Partai Politik versus Rakyat
TRIBUNnews.com – 30 menit yang lalu
Lihat Foto
TRIBUNNEWS.COM - Sudah buka Yahoo, begitu pesan SMS dari seorang teman. 
Maksudnya apakah saya sudah membuka tulisan saya “Keroyok, Gempur Jokowi-Ahok” 
di Tribunnews.com, Sabtu, (18/8/2012), yang dimuat di Yahoo.com.

Ketika saya buka, tidak mengira tulisan saya dikomentari dan ditanggapi begitu 
rupa dan beragam, sehingga makin bernuansa. Makasih! Salah satu komentar yang 
saya anggap cukup menarik dan mengena, meski komentarnya cukup singkat, “Partai 
Politik versus Rakyat”.

Asyik juga komentarnya, singkat, padat, dalam, langsung menukik ke sasaran. 
Pertanyaan kita sekarang, benarkah perhelatan Pilkada DKI 2012 di ronde kedua 
ini merupakan atau merepresentasikan pertarungan dua kubu kekuatan, partai 
politik versus rakyat? 

Merapatnya tiga partai politik besar Partai Golkar, PKS dan PPP, ke kubu 
Foke-Nara, untuk menggempur keroyok kalahkan Jokowi-Ahok, mengindikasikan bahwa 
koalisi ini lebih mengacu pada kepentingan pragmatis, atau kepentingan politik 
sesaat – asal bukan Jokowi-Ahok (ABJA). Entah itu dilatari kepentingan 
ideologis, hasrat kuasa atau sedekah harta.

Di tengah meredupnya sinar citra partai politik dan merosotnya legitimasi 
ataupun kredibilitas partai politik di mata rakyat, penggalangan koalisi Partai 
Golkar, PKS dan PPP berkoalisi dengan Partai Demokrat, semakin mempertegas 
bahwa keberpihakan partai politik lebih mengabdi kepada kepentingan kekuasaaan, 
dibanding keberpihakannya mengabdi kepada aspirasi kepentingan kehendak rakyat.

Penggalangan koalisi ini semakin membuka mata rakyat sekaligus menunjukkan 
kepada kita bahwa keberadaan koalisi keempat partai politik ini lebih untuk 
memenuhi hasrat kepentingan-kepentingan politis pragmatis, dibanding berjuang 
demi kepentingan rakyat.

Perhelatan Pilkada DKI 2012 yang intinya untuk memilih pemimpin rakyat, kini 
mengarah kepada kepentingan lebih besar lagi yakni pertaruhan legitimasi dan 
kredibilitas partai politik itu sendiri, dari sekadar memilih gubernur dan 
wakilnya. Karena hasil akhir dari ronde kedua ini, siapa pun pemenangnya – 
Jokowi-Ahok atau Foke-Nara – di sini legitimasi dan kredibilitas partai politik 
dipertaruhkan.

Pada pertarungan ronde kedua, kubu Foke-Nara yang diperkuat oleh koalisi empat 
partai besar ini merepresentasikan simbol kekuatan kekuasaan partai politik, 
sedangkan Jokowi-Ahok yang didukung Gerindra dan PDIP, disimbolkan sebagai 
kekuatan rakyat. Ini mungkin yang dimaksud di komentar, “Partai Politik versus 
Rakyat”. Di mana kekuatan partai politik akan berhadapan melawan kekuatan 
rakyat dalam menentukan pemimpinnya sesuai pilihan hati nurani. Di mana 
kedaulatan partai politik akan berhadapan melawan kedaulatan rakyat dalam 
menentukan pemimpinnya sesuai pilihan hati nurani.

Kita tunggu tanggal mainnya, siapa di antara dua kekuatan ini yang bakal 
memenangkan pertarungan. Mampukah kekuatan partai politik menundukkan kekuatan 
rakyat, atau kebalikannya, justru kekuatan rakyat akan menggilas hegemoni 
kekuatan dan kekuasaan partai politik.

Sebagai penutup tulisan ini, saya akan mengutip sepenggal lirik lagu ciptaan 
Leo Kristi, bejudul “Jabat Tangan Erat-Erat Saudaraku”; Kalau cermin tak lagi 
punya arti, pecahkan berkeping-keping, kita berkaca di riak gelombang...!!!

Alex Palit, penulis lirik lagu, pendiri Forum Apresiasi Musik Indonesia 
(Formasi)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke