Mampukah SBY Wujudkan Isi Pidatonya?

Jakarta - Pidato kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) membawa 
harapan. Namun, mampukah hal tersebut diwujudkan?

"Pidato Presiden bertabur prestasi membanggakan dan harapan menggairahkan, baik 
dalam skala nasional mau pun internasional," nilai Anggota Komisi VI DPR RI, 
Arya Bima, di Jakarta, Jumat (17/8).

Namun, imbuh Arya, langkah selanjutnya adalah bagaimana implmentasi dari impian 
tersebut. Di sanalah letak problem krusialnya. Sebab, dibutuhkan ketegasan dan 
kelugasan untuk melaksanakan kepemimpinan negara agar tidak ketinggalan 
momentum.

"Rakyat menunggu dan jangan dibikin jemu dengan keragu-raguan. Terutama isu 
utama yang disampaikan presiden tentang pemberantasan korupsi. Tidak boleh 
terjadi lagi kongkalikong," tegasnya.

Sementara itu, Wakil Komisi I DPR RI, TB Hasanuddin menilai, pidato SBY, datar 
dan dan normatif saja karena hal itu harus dilakukan.

"Pidatonya datar saja, normatif lagi. Korupsi harus diberantas, orang miskin 
harus harus jadikan orang kaya, Papua harus diselesaikan, pengangguran harus 
dikurangi, konflik sosial harus dicegah. Ya iyalah," tegasnya. [IS]

http://www.gatra.com/nasional/1-nasional/16336-mampukah-sby-wujudkan-isi-pidatonya

Presiden: 2019, Seluruh Rakyat Indonesia Gratis Berobat
Penulis : Hindra Liauw | Kamis, 16 Agustus 2012
KOMPAS/RIZA FATHONIPresiden Susilo Bambang Yudhoyono

JAKARTA, KOMPAS.com Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan, 
selambat-lambatnya pada tahun 2019, seluruh rakyat Indonesia akan memiliki 
jaminan kesehatan terkait disahkannya Undang-Undang No 24 Tahun 2011 tentang 
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Pada saat itu, rakyat Indonesia 
memiliki lima jenis jaminan sosial, yaitu jaminan kesehatan, jaminan kecelakaan 
kerja, jaminan hari tua, jaminan pensiun, dan jaminan kematian.

"Terpenuhinya hak hidup sehat bagi seluruh penduduk tanpa terkecuali merupakan 
tujuan utama implementasi Sistem Jaminan Sosial Nasional," kata Presiden ketika 
menyampaikan Pidato Kenegaraan pada HUT ke-67 Proklamasi Kemerdekaan RI di 
depan Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI di Gedung Kompleks Parlemen, Jakarta, 
Kamis (16/8/2012).

Menurut Presiden, sejalan dengan program itu, lebih dari 2,5 juta ibu 
melahirkan terjamin melalui Jaminan Persalinan. Program ini juga diharapkan 
dapat menurunkan angka kematian ibu (AKI), sejalan dengan percepatan pencapaian 
"Tujuan Pembangunan Milenium atau Millenium Development Goals". Hal ini, kata 
Presiden, merupakan jawaban pemerintah untuk mewujudkan perluasan pelayanan 
kesehatan bagi rakyat.

"Melalui reformasi kesehatan, kita ubah paradigma dari sekadar berobat gratis, 
menjadi sehat secara gratis. Untuk itulah, perbaikan layanan dan jaminan 
kesehatan serta kegiatan pembangunan kesehatan lainnya, kita sinergikan dengan 
perkembangan kependudukan, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, kelestarian 
lingkungan, hingga pembinaan budaya dan paradigma hidup sehat di kalangan 
masyarakat," kata Presiden.

Melalui reformasi kesehatan, pemerintah ingin membangun rakyat Indonesia yang 
bukan saja sehat fisiknya, melainkan juga sehat jiwanya, agar dapat membangun 
bangsa yang kuat, tangguh, dan cerdas.

Selain Sistem Jaminan Sosial Nasional, kata Presiden, pemerintah juga berusaha 
mewujudkan penghidupan yang mapan melalui sinergi program pemberdayaan 
masyarakat; pengembangan usaha kecil, menengah, dan mikro; serta 
program-program pro-rakyat.

Seluruh program penanggulangan kemiskinan, sambungnya, akan bertransformasi ke 
dalam bentuk program yang dapat memenuhi kebutuhan dasar dari seluruh 
masyarakat secara merata, termasuk menjamin terciptanya pemenuhan pendapatan 
masyarakat secara berkelanjutan.

Editor :
Heru Margianto

Belanja modal infrastruktur 2013 capai Rp193,8 triliun
Kamis, 16 Agustus 2012 22:24 WIB

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (ANTARA)

Jakarta (ANTARA News) - Pemerintah mengalokasikan belanja modal infrakstruktur 
pada RAPBN 2013 mencapai Rp193,8 triliun.

"Hal itu sejalan dengan arah kebijakan dan prioritas belanja Kementerian dan 
Lembaga, dalam RAPBN 2013. Jumlah sebesar itu naik Rp25,2 triliun atau sekitar 
14,9 persen dari pagu anggaran dalam APBN-P 2012," kata Presiden Susilo Bambang 
Yudhoyono saat menyampaikan keterangan pemerintah atas RAPBN 2013 dan nota 
keuangannya dalam rapat paripurna DPR di Jakarta, Kamis malam.

Kepala Negara menyebut bahwa pembangunan infrastruktur Indonesia pada hampir 
semua sektor tertinggal dan sering menjadi penghambat kegiatan ekonomi.

"Dua kementerian yang langsung terkait dengan pembangunan infrastruktur adalah 
Kementerian Pekerjaan Umum dan Kementerian Perhubungan," katanya.

Karena itu, tegasnya, pada 2013, prioritas alokasi anggaran pada kedua 
kementerian itu akan difokuskan pada pembangunan infrastruktur yang 
berkualitas, terutama untuk mengurangi pelbagai hambatan dan sumbatan di bidang 
infrastruktur yang mendukung percepatan dan perluasan pertumbuhan ekonomi.

"Fokus tetap pada upaya dan prioritas untuk mendukung ketahanan energi, 
ketahanan pangan, dan keterhubungan domestik," katanya.

Selain itu, alokasi anggaran yang sama juga akan diprioritaskan untuk mendukung 
pendanaan bagi kegiatan-kegiatan tahun jamak dalam rangka menjaga kesinambungan 
program dan pendanaan pembangunan, serta meningkatkan kapasitas mitigasi dan 
adaptasi terhadap dampak negatif perubahan iklim.


Alokasi anggaran

Untuk mendukung pembangunan infrastruktur yang mempunyai daya dorong kuat 
terhadap pertumbuhan ekonomi, kata Kepala Negara, penggunaan alokasi anggaran 
belanja akan direncanakan untuk peningkatan kapasitas 188 megawatt, serta 
pembangunan transmisi sekitar 3.625 kilometer sirkuit (kms), Gardu Induk 4.740 
Mega Volt Ampere (MVA), Jaringan Distribusi 9.319 km, dan Gardu Distribusi 213 
MVA.

Kemudian, untuk mendukung kelancaran distribusi barang, jasa dan manusia, pada 
2013 kapasitas jalan akan ditingkatkan di Lintas Sumatera, Jawa, Bali, 
Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Papua 
sepanjang 4.431 km.

Selain itu, pembangunan pelabuhan, berupa penyediaan sarana dan prasarana 
transportasi sungai, danau dan penyeberangan (SDP), pengelolaan prasarana lalu 
lintas SDP di 61 dermaga, serta pengembangan pembangunan dan pengelolaan 
pelabuhan perikanan di 25 lokasi.

Sementara, untuk menunjang program ketahanan energi, juga direncanakan 
penambahan jaringan gas pada empat kota, meningkatkan sambungan-sambungan rumah 
yang teraliri gas bumi melalui pipa sejumlah 16.000 Saluran Rumah (SR), 
melakukan pembangunan satu Kilang Mini Plant LPG, dan meningkatkan rasio 
elektrifikasi mencapai sekitar 77,6 persen.

"Untuk mendukung program ketahanan pangan, kita akan mencetak sawah seluas 100 
ribu hektar, meningkatkan luas layanan jaringan irigasi lebih dari 107.000 
hektare, mengembangkan sumber air alternatif skala kecil 1.855 unit, 
mengembangkan jaringan dan optimasi air sepanjang lebih dari 524.000 hektare, 
membangun 164 embung/situ, serta membangun 6 waduk di Daerah Aliran Sungai 
(DAS) Bengawan Solo," kata Presiden.

Sementara itu, bidang transportasi udara, terutama untuk mendukung 
keterhubungan antarwilayah, pemerintah akan membiayai pembangunan 15 bandar 
udara baru, serta pengembangan dan rehabilitasi sekitar 120 bandar udara.

Bidang transportasi darat, pemerintah juga berencana membangun lebih dari 380 
kilometer jalur Kereta Api baru, termasuk jalur ganda, serta pengadaan 92 unit 
lokomotif, Kereta Rel Disel (KRD), Kereta Rel Listrik (KRL), Tram, dan Railbus, 
termasuk kereta ekonomi dan sarana Kereta Api yang dimodifikasi serta 
pembangunan terminal transportasi jalan pada 24 lokasi.

Transportasi laut, pemerintah berencana membangun kapal perintis dan penumpang 
sebanyak 22 unit serta pembangunan prasarana 61 dermaga penyeberangan.
(E008/A023)

Editor: Ruslan Burhani

Kirim email ke