http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/12/08/25/m9a9je-orang-kafir-pun-percaya-tuhan

Orang Kafir pun Percaya Tuhan
Sabtu, 25 Agustus 2012, 06:35 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: A Riawan Amin

“Karena itu, janganlah  kalian mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, 
padahal kalian mengetahui.” (QS 2: 2)

Seorang anak bertanya kepada bapaknya, “Ayah, percayakah kafir Quraisy kepada 
Allah? Jika tidak, mengapa ayah Rasulullah, bernama Abdullah,  sang hamba 
Allah?”

Ternyata pengikut Allah bukan monopoli yang mengaku beriman. Kafirpun percaya 
dan mengikut kepada One Supreme being, Satu Tuhan Utama. Pencipta (Khalik)  dan 
pengatur (Rabb)  alam semesta.

Dari awal umat Islam  diajarkan Syahadat  Tauhid, Laa  Ilah (tidak ada Tuhan) 
sebagai penafian kepada Ilah-ilah atau tandingan-tandingan.  Dilanjutkan 
illallah (kecuali Allah ), yang merupakan   peneguhan kepada satu-satunya 
Pencipta dan Penguasa.

Ujian  yang sama berlaku hari ini. Pintu-pintu  syirik terbuka bukan melalui 
penentangan kepada Allah sebagai Ilah, bukan karena lemahnya ruh illallah. 
Tetapi melalui peneguhan Ilah-ilah lain tandingan Allah, melalui lemahnya ruh 
Laa Ilah.

Ada sebagian yang menyebut diri Muslim Indonesia, Muslim Sunda, Jawa, Melayu  
dan lain-lain. Yang sebetulnya memenuhi kualifikasi sebagai Kafir Indonesia, 
Kafir Sunda, Kafir Jawa dan lain-lain. Mengapa? Sebab  prilaku mereka  mirip 
Kafir Quraisy,  yakni membesarkan Ilah-ilah selain Allah. 

Keris, harta, tahta, dukun, ajengan bahkan Ilah-ilah  yang bersembunyi di balik 
jubah keislaman. Di balik khadam dan ajian, adalah The New Lata, Uza dan Hubbal 
– berhala-hala yang disembah oleh kaum Kafir Quraisy.  Demikian pula Ilah waktu 
membayar joki  di Masjidil Haram, mendesak, menyikut saudara seiman demi 
mencium sebuah batu hitam bernama Hajar Aswad. Padahal, mencium Hajar Aswad 
hukumnya adalah sunnah, sedangkan menghormati dan menjaga sesama Muslim 
hukumnya wajib.

Makan siang di bulan Ramadhan adalah peng-Ilah-an kepada perut sendiri. 
Demikian pula kecanduan nasi, sampai berkata belum buka  atau belum makan,  
jika belum nasi. Inilah contoh peng- Ilah-an, yang membuat negara selalu 
kekurangan dan harus impor beras. Konsumsi beras rakyat Indonesia sudah 
mencapai sekitar 130 kg/kapita/tahun, sedangkan idealnya sekitar 80 
kg/kapita/tahun. Padahal di Indonesia  begitu banyak nikmat Allah dalam bentuk 
lain, umbi-umbian, pisang, jagung, sagu, dan buah-buahan  sebagai alternatif  
kecanduan nasi atau beras tersebut.

Tak ada prilaku buruk,  bahkan  yang kelihatan baik --  dari korupsi sampai  
sedekah karena riya --  yang tak luput dari campur tangan kemusyrikan. Korupsi 
demi  anak cucu adalah peng –Ilah-an kepada keturunan. Riya adalah pengilahan 
kepada diri sendiri.

Tak heran jika syirik begitu samar. Laiknya semut hitam, di atas batu hitam, di 
malam yang sangat kelam. Alquran bertabur dengan ratusan ayat  yang 
mengingatkan umat manusia akan bahaya syirik, larangan berbuat syirik, 
sebab-sebab syirik dan  bentuk-bentuk kemusyrikan. 

Ramadhan dan Idul Fitri yang baru saja berlalu merupakan momentum bagi umat 
Islam untuk meneguhkan kalimat Laa Ilaha illallah.  Sesungguhnya shalatku, 
ibadahku, shaum ku, hidup dan matiku bagi Allah. Wa maa anaa minal kaafirin. 
Jadikan aku ya Allah bagian dari pengikut-Mu, yang bukan kafir. Wallahua’lam.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke