http://www.indopos.co.id/index.php/arsip-berita-indopos/66-indopos/27057-pelaku-preman-berjubah-agama.html

Pelaku Preman Berjubah Agama

Tuesday, 28 August 2012 13:18 

 
ANARKIS: Rumah Muslim Syiah di Sampang, Madura, yang dibakar Minggu (26/8) lalu.


Ahlulbait soal Rusuh Sampang

JAKARTA-Preman berjubah agama kembali disebut-sebut. Ormas Ahlulbait Indonesia 
menilai pertikaian antarwarga di Sampang bukanlah kericuhan antara kelompok 
Sunni dan Syiah. Menurut ormas ini, terdapat sekelompok orang yang memicu 
terjadinya kericuhan itu. ’’Bukan antara muslim Sunni dan Syiah, tetapi 
dilakukan sekelompok preman berjubah agama.

Mereka adalah kelompok kafiri yang ke mana-mana membawa informasi menyesatkan, 
mengkafirkan,’’ ujar Sekjen Ahlulbait Indonesia Ahmad Hidayat di Mabes Polri, 
Jakarta Selatan, Senin (27/8).

Meski demikian, Ahmad enggan menyebut identitas tokoh-tokoh di balik kelompok 
pemicu seperti yang diduganya itu. Saat kedatangannya ke Bareskrim, ia hanya 
meminta agar polisi bersikap tegas dan mempercepat pengusutan kasus kekerasan 
di Sampang.

"Harus bisa dipercepat, kita mengharapkan ini ditangkap dan diadili. Kita juga 
minta kepada media, saat menyebut Syiah, tidak menyebut aliran Syiah, tetapi 
menyebut muslim Syiah, karena Syiah bagian dari kaum muslim," tuturnya. 
Sementara itu, saat ini, kata Ahmad, sejumlah warga Syiah yang menjadi korban 
kekerasan masih bersembunyi di hutan karena takut dikejar dan mengalami 
intimidasi.

Ahmad meminta polisi segera mencari korban dari warga Syiah secepatnya agar 
mendapat perlindungan penuh. Ahmad mengatakan, seharusnya Polri sudah 
mengetahui dalang dari setiap kejadian yang terjadi di Madura itu. ’’Kami tidak 
mau mendahului polisi. Polisi punya data dan instrumen yang mengusut kasus ini 
sejak 2006 sampai sekarang.

Kami percaya polisi punya data dan nama tentang itu. Kalau ingin menuntaskan 
kasus ini segera tangkap dan eksekusi bawa meja peradilan,’’ ujar Ahmad. Ahmad 
mengaku kedatangan mereka ke Bareskrim Polri hanya untuk memberikan pernyataan 
sikap atas peristiwa di Sampang. Bukan melapor. Sebelumnya, organisasi ini 
sudah pernah melaporkan kericuhan di Sampang akhir Desember 2011.

Mereka saat itu membawa bukti berupa video, kaset cd dan transkrip ceramah, 
provokasi orang per orang, tokoh tertentu yang kita anggap ada di balik 
penyerangan itu. Namun hingga saat ini belum ada titik terang pengusutan oleh 
polisi. "Kami percaya Polri bisa memberikan perlindungan dan pengayoman hukum. 
Kami mendesak sesegera mungkin karena hanya dalam 8 bulan setelah Desember, 
sekarang terjadi lagi sekarang dan eskalasi semakin meningkat.

Ada korban jiwa kritis, dan puluhan rumah terbakar. Ini tragedi kemanusiaan 
yang tak boleh dilupakan,’’ kata Ahmad. Ahlulbait meminta polisi serius 
menangani kasus tersebut. Selain itu, melalui kepolisian mereka juga meminta 
pemerintah daerah setempat memberikan perlindungan dan jaminan rasa aman kepada 
warga Syiah yang menjadi korban kekerasan.



Ada Pembiaran?

Seorang korban tragedi Sampang, Zaini, mengaku kecewa dengan aparat kepolisian 
terkait peristiwa berdarah yang menyebabkan korban tewas dan luka-luka dari 
warga muslim Syiah di Dusun Nangkernang, Desa Karanggayam, Kecamatan Omben, 
Kabupaten Sampang, Jawa Timur, Minggu (26/8) pagi. Zaini justru menyebut polisi 
memerintahkan penyerang untuk maju ke dusun yang sudah dikepung. Kekecewaan 
Zaini disampaikannya saat dihubungi LBH (Lembaga Bantuan Hukum) Jakarta melalui 
sambungan telepon yang didengar wartawan di kantor LBH, Jakarta, Senin (27/8).

"Polisi kurang menindaklanjuti kasus ini, padahal mereka (pelaku kekerasan) 
sudah jelas melakukan kriminal. Kami dikepung, polisi cuma empat orang. Kita 
disuruh mundur, tapi pihak penyerang disuruh maju," ungkap Zaini yang mengaku 
berada di lokasi saat penyerangan berlangsung kemarin pagi. Dipaparkannya, 
polisi juga sulit dihubungi warga sebelum penyerangan berlangsung.

Setelah tahu ada bentrokan, katanya, kepolisian juga hanya mengirim empat orang 
anggotanya. "Polisi kebanyakan asal ngomong akan menindaklanjuti. Tidak ada 
satupun pelaku penyerangan yang ditangkap polisi," tutupnya. Hal serupa 
disampaikan Iklil yang juga kakak Zaini. Menurut Iklil, dirinya Minggu pagi 
sekitar pukul 09.00 WIB sempat menelpon Polsek Omben dan Polres Sampang guna 
menginformasikan adanya eskalasi massa yang mencekam di sekitar kampungnya.

"Laporan via telepon itu diterima dan ditanggapi dengan janji akan mengirimkan 
anggota polisi ke TKP. Terlihat tidak lebih dari lima orang personel kepolisian 
di sana,’’ ujar Iklil. Keberadaan polisi yang hanya beberapa orang itu gagal 
dan tidak berdaya mengantisipasi kekerasan. Seperti biasanya, kata Iklil, 
polisi justru cenderung menyalahkan warga Syiah sebagai biang keladi masalah 
itu.

Sementara itu dari lokasi pengungsian, seorang ibu bernama Hani mengaku 
terdapat sekitar 250 warga bersama anak-anaknya. Dia mengaku sudah mendapat 
bantuan dari warga sekitar yang peduli. Hanya saja, jumlahnya tidak mencukupi. 
"Sudah ada bantuan makanan dan pakaian namun masih terbatas dari orang-orang 
dekat sini aja," tutur Hani yang pada saat kejadian dirinya sempat dicegat dan 
diancam dibakar massa.



Khawatir Tindakan Balasan 

Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) mengecam tindak kekerasan oleh kelompok 
warga terhadap kaum Syiah. Wakil Ketua MPR RI, Hajriyanto Y Thohari, menilai 
aksi kekerasan tersebut tidak bisa ditoleransi. "MPR mengecam keras aksi 
semacam ini dan tidak boleh ditolerir, karenanya harus diproses secara hukum," 
kata Hajriyanto di gedung parlemen, Senayan Jakarta, Senin (27/8).

Menurutnya, penyerangan terhadap kelompok minoritas yang terus-menerus, 
berulang berkepanjangan dengan sasaran yang silih-berganti sungguh berbahaya. 
Karenanya Hajri -sapaan Hajriyanto-khawatir aksi kekerasan terhadap kelompok 
minoritas akan terus terjadi. "Setelah yang disasar kelompok minoritas 
Ahmadiyah, kemudian melebar ke jamaah MTA (Majelis Tafsir Al-Quran) di Jawa 
Tengah, terus berlanjut ke kelompok Syiah.

Jangan-jangan nanti akan berlanjut kepada kelompok berikutnya lagi yang 
minoritas di suatu daerah. Ini sungguh tidak lagi bisa ditoleransi," tegas 
Hajriyanto Y Tohari. Dijelaskannya, kasus di Sampang bukan lagi persoalan 
kecemburuan sosial ekonomi. Hajri menyebut kasus tersebut sudah mengarah pada 
berkembangnya budaya intoleransi dan kekerasan terhadap kelompok minoritas di 
suatu kawasan.

"Suatu kelompok atau jamaah bisa saja mayoritas di suatu daerah, tetapi 
minoritas di daerah lain. Kalau suatu saat salah satu kelompok yang minoritas 
di suatu daerah menjadi korban penyerangan kelompok lain, padahal di daerah 
lain mereka mayoritas, apa jadinya bangsa ini?’’  imbuh Hajri. Tokoh muda 
Muhammadiyah yang juga politisi Golkar itu menilai tindak kekerasan oleh satu 
kelompok terhadap kelompok lainnya merupakan ancaman terhadap kewibawaan negara.

Karenanya, kata Hajri, pelaku kekerasan di Sampang harus diproses hukum. "Ini 
murni urusan hukum, urusan pidana kekerasan, di mana pelaku kekerasan harus 
diproses secara hukum. Bukan urusan agama lagi karena sejak lama agama dianggap 
urusan pribadi dan tokoh-tokoh agama dipinggirkan. Bahkan ada tendensi 
berkembangnya pandangan dan sikap di kalangan masyarakat untuk merendahkan 
institusi-institusi keagamaan,’’ ungkap Hajriyanto.



Atas Nama Agama 

Menteri Agama Suryadharma Ali mengutuk kerusuhan dan tindak kekerasan tersebut. 
Pria yang biasa disapa SDA ini menegaskan, tindak kekerasan atas nama apapun, 
termasuk atas nama agama atau perbedaan aliran keagamaan, tidak dapat 
dibenarkan. Menurutnya, agama mengajarkan kedamaian, dan tidak mengajarkan 
kekerasan. Perbedaan pendapat dalam beragama memang ada, termasuk perbedaan 
pandangan antara mazhab Syiah dan Sunni.

Namun demikian, Menag meminta agar hal itu diselesaikan lewat dialog yang 
konstruktif dan penuh persaudaraan. Sehubungan itu, Menag menyerukan agar 
penyelesaian permasalahan di Sampang hendaknya dilakukan melalui dialog. Untuk 
itu, Menag meminta kantor wilayah Kementerian Agama setempat dapat 
memfasilitasi dialog tersebut.

Menag juga meminta kepada aparat keamanan untuk menindak tegas setiap oknum 
yang terlibat dalam kekerasan tersebut. Menag menyatakan bahwa siapapun 
terlibat, harus ditindak sesuai hukum. Menag juga mengimbau agar semua pihak 
senantiasa mengedepankan sifat toleransi dan prinsip persaudaraan antar sesama 
agama (ukhuwwah Islamiyah), persaudaraan sebangsa (ukhuwwah wathaniyyah), serta 
persaudaraan sesama manusia (ukhuwwah basyariyah).

Karena itu, Menag menegaskan, penyelesaian lewat tindak kekerasan harus 
dihindari. ’’Prinsip dasarnya, kekerasan atas nama apa pun dan dengan dalih apa 
pun, tidak dapat dibenarkan,’’ pungkas Ketua Umum PPP ini.



Bantah Tak Cegah Serangan 

Markas Besar Polri membantah tudingan bahwa kepolisian kecolongan sehingga 
terjadi kekerasan berdarah antara kelompok Syiah dan Sunni di Sampang. Kepala 
Biro Penerangan Masyarakat Polri, Brigadir Jenderal Boy Rafli Amar, menyatakan 
wilayah Dusun Nangkernang, Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, Sampang, sudah 
menjadi salah satu fokus pengamatan polisi karena telah beberapa kali terjadi 
kericuhan antarkelompok.

Namun menurut Boy, situasi kemarin saat terjadi bentrokan memang di luar 
kendali. "Kita selalu antisipasi. Ini kondisi dinamis yang selalu terjadi di 
masyarakat, selalu diupayakan, tapi kondisi seperti ini bisa saja terjadi," 
ujar Boy di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (27/8). Boy menyebut saat 
peristiwa ricuh terjadi sudah ada pasukan pasukan dari Polda Jawa Timur yang 
diterjunkan ke lokasi.

Hanya saja butuh waktu hingga lokasi karena jarak perjalanan ke tempat kejadian 
sekitar empat jam lamanya. Meski demikian, Polres Sampang sudah lebih dulu 
melakukan upaya-upaya dengan menurunkan 500 personel untuk membantu Polsek 
Omben mengamankan wilayah tersebut. "Kapolsek juga cedera berarti kan ada di 
lapangan langsung di lokasi itu kondisinya," sambung Boy.

Kini polisi masih menelusuri latar belakang peristiwa ricuh antara warga Syiah 
dan Sunni di salah satu kabupaten di Pulau Madura itu. Salah satunya dengan 
memeriksa tujuh saksi dari warga yang diduga kuat terlibat dalam aksi ricuh, 
kekerasan dan pembakaran pada rumah warga Syiah. (rko/flo/jp


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke