Ref:  Apakah masalahnya karena selama ini kekuasaan negara berada  dalam tangan 
non-Muslim dan oleh sebab itu ormas Islam pejuang kemerdekaan terpinggirkan? 

http://www.gatra.com/nasional/1-nasional/16847-ormas-islam-pejuang-kemerdekaan-terpinggirkan

Ormas Islam Pejuang Kemerdekaan Terpinggirkan 
Tuesday, 28 August 2012 12:40 
Serang - Ketua Umum Pengurus Besar Mathlaul Anwar (PB MA) KH Syadeli Karim 
mengatakan, organisasi masyarakat (ormas) Islam yang menjadi pelopor 
kemerdekaan, keberadaannya justru terpinggirkan karena pemerintah lebih 
memberikan perhatian lebih pada keberadaan partai politik.

"Saat ini, pemerintah lebih memberikan keistimewaan terhadap partai daripada 
ormas. Padahal ormas Islam yang sejak awal sudah gencar dalam upaya merebut 
kemerdekaan. Akibatnya, agama semakin termarjinalkan, dan politik didewakan," 
kata KH Syadeli Karim, saat halal bil halal dan diskusi kemerdekaan di Serang, 
Senin (27/8).

Menurut Syadeli, saat politik yang dibesar-besarkan, nilai-nilai kemerdekaan 
yang seharusnya dapat menjaga kerukunan umat beragama terpinggirkan. Padahal 
seharusnya, kata dia, nilai-nilai tersebut menjadi acuan kebersamaan, untuk 
menghapus penjajahan manusia terhadap manusia lainnya.

Ia menjelaskan, fakta sejarah menunjukkan kemerdekaan Republik Indonesia 
sumbangan terbesarnya dari ulama dan santri. Sebabnya pergerakan kemerdekaan, 
terutama di wilayah Banten dipelopori kalangan pesantren melalui jaringan 
tarekatnya, seperti KH Wasyid tokoh geger Cilegon, Syeikh Asnawi Caringin, dan 
Abuya Mukri di Labuan dan lain sebagainya.

"Mereka berangkat dari pesantren dan surau-surau, kemudian bersatu berjuang 
mengusir penjajah," kata Sadeli dalam diskusi yang diselenggarakan koalisi 
pergerakan Banten..

Sementara Ketua Umum Majlis Pesantren Salafiyah (MPS) Banten, KH Matin Syarkowi 
mengatakan, kerangka Indonesia merdeka bukan dari parpol merupakan fakta 
sejarah. Indonesia menjadi negara merdeka, sumbangan terbesar dari ulama dan 
santri. Namun demikian, justru ada pembelokan sejarah yang dilakukan oleh 
Orientalis Snock Hurgronje, dengan mengganti istilah ulama dan santri dengan 
pedagang dan petani.

"Dahulu yang Belanda takuti adalah gerakan underground yakni gerakan tarekat 
Qodariyah naqsabandiyah karena memiliki pengikut yang taat terhadap guru dan 
terorganisasi dengan bagus," kata Matin.

Menurut dia, ketidakpahaman terhadap sejarah kemerdekaan RI, akan berbahaya 
bagi generasi muda. Sebab nantinya akan mengikis nilai-nilai keindonesiaan yang 
semakin hari tergerus oleh budaya asing yang gencar masuk melalui tayangan 
media.

Sedangkan pengamat sejarah, Nadjmudin Busro mengatakan, Negara Kesatuan 
Republik Indonesia (NKRI) merupakan hasil "jerih payah para pendahulu yang 
telah lama berjuang" membela kemerdekaan jauh sebelum proklamasi Kemerdekaan RI 
pada 17 Agustus 1945.

Ia mengatakan, yang paling pertama menggelorakan pergerakan pemuda sebegai 
pelopor pergerakan untuk kemerdekaan bukan Budi Utomo pada 1908, tapi Sarekat 
Dagang Islam (SDI) pada 1905.

"Para tokoh muda dan kalangan ulama mewarnai perjuangan kemerdekaan RI. Waktu 
itu, para ulama bermimpi agar umat Islam bersatu padu dalam melawan 
penjajahan," kata Najmudin Busro.

Oleh karena itu, kalangan ulama dan pemimpin ormas Islam saat ini harus bersatu 
kembali dalam mengisi kemerdekaan, menata kembali kebersamaan dalam kerangka 
keislaman yang rahmatan lilalamiin di dalam NKRI yang berlandaskan Pancasila. 

Halal Bihalal dan Seminar Kebangsaan tersebut dihadiri puluhan peserta dari 
kalangan mahasiswa dan para santri di Provinsi Banten. [TMA, Ant]

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke