http://www.gatra.com/nusantara/jawa/16781-syiah-sunni-membara-sampang-berdarah

Syiah-Sunni Membara, Sampang Berdarah 
Monday, 27 August 2012 08:23 



 
Bentrok Sunni-Syiah di Sampang. Madura (FOTO ANTARA/Saiful Bahri)
Suasana Idul Fitri di Madura, Jawa Timur, ternoda dengan tragedi bentrok antar 
aliran beragama. Pada Minggu (26/8/2012), kelompok Islam Syiah dan Sunni adu 
gebuk, hingga menyebabkan satu orang tewas. Bahkan Kapolsek Omben, AKP Aris, 
turut menjadi korban dalam bentrokan tetsebut. Kapolsek dikabarkan mengalami 
luka parah akibat sabetan parang. 
Satu warga yang tewas akibat bentrokan di Desa Karang Gayam kecamatan Omben dan 
Desa Bluuran Kecamatan Karang Penang Kabupaten Sampang, Jawa Timur, itu adalah 
pengikut syiah bernama Hamamah (39). ia menghembuskan nafasnya di tengah 
kerumunan masa.

Kapolda Jawa Timur Inspektur Jenderal Polisi Hadiatmoko membenarkan informasi 
tersebut. "Aksi tersebut menyebabkan satu korban tewas, dua orang mengalami 
kritis dan empat orang luka-luka, termasuk di dalamnya Kapolsek Omben AKP Aris 
Dwiyanto yang terkena lemparan pecahan genting di pelipis kirinya," terangnya.

Ditambahkan Hadiatmoko, tindakan yang dilakukan sekelompok masyarakat tersebut 
sudah anarkis, sehingga pihaknya akan melakukan tindakan tegas dan terukur. 
"Ini murni pidana dan kami tegas untuk melakukan tindakan," tandasnya.

Tak hanya itu menurut keterangan beberapa warga yang berada di lokasi, puluhan 
warga antara Syiah dan Suni mengalami luka-luka akibat saling serang dengan 
mengunakan clurit dan pedang. "Satu warga Syiah bernama Husin tadi saya lihat 
tangannya putus," terang salah satu warga yang engan di sebutkan namanya.

Sementara beberapa wartawan yang melakukan peliputan di larang masuk kelokasi 
oleh sabagian warga lantaran isu adanya dipasangi bom atau ranjau yang teruat 
dari petasan bom untuk mengamankan rumah pengikut syiah. Pada minggu sore, 
massa dari Islam Sunni berkumpul dengan membawa berbagai senjata tajam.

Sementara upaya aparat untuk membujuk warga untuk bubar, tidak membuahkan 
hasil. Puluhan aparat kepolisian berjaga-jaga di lokasi pintu masuk Kecamatan 
Omben hingga menuju Desa Karang Gayam yang menjadi lokasi basis Syiah. Tak 
hanya itu, iring-iringan kendaraan pasukan Brimob juga memasuki lokasi.

Pemicu Masalah

Informasi yang beredar, bentrok Syiah-Sunni di Sampang berawal dari rombongan 
siswa dari komunitas Syiah yang akan kembali ke Bangil, Pasuruan. Saat hendak 
kembali itu, puluhan massa sudah menghadang dan mengancam akan membakar dan 
membunuhnya.

"Anak-anak komunitas tersebut akan kembali ke Bangil setelah mengikuti 
Lebaran," kata Kulsum, istri Tajul Muluk, ustad kelompok Syiah. Tajul Muluk 
adalah pimpinan dari komunitas Syiah Sampang yang telah divonis dua tahun 
penjara oleh Pengadilan Negeri Sampang karena dituduh melakukan penodaan agama.

Pelarangan dan penghadangan para pelajar Syiah itu kemudian berlanjut dengan 
aksi pembakaran pekarangan rumah mereka di 20 titik. Jumlah rumah yang terbakar 
mencapai 37. Sekelompok massa itu menyerbu dan mendatangi rumah istri Tajul 
Muluk.

Rumah Tajul Muluk pernah dibakar oleh sekelompok pemuda antisyiah pada akhir 
Desember 2011. Namun rumah dari sisa-sia kebakaran yang ditempati oleh Ny 
Kulsum, istri Tajul Muluk, beserta dua anaknya itu pun kembali dibakar oleh 
para pemuda antisyiah.

Aksi pembakaran mengakibatkan bentrok antara dua kelompok. Pemuda dari 
komunitas syiah Sampang yang ingin melindungi keluarga Tajul Muluk membalas 
aksi pelemparan dari sekelompok massa tersebut. Belasan rumah milik pengikut 
Syiah hangus rata menjadi tanah.

Setelah membakar belasan rumah pengikut Syiah, ribuan massa dari kelompok Sunni 
mulai melakukan penyisiran dengan bergerombol di sekitar SDN Karang Gayang, 
Omben, Sampang yang diduga menjadi tempat persembunyian beberapa warga Syiah. 
Hingga minggu malam, beberapa rumah pengikut Syiah masih mengepulkan asap pasca 
pembakaran oleh massa.

Untuk mengantisipasi kejadian agar tidak meluas, beberapa pasukan bantuan mulai 
didatangkan. Satuan Peleton Brimob Pamekasan pun menjaga lokasi tersebut hingga 
Senin (27/8/2012) pagi ini. "Kami menerjunkan satu peleton," kata Iptu Didik 
Sulityoso, Kasubden Brimob Pamekasan di lokasi, Minggu (26/8/2012), seperti 
dikutip Antara.

Persoalan Keluarga

Konflik bernuansa SARA antara kelompok Islam Syiah dengan kelompok Islam Sunni 
di Sampang, Madura ini bermula dari konflik pribadi antara pimpinan Islam Syiah 
Tajul Muluk dengan saudaranya, KH Rois, yang beraliran Sunni. Ketua Bidang 
Media dan Publikasi Ahlul Bait Indonesia, Hertasning Ichlas, pernah mengatakan 
bahwa konflik Sampang bukan bermotif masalah perbedaan mazhab, namun murni 
berlatar belakang masalah keluarga.

"Saat ini telah terjadi opini yang salah kaprah di kalangan media. Substansinya 
bukan pada pergolakan mazhab tetapi soal keluarga," ungkapnya. Dituturkan oleh 
Hertasning, perseteruan  berawal dari sebuah keluarga terpengaruh, yakni antara 
Tajul Muluk Syiah dan Rois (33) yang merupakan prepresentasi Islam Sunni di 
daerahnya.

Suatu ketika, Rois berkeinginan untuk menikahi salah satu santri putri Tajul 
Muluk. Hasrat Rois  tidak dipenuhi Tajul Muluk. Pasalnya, Rois tukang kawin dan 
tabiat negatif itu kurang mendapat tempat di hatinya, sehingga  melarang Rois 
mempersunting salah satu santri putrinya. Lantaran merasa ditentang, emosi jiwa 
muda  Rois meledak-ledak dan mengajak pihak-pihak lain yang memang punya 
sentimen negatif kepada Tajul Muluk untuk melampiaskan amarahnya.

Gayung bersambut, amarah Rois tersalurkan dengan melakukan pembakaran pesantren 
dan rumah ibu serta adiknya. "Kebetulan Tajul Muluk ini dahwahnya mulai naik 
daun dan mungkin ada yang merasa tersaingi. Pihak-pihak yang tersaingi inilah 
yang ditunggangi atau dimanfaatkan Rois untuk membalas sakit hatinya karena 
gagal melancarkan hasrat menikahi salah satu santri Tajul," tuturnya.

Dikatakan Hertasning, konflik keluarga dibawa-bawa ke medan mazhab. "Persoalan 
mendasar yang memalukan ini tidak banyak diketahui orang. Media dan tokoh agama 
lebih sibuk membincang masalah konflik antara Sunni dan Syiah," ujarnya.

Dari konflik keluarga itu, lalu meluas menjadi konflik SARA setelah di kalangan 
pengikut Islam Sunni tersiar kabar bahwa aliran Islam Syiah merupakan aliran 
Islam sesat, sehingga pengikut Islam Sunni beramai-ramai mengusir pengikut 
Syiah yang ada di wilayah Kecamatan Omben dan Kecamatan Karangpenang.

Bentrokan pernah terjadi pada 29 Desember 2011. Kala itu terjadi pembakaran 
rumah, madrasah, mushalla dan pesantren kelompok Islam Syiah. Sebanyak 335 
orang pengikut aliran Islam Syiah dari total 351 orang lebih dievakuasi ke GOR 
Wijaya Kusuma depan kantor Bupati Sampang akibat kerusuhan yang terjadi ketika 
itu. (HP, Ant


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke