Kronologi bentrok 22 Desa dengan Aparat polisi, Brimob dan penangkapan 12 warga 
oleh Brimob, Pada Konflik Agraria Antara PTPN VII dengan 22 desa Ogan Ilir.     
 


Upaya perjuangan Petani dari 22 desa di kabupaten Ogan ilir, Sumatera selatan 
untuk mengambil tanah, yang dirampas oleh PTPN VII telah dilakukan sejak lama. 
Aksi aksi massa dengan mendatangi Kantor Pemerintah yang ada di Kabupaten dan 
provinsi telah berulang kali dilakukan namun dalam setiap kesempatan mediasi 
yang di fasilitasi oleh pihak legislatif maupun Eksekutif di Kabupaten dan 
Propinsi tersebut tidak pernah dapat menyelesaikannya.
 
Alasan yang diutarakan oleh Pemerintah dan Legislatif seirama dengan alasan 
dari PTPN VII yang menyebutkan Perusahaan ini milik negara, sehingga untuk 
melepaskan tanah yang jika tidak mau disebut dengan mengembalikan tanah rakyat 
yang mereka rampas tersebut hanya dapat dilakukan pemerintah Pusat yang dalam 
hal ini adalah Kementerian BUMN RI.
 
Hal ini akhirnya membuat Petani yang selama ini tergabung dalam gerakan Petani 
Penesak Bersatu (GPPB) berinisiatif dan menyepakati untuk mengelar aksi di 
Jakarta, sedikitnya 600 orang petani pada tanggal 1 – 6 Juli lalu melakukan 
aksi di kantor lembaga negara da kementerian negara salah satunya adalah 
kementeria BUMN. Namun pada saat itu Pihak Kementerian tidak dapat memutuskan 
dan mereka mengagendakan kepada perwakilan warga untuk memfasilitasi Pertemuan 
Mediasi antara PTPN VII dengan Perwakilan masyarakat pada 16 Juli 2012.
 
Sesuai tanggal yang dijanjikan oleh Pihak Kementerian BUMN  sedikitnya 80 orang 
perwakilan masyarakat yang didampingi oleh WALHI Sumsel pada Jumat, 14 Juli 
2012 berangkat kejakarta menggunakan Angkutan Darat.
 
Tanggal 16 Juli sekitar pukul 8.00 Wib pagi, masyarakat yang sudah sampai 
dijakarta sejak satu hari yang lalu, sudah bersiap siap untuk pergi kekantor 
Kementerian BUMN sesuai dengan jadwal yang diberikan oleh BUMN kepada 
masyarakat Pukul 10.00 wib. Namun saat warga dan beberapa perwakilan organisasi 
WALHI,KPA,ELSAM,SPI, dan SAWIT Watch akan berangkat ke kementerian BUMN. Mereka 
mendapat Konfirmasi ulang dari Pihak BUMN yang mengatakan bahwa pertemuan 
diundur Pukul 15.30 Wib.
 
Saat Pukul 15.30 Wib warga sudah berada di Kemeterian BUMN namun acara mediasi 
Konflik belum juga dimulai, baru di mulai pada Pukul 16.00 Wib, Warga pesimis 
pertemuan ini akan menghasilkan sebuah hasil karena dilihat waktu yang sudah 
sangat sore.
 
Saat mediasi terjadi PTPN VII dan BUMN diwakili oleh Sekretaris menteri,Deputi 
Menteri BUMN bidang industri primer, Direktur Utama PTPN VII, dan Direksi PTPN 
VII.
 
Perdebatan terjadi,beberapa masukan dan usulan dari Perwakilan warga dan 
beberapa Organisasi pendamping kepada Pihak BUMN dan PTPN VII tidak diterima 
oleh mereka (ditolak), dan perusahaan tetap ngotot meminta agar masalah ini 
diselesaikan di Pengadilan.
 
Adapun usulan Warga adalah sebagai berikut :
1. Dibuatnya team penyelesaian Konflik Agraria dengan tugasnya melakukan 
pendataan ulang dan pengukuran ulang terhadap lahan PTPN VII secara keseluruhan 
sesuai dengan HGU.
2. Membuka data dan dokumen bukti bukti lahan baik yang dimiliki warga maupun 
yang dimiliki PTPN VII. 
 
Pertemuan dihentikan dan masing masing membubarkan diri.
 
Pukul 19.00 Wib, sekitar 80 orang perwakilan berjalan pulang ke palembang 
dengan menggunakan jalan Darat.  
 
Hari Pertama, Selasa 17 Juli 2011.
 
Pukul 08.00 wib beberapa staf Walhi sumsel menerima SMS dari seorang wartawan 
yang mennanyakan tentang kondisi di desa desa yang berkonflik dengan PTPN VII, 
karena mereka mendapatkan informasi bahwa kondisi didesa memanas. Menjawab hal 
itu staf walhi tersbut mengatakan bahwa kondisi dilapangan tidak terjadi apa 
apa, dan mungkin itu hanya isu, karena malam tanggal 16/7 Walhi pun mendapatkan 
BBM dari seorang wartawan dan menanyakan juga hal seperti itu, dan mengatakan 
bahwa ada banyak polisi berdatangan mengamankan pabrik.
 
Disaat yang sama pukul 08.00 wib kondisi dilapangan, Muncul titik api di lahan 
lahan  tebu yang telah di panen oleh PTPN VII. Tanpa diketahui apa penyebabnya.
 
08.30 Wib, Tak lama dari munculnya titik titik api di lahan tebu yang telah 
dipanen tersebut, Ratusan polisi dengan menggunakan mobil truck berdatangan ke 
lokasi dan mulai berjaga jaga dilahan.
 
Melihat ratusan polisi berdatangan ke lokasi, beberapa warga desa ketiau yang 
sebelumnya berada di posko warga yang ada di dekat pabrik cinta manis, 
membubarkan diri dan bergerak untuk pulang kerumah.
 
Pukul 09.00 Wib, Di desa Betung satu buah alat berat yang sedang dikemudikan 
oleh karyawan PTPN VII, dihadang oleh 6 orang tak dikenal, kemudian 
membakarnya. Pada saat itu warga desa betung sedang menjalankan aktifitas 
sehari hari yaitu ke kebun masing masing untuk menyadap karet, guna menyiapkan 
bekal untuk kepasar mingguan besok hari..
 
Pukul 13.30 Wib, Warga melihat ada sekelompok orang yang tidak dikenal dan 
mengunakan penutup muka melakukan penyerbuan terhadap pabrik PTPN VII yang 
berada di desa Ketiau
 
Disaat Penyerbuan oleh kelompok orang yang tidak dikenal tersebut terjadi, 
Humas GPPB yang bernama Rusdi, yang saat itu sedang berada di perjalanan pulang 
ke desa, dari mengikuti mediasi yang dilakukan oleh Kementerian BUMN dijakarta. 
Di hubungi oleh seseorang yang mengaku bernama Putra dari desa payalingkung. 
Orang ini meminta agar Rusdi dapat mengerahkan massa dari desa desa lain untuk 
menuju pabrik, dan menurut keterangan Putra di telpon tersebut, sebelum 
menelpon telah berkoordinasi dengan koordinator desa payalingkung. Namun rusdi 
tidak mengiyakan dan orang tersebut pun langsung menutup telepon.
 
Rusdi mencoba mengkroscek permintaan tersebut kepada koordiantor desa 
payalingkung dengan menelpon beliau, dalam obrolan telpon tersebut Kordes Desa 
payalingkung mengatakan bahwa tidak ada anggota dari petani payalingkung yang 
bernama Putra, dan berkoordinasi dengan dia, serta tidak ada petani 
payalingkung yang melakukan penyerbuan ke pabrik PTPN VII.
 
Pukul 15.00 wib akibat provokasi dari kelompok orang tak dikenal, beberapa 
orang petani yang melihat kejadian pun terpncing oleh provokasi orang yang 
memakai penutup muka tersebut, Bentrok antara Petani dengan aparat pun tak 
dapat di hindari, namun dalam bentrokan tersebut massa petani masih sedikit dan 
tidak ada warga yang membawa senjata rakitan ataupun kecepek.
 
Tembakan Gas air mata terus menerus di keluarkan oleh Pihak Kepolisian, akibat 
nya dilokasi tersebut di penuhi oleh pekatnya asap dari terbakarnya kebun tebu 
yang telah dipanen dan asap dari gas air mata Polisi.
 
Pukul 15.30 Saat bentrok terjadi anwar sadat Walhi sumsel yang saat itu sedang 
berada di bandara Soekarno hatta jakarta dan Rusdi tahar yang merupakan salah 
satu anggota DPRD sumsel yang juga warga desa sri bandung (salah satu desa yang 
berkonflik), dihubungi oleh Direskrimsus Polda Sumsel, Kapolres Ogan ilir dan 
Danrem untuk datang ke lokasi bentrok, guna menenangkan warga dan menemui 
mereka.
 
Anwar sadat mengatakan bahwa dia tidak dapat kesana karena sedang berada di 
bandara Soeta untuk pulang ke palembang sore ini, Namun Berbeda dengan Rusdi 
tahar setelah mendapatkan telpon tersebut dia sedang kunjungan kerja di halan 
Linstas Timur, namun karena berulang kali ditelpon akhirnya setelah Kunker 
Rusdi Tahar langsung menuju Lokasi bentrok.
 
Pukul 16.20 Wib Rusdi Tahar Sampai dilokasi bentrok. Dia pun langsung keluar 
dari Mobil dan mengambil Toa meminta warga untuk mundur. Warga pun mulai mundur 
perlahan dan disaat itu Brimob bergerak maju kedepan, namun disaat warga 
mundur, aparat semakin ramai dan menyusup kemudian terlihat 2 orang warga di 
pukuli oleh aparat Rusdi Tahar berusaha mencegah tetapi akhirnya Rusdi Tahar 
malah ditangkap dan di pukuli oleh Aparat baik yang berpakaian Preman, maupun 
berpakaian Dinas resmi.dan langsung dimasukan kemobil bersama 4 orang petani 
lainnya.
 
Melihat dan mendengar kabar Rusdi Tahar dan beberapa Petani lainnya di tangkap 
oleh Polisi, Warga yang tadinya sudah mundur, kembali maju dan setelah itu 
massa semakin banyak,bentrok pun tidak bisa terhindari.
 
Pukul 16.30 Wib, Disaat Bentrok antara Petani dan Aparat Polisi dan Brimob 
sedang terjadi, tiba tiba dikabarkan bahwa rumah atau yang biasa di sebut warga 
dengan workshop yang jaraknya sekitar 4 – 5 KM dari Lokasi bentrok berlangsung, 
terbakar tanpa diketahui siapa Pelakunya.
 
Pukul 17.00 wib. Ditempat lain, saat Hand Phone Anwar sadat Direktur Walhi 
Sumsel sedang tidak aktif karena sedang berada di Pesawat untuk pulang. 
Beberapa Petani yang tidak ikut dalam bentrokan dan sedang berada di rumah, 
menerima SMS dan informasi dari nomor yang tidak dikenal, mengabarkan bahwa 
Anwar sadat ditangkap Polisi. Hal itu menimbulkan reaksi dari Petani dan secara 
bersama sam akan menuju lokasi bentrok, namun Pimpinan Massa mencoba 
menenangkan massa, dengan mengatakan bahwa kita harus mengkonfirmasi
ke anwar sadat, tapi HP sadat stidak aktif, warga pun mengirimkan SMS. Belum 
ada gerakan dari massa.
 
Pukul 18.00 Wib, Anwar sadat sampai di Palembang dan ketika menghidupkan HP nya 
dia mendapat beberapa sms dari warga yang menanyakan kebenaran informasi yang 
mereka dapat. Namun Sadat langsung mengatakan bahwa hal itu tidaklah benar, dia 
sedang menuju perjalanan ke kantor WALHI. Dan sadat langsung meminta agar warga 
tidak mendekati lokasi bentrok dan meminta mereka pulang kerumah masing masing.
 
Pukul 18.30 Wib,Bentrokan meredah terjadi negosiasi antara perwakilan massa 
yang meminta Aparat segera melepaskan teman teman mereka yang ditangkap polisi. 
Desakan warga berhasil, Polisi membebaskan Rusdi tahar dan 4 Orang lainnya. 
Saat berada di tengah massa, terlihat Luka lebam di wajah dan di 
tangan,begitupun dengan 2 orang lainnya yang alami pecah di bagian bibir dan 
hidung.Sedangkan 2 petani lainnya mengalami luka bocor di kepala dan muka lebam 
yang menurut pengakuan nya ketika berada didalam mobil mereka di Pukuli mka dan 
kepalanya dengan benda yang membuat kepalanya terluka robek,. Dan sempat 
diancam ditembak di bagian pahanya dengan tiga tembakan hadiah dari PTP Cinta 
manis, jika berani melihat aparat yang sedang menyiksanya.selain itu diapun 
ditelanjangi dan uang disaku celana sebesar 3,2 juta hilang.
 
Pukul 18.40 – 19.00 Wib, Warga yang sedang berkumpul di Posko desa Sri Bandung 
diminta oleh Rusdi Tahar untuk membubarkan diri, warga pun bubar dan kembali 
kerumah masing.

Suasana lokasi pun tenang kembali namun api di beberapa lahan tebu dan Workshop 
yang dibakar masih terlihat menyala.
 
Hari Kedua, Kamis, 18/7/2012
 
Pagi hari kondisi kondusif warga menjalankan aktifitasnya sehari-hari. Namun 
terlihat dari beberapa Karyawan PTPN VII yang tinggal di Mess yang ada di rayon 
3 mulai mengosongkan mess dan mengangkut barang barang mereka keluar.
 
Pukul 13.30 Wib,Warga berkumpul di posko yang ada di desa Sri bandung untuk 
berbincang bincang dengan beberapa Jurnalis dari berbaai media yang saat itu 
datang untuk menjalankan tugasnya mencari berita.
 
Pukul 13.50 Wib, saat warga sedang aksinya menjawab pertanyaan wartawan, tiba 
tiba warga di kejutkan dengan munculnya kobaran api di mess karyawan di rayon 3 
tidak diketahui disebabka oleh apa, namun sebelumnya pagi sampai siang hari 
Mess tersebut telah dikosongkan terlebih dahulu oleh Karyawannya.
 
Tidak ada tindakan dari perusahaan untuk segera memadamkan kebakaran yang 
terjadi di Mess karyawan tersebut.
 
Pukul 19.00 Wib, Perwakilan warga melakukan pertemuan bersama dengan Walhi dan 
Organisasi lainnya. Dalam pertemuan tersebut, warga diminta oleh Anwar sadat 
untuk tenang dan melakukan aktifitas seperti biasa dan tidak terpancing oleh 
ulah provokator dan beberapa oknum, yang menginginkan agar bentro ini terjadi 
sehingga warga tidak fokus lagi terhadap perjuangan atas lahan yang selama ini 
Dirampas oleh PTPN VII.
 
Selain itu warga bersama walhi sumsel bersepakat untuk besok hari pukul 14.00 
wib akan mengelar Konferensi pers di Kantor Walhi Sumsel terkait dengan 
kronologis yang sebenarnya dilapangan, yang sangat jauh berbeda dengan apa yang 
diberitakan oleh perusahaan melalui Konferensi persnya dan di beritakan banyak 
media cetak dan televisi tanpa memberikan ruang tanggapan dan pemberitaan bagi 
masyarakat. 
 
Dalam pertemuan tersebut di identifikasi ada beberapa Anggota Kepolisian 
sehingga warga meminta anggota tersebut untuk keluar dari pertemuan tersebut.
 
Setelah pertemuan massa pun bubar  kerumaha masing masing.
 
Hari ke Tiga, Kamis Tanggal 19/7/2012.
 
Pagi hari suasana kondusif warga menjalankan aktifitasnya sehari hari beberapa 
perwakilan warga dari GPPB bersiap siap untuk berangkat ke palembang bersama 
beberapa korban penganiayaan pada hari pertama kejadian.
 
Pukul 11.30 Wib, Beberapa Jurnalis mengkonfirmasi kepada Hadi jatmiko Kadiv 
PPER Walhi Sumsel melalui BBM menanyakan soal sms yang mereka terima dari Nomor 
0823 7683 8959 yang isinya ”Informasi : Hari ini sekitar 200 massa akan
datang ke Polres Ogan ilir. Massa telah menyiapkan parang, pedang, celurit, 
kayu dan kecepek.. massa juga ada tim untuk menculik para preman yang 
berkeliaran di PTPN Cinta Manis”
 
Hadi menjawab bahwa itu berita HOAX dan pasti disebarkan orang yang tidak 
bertanggung jawab yang ingin memperkeruh keadaan. Warga hari ini fokus ingin 
melakukan konferensi pers di Walhi Sumsel tidak ada keinginan untuk melakukan 
aksi. Apalagi melakukan aksi dengan membawa senjata.
 
Pukul 12.30 Wib, 2 Orang Wartawan datang ke Walhi sumsel dan menanyakan hal 
yang sama dengan wartawan sebelumnya.
 
Kondisi didesa masih tenang beberapa orang perwakilan warga sudah diperjalanan 
menuju ke Palembang.
 
Pukul 14.00 Wib, Ratusan brimob menyerang secara membabi buta ke desa Sri 
bandung. Dan tanpa diketahui alasannya, mereka menghancurkan posko yang 
didirikan warga sejak beberapa bulan lalu di atas lahan yang sedang di 
konflikan, pada saat yang sama di posko yang hanya berupa tenda tersebut 
terdapat 20 orang petani. dan tanpa alasan ratusan Brimob tersebut langsung 
menangkap 20 petani namun 8 orang berhasil lari menyelamatkan diri dan sisanya 
sebanyak 11 orang petani di tangkap.
 
Selain itu Brimob yang berjumlah ratusan orang tersebut merusak sedikitnya 15 
unit motor milik warga yang sedang diparkirkan di dekat posko tersebut.
 
Pukul 15.00 Wib, sekitar 4 dari 8 orang yang lolos dari penangkapan tersebut 
dengan kondisi badan penuh lumpur dan bekas pukulan, memberitahukan kepada 
warga yang sedang berada di desa sribandung, bahwa 12 orang Warga ditangkap dan 
dipukuli oleh Brimob ketika sedang berada di Posko.
 
Warga yang mendengar tetang penangkapan tersebut langsung Emosi dan mendatangi 
tempat kejadian, disana mereka melihat brimob dengan senjata lengkap masih 
berada dilokasi. Warga berhadap hadapan dengan Brimob dengan posisi terus 
saling mendekati.
 
Kondisi lapangan kembali mencekam.
 
Disaat yang sama di Palembang tepatnya di Walhi Sumsel  dilakukan Konferensi 
Pers untuk menjelaskan peristiwa yang sebenarnya terjadi di lapangan, namun 
karena kondisi dilapangan memanas. Sehingga konferensi pers di Percepat dan 
anwar sadat, bersama warga dan stafnya langsung menuju lokasi. Yang berjarak 
sekitar 2 jam perjalanan.
 
Pukul 17.00 – 17.15 Wib. Gubernur Sumsel Alex Nurdin mendatangi lokasi di Desa 
Sri Bandung, warga pun segera mendekati Gubernur untuk berdialog. Dalam dialog 
warga minta agar gubernur melepas 12 orang warga yang ditangkap, namun gubernur 
mengatakan tidak bisa karena itu harus melalui proses hukum.
 
Lalu gubernur meninggalkan warga untuk menuju mess perusahaan namun disaat itu 
Polisi yang menggunakan pakaian preman dan brimob menembaki warga dan 
mengeluarkan gas air mata, hal itu membuat warga mundur dan menunduk, setelah 
itu maju warga menyerang dengan melempari aparat polisi dengan kayu yang mereka 
temukan dilokasi. Hal ini membuat Gubernur yang tadinya sedang berjalan 
berhenti.
 
Beberapa rombongan Gubernur meminta polisi dan aparat brimob yang melakukan 
penembakan ke arah warga berhenti melakukannya.
 
Namun hal itu tidak meredam kericuhan yang terjadi. Dan baru terhenti ketika 
warga melihat rombongan Walhi sumsel  yang dipimpin oleh Anwar Sadat datang
kelokasi.
 
Pukul 18.00 Wib, Rombongan Walhi Sumsel menemui Gubernur sumsel yang saat itu 
berada di dekat mess Perusahaan untuk bernegosiasi guna meminta gubernur segera 
melepaskan warga yang di tangkap namun jawaban gubernur sama dengan jawaban 
yang diterima masyarakat saat berdialog sebelumnya. Namun gubernur akan 
melakukan pengukuran terhadap lahan diluar HGU. 
 
Pukul 18.30 Wib, negosiasi tidak membuahkan hasil warga tetap tidak bisa 
dilepaskan, gubenur meninggalkan lokasi.
 
Sadat menemui warga yang masih menunggu dan mengatakan bahwa Gubernur tidak 
bisa melepaskan warga yang ditangkap dan meminta warga untuk bubar dan kembali 
kerumah masing masing. Untuk warga yang motornya diambil oleh pasukan brimob 
dan polisi agar segera mengambilnya.  Informasi 12 warga sudah berada di Polres 
Ogan Ilir.  

Nama nama Warga/petani yang ditangkap dan mengalami penyiksaan yang dilakukan 
oleh Brimob Polda :

Tanggal 17 juli 2012 (hari Pertama )

1. Rusdi tahar (anggota DPRD Sumsel yag juga warga desa sri bandung) ( lami 
Luka lebam di muka dan luka di tangan )
2. Firman bin Kowi (32 tahun) (luka lebam di muka, bibir pecah )
3. Eef (28 tahun) (8 jahitan dikepala karena di pukul benda keras, 
ditelanjangi, uang 3,2 juta hilang diambil polisi, dan diancam di tembak 3 
peluru hadian dari cinta manis kalau melihat polisi melakukan pemukulan)
4. Muslimin ( luka Lebam di Muka bibir dan hidung keuarkan darah)
5. fasili ( Luka lebam di muka bibir dan hidung keluarkan darah)

Tanggal 19 juli 2012 (Hari Ketiga )

1. Maulana 45 tahun,
2.Herman 50 tahun,
3.Mahdi (25),
4. Suhaidi (38),
5.Hakim (36),
6.Wawan(25),
7.anwar(60),
8.matisa (50),
9.Basri (55),
10.Mardi (76),
11.asmin fauzi,
12. sukri (53)

9 orang di ditetapkan jadi tersangka dengan undang undang darurat membawa 
Senjata tajam. 3 Orang lainnya dilepaskan karena tidak terbukti bersalah hal 
ini juga dikarenakan desakan aksi yang dilakukan sedikitnya 3000 massa pada 
hari jumat di depan POLDA sumsel kemarin sedangkan utk 9 orang ini diminta 
kepolisian untuk mengirimkan surat penanguhan.

22 Juli 2012 (hari kelima)

1. Den ahmat (65 tahun)
2. Maryana ( 55 tahun)
3. Yuda (28 tahun)
4. Duwi (21 tahun)
5. M. Parel (bayi berumur 1,5 tahun)

Di tangkap Brimob Sumsel dengan tuduhan melewati jalan PTPN VII saat mereka 
pulang dari kebun. 

by : Wong Palembang <[email protected]>

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke