http://www.ambonekspres.com/index.php?option=read&cat=42&id=39365

SELASA, 04 September 2012 | 117 Hits



Ambon Stroke
Oleh :A. Bandjar, Dosen FMIPA, Unpatti


Kota Ambon sebentar lagi akan merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) yang ke 437. 
Banyak sudah keberhasilan yang telah dicapai kota yang berjulukan Manise ini. 

Paling tidak ada beberapa keberhasilan yang menonjol ,diantaranya pertama; 
Pemkot Ambon berhasil mendapatkan penghargaan Kalpataru, sebagai salah satu 
kota bersih di Indonesia. Penghargaan ini merupakan kado bagi semua warga kota 
yang telah berhasil menjaga kebersihan. Ambon terlihat dari hari ke hari tampak 
semakin bersih dan apik, suatu keberhasilan yang perlu terus dijaga dan 
ditingkatkan. 

Keberhasilan ini tentunya tak lepas dari kerja keras “Pasukan kuning” ( petugas 
sampah) yang berkerja setiap hari dari pagi sampai petang tampa mengenal lelah 
dan peran Pemkot dengan programnya “jumpa Berlian”; program yang strategis 
untuk mengajak warga kota berpartisipasi membersihkan kota. Kedua; Ambon 
berhasil menduduki peringkat 6 secara Nasional dari 400-an Kabupaten/Kota di 
Indonesia dalam Index Pembangunan Manusia (IPM). Suatu prestasi yang 
membanggakan dari Pemkot dalam urusan kesehatan, pendidikan dan ekonomi. 

Di bidang kesehatan indicator IPM menggambarkan angka harapan hidup, dibidang 
pendidikan menggambarkan lamanya sekolah dan angka melek huruf warga serta di 
bidang ekonomi menggambarkan kemampuan daya beli masyarakat. Keberhasilan ini 
perlu diapresiasi karena suatu pencapaian yang luar biasa ditengah berbagai 
problem yang muncul pasca konflik social yang melanda Maluku. Ketiga; 
Keberhasilan dalam pelaksanaan MTQ Nasional. 

Kegiatan keagamaan ini berhasil dan pelaksanaannya di puji berbagai pihak 
karena kegiatan ini di “support” oleh semua komponen masyarakat. Keberhasilan 
yang mencerminkan kerjasama orang basudara yang memang tertanam kuat dalam 
kesehariannya. Namun dibalik keberhasilan, masih banyak problem kota Ambon yang 
belum terselesaikan bahkan mungkin akan semakin kompleks dikemudian hari 
bilamana tidak sesegera mungkin ditangani. Salah satunya adalah masalah 
kemacetan.

Ambon Menuju Stroke
Sebagai warga kota, kita semua tentunya sepakat bahwa dari hari ke hari,kota 
Ambon terasa semakin sesak. Jumlah penduduk yang terus meningkat ditambah 
dengan meningkatnya jumlah kendaraan pribadi menyebabkan jalan –jalan terasa 
sangat sesak di saat jam-jam kerja. 

Ironisnya bertambahnya kendaraan pribadi (motor dan mobil) tidak diikuti dengan 
perluasan jalan.Tak heran kemacetan terjadi dimana-mana.Karena jalan ibarat 
urat nadi darah. Sama halnya seperti manusia, jika aliran darah tersumbat, 
orang akan mengalami stroke. 

Karena itu, Ambon juga dapat diibaratkan sedang menuju ke sakit stroke. Anehnya 
kebijakan Pemkot bukannya mengobati penyakit stroke yang sedang diderita malah 
sebaliknya penyumbatan hampir terjadi di semua bagian urat nadi sehingga 
kemacetan hampir terjadi merata di semua jalan di dalam kota. Pengembangan Kota 
terasa tidak dilakukan secara komprehensif, namun hanya berhenti pada tataran 
konsep komoditas. Karena itu tak heran, pembangunan kota Ambon terkesan 
diprioritaskan hanya pada bangunan-bangunan komersial, seperti Mal-Mal, Hotel, 
Ruko dan mungkin sebentar lagi Rumah Sakit bertaraf Internasional. 

Bangunan-bangunan komersil tersebut tentunya dibuat menarik, akibatnya banyak 
warga kota akan tertarik kesana dan selanjutnya kemacetan menjadi pemandangan 
keseharian kita di sekitar lokasi tersebut. Dalam perancangan kota, pengembang 
semestinya mempunyai kewajiban untuk membangun berbagai fasilitas termasuk 
jalan dan tempat parkir. Namun di Ambon, Pengembang sering hanya memanfaatkan 
sarana yang sudah ada yang telah dibangun oleh Pemerintah termasuk jalan. 
Banyak ruas jalan disekitar lokasi kemudian digunakan sebagai tempat parkir 
kendaraan, selanjutnya antrian panjang kemacetan terlihat menuju dan keluar 
lokasi bangunan komersil. 

Kemacetan panjang tidak hanya akan menyulitkan warga kota untuk beraktivitas, 
namun selanjutnya gas buang dari kendaraan bermotor dapat menurunkan kualitas 
kesehatan warga kota. Akibatnya banyak warga kota yang memilih tinggal di 
daerah pinggiran. Namun karena perencanaan yang lemah, dan system transportasi 
public yang tidak memadai menyebabkan banyak warga kota memilih untuk 
menggunakan kendaraan pribadi menuju ke kantor, sekolah dan lainnya. Akibatnya 
jumlah kendaraan terus bertambah, menambah panjang antrian akibat kemacetan di 
jalan. Gencarnya pembangunan gedung-gedung komersil di kota Ambon dengan 
berbagai alasan seperti ;investasi, meningkatkan PAD (pendapatan asli daerah) 
dan penyerapan tenaga kerja menyebabkan pemkot lupa untuk mengurusi dan 
menyiapkan ruang-ruang komunal untuk masyarakat umum berinteraksi satu dengan 
lainnya. Dampak selanjutnya dari gempuran pasar bebas tersebut ditambah 
kurangnya keberpihakan pemkot mengakibatkan tergusurnya pedagang-pedagang 
tradisional satu demi satu. Siapa lagi yang kemudian dapat membantu mereka ?


Pekerjaan Rumah

Usia kota Ambon bukanlah usia yang muda. Besarnya tingkat pertumbuhan penduduk 
ditambah dengan sempitnya lahan untuk pemukiman dan pembangunan jalan 
memerlukan suatu perencanaan kota yang baik. Karenanya perluasan jalan menjadi 
pembatas untuk memperlancar kemacetan. Kemacetan di Kota Ambon harus diurai dan 
menjadi tugas besar pemkot ke depan. Kemacetan ini ibarat penyakit stroke, 
menurunkan produktivitas warga kota, menurunkan kualitas hidup masyarakat 
akibat gas buang kendaraan dan secara ekonomis menyebabkan pemborosan bahan 
bakar. Ambon ke depan semestinya bebas dari kemacetan, dan hal itu hanya bisa 
jika : pertama; Pemkot, mampu untuk meredam dan mengurangi tingkat pertumbuhan 
transportasi pribadi. 

Hal ini dapat dilakukan dengan meningkatkan pajak kepemilikan kendaraan 
bermotor dan meningkatkan pungutan parkir sambil terus memperbaiki system 
angkutan umum massal. 

System perpakiran perlu terus diperbaiki ; baik tempat maupun waktu parkir. 
Lokasi-lokasi komersil perlu diwajibkan memiliki tempat parkir sendiri untuk 
mencegah penggunaan badan jalan untuk parkir kendaraan . Kedua; Pemkot perlu 
mengatur dan berkordinasi dengan berbagai pihak untuk penyebaran waktu kerja 
atau jam sekolah agar pada jam sibuk (“peak hours”) dapat disebar sehingga 
kemacetan dapat dihindari. 

Ketiga; Pemkot perlu mengendalikan pusat-pusat pertumbuhan baru di kawasan 
pinggiran agar pengembangan kawasan pinggiran terutama untuk pemukiman perlu 
dilengkapi dengan sarana lain seperti tempat ibadah, tempat belanja, tempat 
rekreasi, sekolah dan fasilitas lainnya agar masyarakat tidak terangsang untuk 
bepergian ke pusat kota. Keempat; Pemkot perlu mengatur agar setiap pengembang 
wajib menyediakan lahan pengembang utuk fasilitas social/fasilitas umum. 
Akhirnya sudah saatnya Ambon memiliki konsep pembangunan kota yang mampu 
meredam pertumbuhan kendaraan. Jika demikian Ambon akan terhindar dari 
“penyakit stroke”. Ambon kedepan akan menjadi sehat dan manise, Ayo mari benahi 
Ambon, Selamat Ulang Tahun !. (*)

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke