Ref: Bagus sekali, cuma saja kalau pada tahun 2012 terdapat 25.000 orang 
bergelar doktor, inilah hasil yang dicapai dalam  waktu lebih dari setengah 
abad merdeka-merdeka.  Jadi kalau mau dicapai 100.000 doktor dalam waktu 3 
tahun yaitu pada tahun 2015, maka produksinya harus diercepat. Mungkin dengan 
memakai sistem  “converyer belt”  bisa lancar produksi  doktor dalam jumlah 
besar dan dapat dicapai  dalam waktu singkat.  Cara yang lebih mudah lagi  
dijual saja ijazahnya,  gelar doktor tersedia bagi yang mau membayar,  tanpa 
perlu berbulan-bulan/tahun duduk di perpustakaan mengumpulkan bahan, membaca, 
mencatat, interview, menulis, membuat seminar, publikasi karya dsbnya.

Kalau rencana tsb berhasil, maka barangkali dalam waktu tak lama lagi semua 
anggota DPR baik di induk kerjaan maupun di daerah periferi kekuasaan dituntut 
harus mempunyai gelar tsb. Jadi ingatlah sobat-sobatku gelar sangat penting, 
terlebih-lebih doktor dibutuhkan dalam herarki kekuasaan NKRI. Anda tidak 
mempunyai gelar, Anda berada di luar lapangan. 

http://edukasi.kompas.com/read/2012/08/27/00562870/Indonesia.Targetkan.Seratus.Ribu.Doktor.Pada.2015



Indonesia Targetkan Seratus Ribu Doktor Pada 2015
Senin, 27 Agustus 2012 | 00:56 WIB 

JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia menargetkan jumlah pemegang gelar doktor 
mencapai seratus ribu orang pada 2015.

Target tersebut disampaikan Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan 
(Wamendikbud) Musliar Kasim dalam pembukaan Seminar Internasional Aku Cinta 
Indonesia Kita (ACIKITA) Kedua di Gedung RRI, Jakarta Pusat, Minggu.

"Jika Indonesia memiliki doktor yang banyak, inovasi dan ilmu pengetahuan akan 
maju dengan pesat," kata Musliar, Minggu (26/8/2012).

Untuk mencapai target tersebut, Musliar mengatakan pemerintah melalui 
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengupayakan pemberian beasiswa doktoral 
kepada pelajar-pelajar Indonesia yang berprestasi.

"Kami genjot jumlah penerima beasiswa doktoral mulai awal 2012 lalu," katanya.

Berdasarkan data yang disampaikan Musliar, jumlah penyandang gelar doktor di 
Indonesia hingga 2012 baru mencapai 25.000 orang.

Oleh karena itu menurut Musliar, pendidikan untuk mencapai jenjang S3 harus 
dibangun dari sekarang dengan memberlakukan wajib belajar 12 tahun.

"Saat ini kita masih menyebut wajib belajar 12 tahun dengan ’program pendidikan 
universal’ dimana pemerintah memberikan subsidi hingga ke jenjang menengah 
atas," katanya.

Kemudian, Musliar menambahkan program tersebut dilanjutkan dengan pemberian 
beasiswa ke pendidikan tinggi S1, S2 dan S3.

"Sementara ini, pemerintah memang memprioritaskan beasiswa bagi dosen dan PNS. 
Namun ke depan, semua orang bisa mendaftar untuk mendapatkan beasiswa 
pendidikan tinggi," kata Musliar. 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke