dia hina bisa jadi ketua DPR dan yang lebih parah lagi dia tidak tahu bahwa dia adalah produk kekuasaan suharto yang "ketiban pulung" bisa jadi pembesar meskipun kepalanya cuma sebesar kepala udang. ASAHAN. ----- Original Message ----- From: Salim Said Sent: Monday, July 16, 2012 4:16 AM Subject: Fwd: [GELORA45] Marzuki: Orang Miskin itu Malas Masih ada komentar mengenai Dr.Marzuki Ali yang ketua DPR kita itu? ---------- Forwarded message ---------- From: ChanCT <[email protected]> Date: 2012/7/15 Setuuujuuuu, pak Saf! Itu pejabat tinggi yang nangkring menikmati kehidupan mewah diatas penderitaan rakyat banyak, justru tidak bisa mengerti betapa lemah dan tidak bertenaga orang-miskin yang hidup kelaparan sudah bertahun-tahun, ... kok seenak udelnya sendiri ngoceh dibilang malas. Pemerintah yang harus bertanggungjawab menciptakan lapang kerja cukup dan baik bagi rakyatnya, ... pejabat-pejabat tinggi itulah yang seharusnya berpikir mengabdikan dirinya lebih baik pada rakyat banyak, bagaimana memperbaiki nasib dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Betul-betul pejabat tinggi macam Marzuki Ali, rupanya tidak pernah bisa memahami penderitaan rakyat miskin, bagaimana berat rakyat menghadapi penderitaan kehidupan didunia yang ditindih penghisapan majikan yang selama ini berselingkuh dengan pejabat tinggi negara. Salam, ChanCT ----- 原始郵件----- 寄件者: Dr. Saafroedin Bahar Saya heran kok Partai Demokrat mempercayakan jabatan Ketua DPR RI kepada " politisi aneh" seperti Bung Marzuki ini. Sudah berkali-kali si Bung menyakiti hati Rakyat. Apa si Bung ini tak tahu betapa beratnya Rakyat harus membanting tulang agar bisa hidup ? Pertanyaan saya : apa bukan anggota DPR itu yang justru malas, dengan demikian banyaknya kursi kosong dalam " sidang paripurna " DPR ? Teriring salam. Dikirim dari iPad saya On 13 Jul 2012, at 08:50, "Sunny" <[email protected]> wrote: Ref: Dulu kala mayoritas penduduk Hindia Belanda miskin. Kaum kolonial bilang : “De inlanders zijn lui” [Boemipoetra malas]. Pernyataan ini sama dengan ucapan Marzuki Ali, ketua DPR NKRi : “Orang miskin itu malas”. Pikir punya pikir, sekalipun kaum kolonialis Belanda sudah lama dipergikan, tetapi paraktek kolonilisme masih terus diprakterkan pada masyarakat yang dulu disebut Hindia Belanda dan sekarang NKRI yang dibilang merdeka dan berdaulat penuh. Siapa merdeka dan berdaulat penuh ini mirip apa yang dikatakan oleh George Orwell, penulis Inggris dalam bukunya “Animal Farm”. : “We all are equal but some are more equal “. Hasil sensus 2010 memberitakan 10 propinsi termiskin. Propinsi-propinsi ini adalah : Papua Barat, Papua, Maluku, Aceh Sulawesi Barat, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Bangka Bilitung, Gorontalo, Sumatera Selatan. Jadi menurut pengertian Ali Marsuki, ketua DPR NKRI ini maka rakyat diwalayah-wilayah tsb malas. Mereka malas atau dimalaskan untuk tidak dapat menikmati hasil kekayaan alam mereka yang dikeruniakan oleh Allah? Sebagai contoh perlu dikatakan bahwa untuk tahun 2011 dari hasil kekayaan alam Papua, yaitu hanya dari hasil pengolahan emas, PT Freeport Inc memberikan setoran royality, pajak etc sebanyak US$ 2,6 miliar ke kas NKRI. Setoran ini berjalan puluhan tahun, dan sekalipun demikian penduduk Papua yang berjumlah kurang lebih 4 juta tetap miskin dan dimarginalisasikan. Marsuki Ali dan konco bin sobat petinggi SBY serta komplotannya dan para pendukung setia mereka, silahkan simak video ini bagaimana malasnya orang miskin, click :http://www.idenesia.tv/media/jadi-tukang-sampah-di-jakarta http://surabaya.tribunnews.com/2012/07/08/marzuki-orang-miskin-itu-malas Marzuki: Orang Miskin itu Malas Minggu, 8 Juli 2012 19:57 WIB | Dibaca: 797 | Editor: Satwika Rumeksa | Reporter : Sutono Foto: surya/sutono Ketua DPR RI Marzuki Alie, usai menghadiri pembukaan kongres BEM PTNU di Unipdu Jombang.( a.. SURYA Online, JOMBANG–Ketua DPR RI Marzuki Ali kembali melontarkan komentar nyeleneh. Mengomentari soal kemiskinan , Wakil Ketua Dewan Pembina DPP Partai Demokrat ini lebih menilai kondisi seperti itu terjadi karena orang miskinnya sendiri. “Jadi bukan salah siapapun kalau ada orang miskin. Itu salahnya sendiri, karena dia malas,” ucapnya saat menjawab pertanyaan saat menjadi nara sumber dalam acara seminar yang digelar bersamaan Kongres BEM PTNU se-Indonesia di Unipdu Rejoso, Minggu (8/7/2012). Saat itu, moderator Zaimudin Asad (Gus Zuem) membuka sesi dialog pertama. Sejumlah mahasiswa langsung bermaksud bertanya, dengan mengacungkan telunjuk jari. Gus Zuem pun lantas memberikan kesempatan pada empat mahasiswa. Di antara penanya itu ada yang mengkritisi maraknya kasus korupsi yang terjadi di negeri ini. Termasuk yang dilakukan para anggota DPR RI. “Menurut bapak, sejauhmana korupsi itu berimbas pada munculnya kemiskinan?” tanya si mahasiswa. Bukannya mengulas soal korupsi yang banyak melibatkan anggota DPR RI dewan yang dipimpinnnya, saat itu Marzuki justru mencoba berkelit dengan mengatakan, tidak ada orang miskin disebabkan orang lain. “Salah sendiri malas. Kalau mau usaha, pasti tidak miskin,” jelasnya. Tentu saja pernyataan itu berbeda dengan pandangan banyak pihak yang menilai tingginya angka kemiskinan salah satunya disebabkan tidak adanya keadilan dan pemerataan kesejahteraan. Meski demikian, Marzuki tetap mengajak untuk membantu orang miskin tertentu. “Kalau ada orang miskin karena kekurangan dan keterbatasan, itu tetap harus kita bantu,” ajaknya. Misalnya, orang miskin karena cacat fisik atau sakit sehingga dia tidak bisa mencari nafkah.
