Jokowi: Jangan Perdaya Warga dengan Isu SARA
Penulis : Riana Afifah | Selasa, 31 Juli 2012 | 00:07 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Terkait isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) 
yang kencang menerpa dirinya, calon gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengatakan 
bahwa kesantunan tetap harus dijalankan saat Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 
DKI Jakarta ini. Untuk itu, ia meminta kepada siapa pun agar tidak memainkan 
isu SARA yang dapat memicu konflik.

"Memperdaya warga Jakarta dengan isu SARA dan black campaign tidak mendidik. 
Nanti warga Jakarta sendiri yang akan memberikan penilaian," kata Jokowi, 
sapaan akrab Joko Widodo, di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, Senin (30/7/2012).

Ia mengaku prihatin dengan kampanye jahat tersebut. Kendati demikian, ia 
menyerahkan semua persoalan tersebut kepada warga Jakarta. Mengingat keputusan 
apa pun dalam pilkada ini memang bermuara pada warga Jakarta. "Warga Jakarta 
itu pinter-pinter masyarakatnya juga cerdas, dan rasional. Terserah warga 
Jakarta menilainya bagaimana," ujar Jokowi.

"Saya sudah biasa menerima isu-isu seperti itu, bahkan sejak empat bulan lalu 
saya suda menerima isu-isu seperti itu," imbuhnya.

Menurutnya, dalam ajang pilkada ini semestinya para calon saling beradu 
program, beradu visi dan mengedepankan solusi. Bukan malah menyebarkan isu-isu 
SARA dan kampanye hitam yang menabrak azas-azas kesantunan.

"Bukan malah memperdaya warga Jakarta dengan isu-isu tersebut," tegasnya. Untuk 
putaran kedua ini, ia mengungkapkan bahwa pihaknya tidak mempersiapkan sesuatu. 
"Saya mengalir saja, apanya yang harus dipersiapkan? Yang penting kita siap 
saja," tandasnya. 

Editor :
Asep Candra


Jakarta 1
Rhoma Irama: Kampanye SARA Dibenarkan
Penulis : Kurnia Sari Aziza | Senin, 30 Juli 2012 | 09:14 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Raja dangdut Rhoma Irama yang juga merupakan tim kampanye 
pasangan calon gubernur Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli menuturkan, kampanye yang 
mengusung suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) dibenarkan. Hal ini 
disampaikannya saat memberikan ceramah shalat tarawih di Masjid Al Isra, 
Tanjung Duren, Jakarta Barat, Minggu, (29/7/2012).

"Di dalam mengampanyekan sesuatu, SARA itu dibenarkan. Sekarang kita sudah 
hidup di zaman keterbukaan dan demokrasi, masyarakat harus mengetahui siapa 
calon pemimpin mereka," kata Rhoma Irama.

Rhoma pun menyebutkan nama Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu Jimly 
Asshidiqie atas dasar pembenaran penggunaan isu SARA. "Saya dapat berbicara 
seperti ini karena memang dibenarkan Ketua Dewan, Jimly Asshidiqie," katanya.

Senada dengan ustaz dan pengurus masjid sebelumnya yang mengajak para jamaah 
untuk memilih yang seiman, Rhoma Irama juga mengimbau para jamaah untuk memilih 
pemimpin yang seiman. "Islam itu agama yang sempurna, memilih pemimpin bukan 
hanya soal politik, melainkan juga ibadah. Pilihlah yang seiman dengan 
mayoritas masyarakat Jakarta," ujarnya.

Dalam ceramahnya, Fauzi Bowo lebih banyak mengingatkan tentang berkah di bulan 
Ramadhan. "Di bulan Ramadhan mari saling mempererat habluminannas dan 
meningkatkan ketakwaan kepada Allah. Bulan ini merupakan kesempatan emas 
melakukan ibadah lebih tekun dan khusyuk agar mendapat bonus Allah," ujar pria 
yang akrab disapa Foke ini.

Dalam akhir paparannya, Foke mengklaim keberhasilannya dalam membuat suasana 
kondusif selama memimpin Jakarta. "Jakarta ini bukan kota yang sederhana. Saya 
bersyukur, selama saya memimpin, tidak ada satu pun masyarakat Jakarta yang 
memaksa mereka berhenti melaksanakan aktivitas," tuturnya.

Dalam kesempatan tersebut, Foke memberikan sumbangan kepada anak asuh PKU yang 
dikelola Muhammadiyah Tanjung Duren dan Masjid Al-Isra, bantuan masjid sebesar 
Rp 28 juta, Al Quran, alat olahraga, dan lampu hemat energi. Hadir pula 
Sekretaris Daerah DKI Jakarta, Fajar Pandjaitan, Wali Kota Jakarta Barat 
Burhanuddin, dan petinggi harian Poskota. 

Editor :
Hertanto Soebijoto

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke