Memang Ketua Mahkamah Konstitusi tidak berhak membubarkan semua Parpol. Tapi 
satu kenyataan, semua Parpol(tidak ada kecualinya) adalah Parpol borjuis yang 
tidak mewakili kepentingan rakyat dan bangsa Indonesia dan semuanya mewarisi 
budaya feodal. Mereka hanya berjuang untuk masuk Parlemen (DPR) untuk 
kepentingan mereka sendiri dan cari makan sambil mengatas namakan dirinya 
sebagai wakil rakyat atau wakil "wong cilik". Tapi Ketua Mahkamah Konstitusi 
lebih memilih mempertahankan Parpol-perpol yang jelek semuanya daripada memberi 
hak hidup pada sebuah Partai Pelopor yang berhaluan Marxis yang hingga detik 
ini dilarang oleh undang-undang peninggalan suharto (TAP MPRS/25/1966). Jelas 
Indonesia memberlakukan demokrasi pincang atau demokrasi palsu. Ketika pemimpin 
Jerman Angela Merkel bertanya pada Ketua mahkamah Konstitusi apakah di 
Indonesia ada kebebasan memilih agama dan memilih tidak beragama, Mahfud 
menjawab ada dan katanya atheispun tidak dilarang, komunist  juga berhak hidup. 
Tapi ketiak(maksud saya ketika) sang Ketua diserbu orang-orang yang menuduhnya 
sebagai pendukung Komunisme dan atheisme, dia cepat menjilat ludahnya sendiri 
dari keranjang sampah dengan mengatakan bahwa Komunisme dan atheisme adalah 
melanggar undang-undang dasar meskipun tidak bisa dihukum karna tidak ada 
undang-undangnya...! Sungguh absurd dan bodoh cara mundur tanpa tahu malu dan 
hina semacam itu.Lalu sekarang dengan gagah dan pongahnya dia bilang; "LEBIH 
BAIK ADA PARPOL YANG JELEK DARIPADA NGGAK ADA PARPOL. ITU PRINSIP. KARENA 
SEJELEK APAPUN BISA MENGIMBANGI OTORITERISME DARI KEKUASAAN".  Bukan main! 
Seolah dia seorang demokrat kaliber dunia yang sungguh-sungguh anti 
Otoriterisme. Tentu saja menurut dia sebaik-baik parpol yang berhaluan Marxis, 
Parpol demikian tidak boleh lahir, tidak boleh ujud, terlarang sepanjang masa!. 
Dan itulah "demokrasi" a la Indonesia! MUNAFIK DAN PALSU !  Sugguh Mahfud ini 
munafik, musyrik sebagai Ketua mahkamah yang sulit dimahfumi.Masyaallah...!
ASAHAN.



----- Original Message ----- 
From: GELORA45 
To: GELORA_In 
Sent: Wednesday, July 18, 2012 5:01 AM
Subject: #sastra-pembebasan# Belajar Moralitas Politik dari Mohammad Natsir - 
Mahfud Tolak Pembubaran Parpol - Politik Pencitraan Itu Menyesatkan
Mahfud Tolak Pembubaran Parpol
Penulis : Sandro Gatra | Rabu, 18 Juli 2012 | 04:29 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD tak mendukung desakan 
berbagai pihak agar semua partai politik dibubarkan lantaran politisinya terus 
terlibat kasus korupsi maupun kasus lain. Menurut Mahfud, di negara demokrasi 
parpol harus tetap ada. 

"Lebih baik ada parpol yang jelek daripada enggak ada parpol. Itu prinsip. 
Karena sejelek apa pun bisa mengimbangi otoriterisme dari kekuasaan," kata 
Mahfud di Jakarta, Selasa (17/7/2012) malam. 

Menurut Mahfud, parpol seharusnya menjadi tempat untuk menghasilkan para 
pemimpin ke depan. Namun, kata dia, pada kenyataannya pemimpin parpol saat ini 
cenderung menindas kader bawahannya agar tidak bisa tampil menjadi pemimpin. 

"Selalu diasumsikan di dalam kehidupan kita, yang terbaik itu ketua umum karena 
dipilih kongres. Padahal, kongres itu kan bisa direkayasa, sudah tahu semua 
itu," kata dia. 

Untuk itu, menurut Mahfud, tugas semua pihak saat ini yakni memperbaiki parpol. 
Salah satu cara pembenahan parpol yang cukup efektif, lanjut dia, yaitu melalui 
jalur media massa. Media dinilai sangat efektif untuk melakukan perubahan. 

Mahfud menilai sulit mengharapkan perbaikan dilakukan dari internal partai 
lantaran kecenderungan pemimpin parpol yang menindas dengan ancaman dikeluarkan 
dari partai. Akibatnya, kader bawah takut untuk mengingatkan jika ada 
kesalahan. 

"Saya kira bagaimana kita dan media massa mendorong agar parpol seperti parpol 
di AS (Amerika Serikat). Tidak perlu tahu siapa ketuanya. Tapi siapa yang baik 
masuk di situ sesuai mekanisme yang disediakan. Kita harus mendorong ke sana," 
kata Mahfud. 

Editor :
Benny N Joewono

http://www.suarapembaruan.com/home/siti-zuhro-politik-pencitraan-itu-menyesatkan/22368
Siti Zuhro: Politik Pencitraan Itu Menyesatkan
Selasa, 17 Juli 2012 | 18:07

Pengamat politik LIPI Siti Zuhro [google]

[JAKARTA] Pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro 
menegaskan unggulnya pasangan calon gubernur-wakil gubernur Jokowi-Ahok pada 
Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta menunjukkan telah terjadi proses 
demokrasi di tengah masyarakat. 

Ia menilai para kandidat cagub-cawagub mesti mengurangi melakukan politik 
pencitraan. karena gaya politik tersebut cenderung menyesatkan. Ia juga 
mengingatkan agar rakyat tidak tergoda dengan iming-iming pencitraan, karena 
masyarakat Jakarta menginginkan perubahan tanpa terpengaruh iklan, maupun uang. 

"Masyarakat saat ini butuh pemimpin yang kembali ke konsep awal demokrasi, 
yaitu 'dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat'. Dan benar-benar pemimpin yang 
bisa memimpin, bukan pemimpin berdasarkan iklan maupun uang" ungkapnya pada 
diskusi "Pemimpin Iklan dan Uang Versus Pemimpin Rakyat" di Rumah Perubahan, 
Jakarta, Selasa (17/7). 

Dikatakan, saat ini masyarakat tidak butuh pemimpin uang, pemimpin iklan, 
melainkan pemimpin rakyat. Dalam Pilkada, misalnya harus dikurangi dominan 
politik pencitraan, sebab hal itu menyesatkan dan jangan ada dusta terhadap 
publik. 

Menurutnya, kampanye hitam yang berkembang di Pilkada tidak mendidik 
masyarakat. Diketahui tak jarang isu yang menyudutkan pasangan Jokowi-Ahok yang 
bernuansa SARA, seperti etnis dan agama yang menyerang mereka. 

Pilkada pun menyisakan kepada dua pasangan, yaitu Jokowi-Ahok dan Foke-Nara 
yang akan bertarung di putaran kedua nanti. Siti menyarankan para kandidat 
berani "menelanjangi" diri mereka sendiri sehingga tidak berkembang rumor yang 
negatif di masyarakat. Hal ini guna menghindari kampanye hitam yang muncul 
dalam masa kampanye hingga pencoblosan. 

"Kita harus menelanjangi pasangan cagub yang pentas. Maksudnya, dia harus 
menerangkan siapa sosok dirinya itu. Jadi tidak ada menerka-nerka. Kalau dia 
beragama Kristen dan beretnis Tionghoa, katakan saja, kenapa harus takut. Hal 
ini dilakukan supaya tidak ada dusta di antara mereka, dan supaya juga nggak 
ada dusta terhadap publik,” jelas Siti. [H-15] 

[Non-text portions of this message have been removed]




[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke