Nenek Uzur "Dibuang" di Kebun Pisang
Penulis : Kontributor Bone, Abdul Haq | Kamis, 30 Agustus 2012 | 14:50 WIB
KOMPAS.com/ ABDUL HAQ Di gubuk reot inilah nenek Pawennai asal Kabupaten Wajo, 
Sulawesi Selatan menghabiskan sisa hidupnya, Kamis (30/8/2012).


WAJO, KOMPAS.com  Menyaksikan kelucuan dan kegirangan cucu dan cicit merupakan 
dambaan bagi semua nenek. Namun, hal ini tak berlaku bagi Nenek Pawennai yang 
telah uzur.

Di usianya yang sudah melebihi 100 tahun, Pawennai harus tinggal di gubuk kecil 
di tengah kebun pisang yang terletak di belakang Kantor Desa Patila, Kecamatan 
Pammana, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan.

Nenek Pawennai yang memiliki empat anak dan belasan cucu hingga cicit dan buyut 
ini hanya tinggal bersama anak bungsunya bernama Naima (65) di sebuah gubuk 
kecil berukuran 3 x 4 meter. Di gubuk inilah Nenek Pawennai mendapatkan 
perawatan seadanya lantaran indera penglihatan dan pendengarannya tak lagi 
berfungsi akibat dimakan usia.

Meski demkian, Nenek Pawennai tetap bisa merawat dirinya dengan mandi air 
hangat setiap hari. Untuk makan sehari-hari, Nenek Pawennai terkadang harus 
mengharapkan belas kasihan para penduduk yang tinggal tak jauh dari kebun 
pisang yang ditempatinya.

"Anaknya saja itu yang bungsu yang rawat karena dia kan perawan tua, jadi tidak 
ada suaminya. Jadi dia yang rawat mamanya. Biasa kita yang bawakan nasi sama 
biskuit," ujar Rosmiati, warga setempat. Kamis (30/8/2012).

Saat ditanyakan ke mana semua anak dan cucunya, Naima menyatakan bahwa semuanya 
ada, dan terkadang mereka datang menengok.

"Ada yang tinggal di sana, dan ada juga yang di Sidrap. Mereka sekali-sekali 
saja datang membesuk," ungkap Naima.

Editor :
Farid Assifa

Kirim email ke