Ref: Ada yang mengatakan bahwa pasukan KNIL hanya terdiri dari orang Ambon 
(Maluku). Jadi sekalipun agak terlambat berita ini, ada baiknya diteruskan agar 
tidak dibodohkan. Insyaalloh!

http://sejarah.kompasiana.com/2012/02/25/pengaruh-karakter-suku-dalam-organisasi-pasukan-knil/

Pengaruh Karakter Suku dalam Organisasi Pasukan KNIL
REP | 25 February 2012 | 04:02 

:0 


Anda tahu suku apa saja yang digunakan oleh KNIL (Koninkiljke Nederlandsche 
Indische Leger) dalam menumpas berbagai perlawanan di tanah air? Rata-rata 
hampir semua suku di Nusantara menjadi bagian dari pasukan KNIL, namun 
persentasenya berbeda-beda. Hal ini merupakan salah satu politik Devide et 
Impera Belanda dalam melemahkan perlawanan di tanah air. Selain itu, pasukan 
Belanda yang sebelumnya bertugas menggempur perlawanan di daerah banyak yang 
gugur akibat terbunuh atau menderita sakit  kolera, sehingga prajurit pribumi 
diharapkan lebih tahan terhadap penyakit tropis. Belanda juga tidak perlu 
mendatangkan prajurit Belanda dalam jumlah banyak karena akan memboroskan 
anggaran.

Komposisi Prajurit Pribumi dalam Pasukan KNIL

   
  Pengumuman Perekrutan Prajurit KNIL (Sumber/engelfriet.net)Menurut catatan 
Capt. R.P. Suyono dalam bukunya yang berjudul Peperangan Kerajaan di Nusantara 
terbitan Grasindo, sejak terbentuk (tahun 1830) pasukan KNIL sangat kekurangan 
prajurit karena rata-rata kebutuhannya adalah 2.000 per tahun, namun prajurit 
Belanda yang dikirm ke Hindia Belanda rata-rata hanya 1500 hingga 1600 per 
tahun. Selisih 500 orang merupakan hal urgent mengingat sebagian pasukan yang 
dikirim juga gugur dalam menjalankan tugas sehingga kebutuhan prajurit semakin 
membengkak. Tentu saja hal ini tidak dapat memenuhi kebutuhan untuk menaklukan 
daerah-daerah yang belum dikuasai –pada abad 19 daerah kekuasaan Hindia Belanda 
masih kecil– serta menumpas pemberontakan di daerah-daerah yang bergejolak.

Melihat perbandingan antara jumlah prajurit dan kebutuhan yang tidak seimbang 
maka perekrutan prajurit pribumi merupakan satu-satunya solusi. Perekrutan ini 
memberikan kemenangan pihak kompeni terhadap berbagai perlawanan di tanah air, 
terbukti prajurit Ambon, Manado dan Jawa berhasil menumpas perlawanan di Bali  
pada tahun 1860. Seiring makin masifnya perekrutan parajurit pribumi serta 
bergabungnya anak-anak prajurit KNIL yang lahir di tangsi maka jumlah prajurit 
pribumi di dalam pasukan KNIL meningkat dari tahun ke tahun.

Suyono mencatat pada tahun 1916, jumlah prajurit KNIL terdiri dari 17.854 orang 
Jawa, 1.792 orang Sunda, 151 orang Madura, 36 orang bugis –menurut Maulwi 
Saelan (mantan Wakil Komandan Tjakrabirawa), orang bugis dan Makasar jarang 
dijadikan prajurit KNIL karena tingkat kesetiaan yang rendah– dan 1.066 orang 
Melayu. Adapun orang Ambon yang berjumlah 3.519 orang, orang Manado 5.925 dan 
59 orang Alfuru. Jumlah pasukan pribumi ini dilengkapi dengan 8.649 orang Eropa 
sehingga kekuatan pasukan KNIL menjadi kuat terutama pada awal abad ke 20 
hingga sebelum Perang Dunia (PD) II. Komposisi suku dalam pasukan KNIL ini 
sangat dinamis dari tahun ke tahun namun rata-rata orang Jawa tetap memiliki 
jumlah prajurit terbanyak karena bisa mencapai 50 %. Orang Sunda 5 %, Manado 15 
% dan justru orang Ambon hanya mencapai 12 %. Sisanya adalah suku Timor 4 % dan 
suku-suku lain seperti Aceh, Batak, Madura dan Bugis masing-masing 1 %.

Komposisi kesukuan yang memiliki sifat dan karakter berbeda ini ternyata juga 
berpengaruh pada organisasi berperang pasukan KNIL. Hal ini terbukti dari 
penempatan prajurit ke dalam empat Kompi yang berbeda dalam satu batalyon 
infanteri. Kompi pertama adalah gabungan orang Eropa dan Manado yang 
difungsikan berhadapan langsung dengan musuh, menyerang, menembak dan membuat 
lubang perlindungan. Mereka juga bertugas untuk menghitung kekuatan musuh 
dengan mengintai. Kompi kedua yang terdiri dari orang Ambon dan Timor merupakan 
pasukan penggempur yang bertugas melibas musuh namun harus segera ditarik 
kembali sebelum semuanya hancur. Setelah ditarik maka fungsi kompi ketiga dan 
keempat yang terdiri dari orang Sunda dan Jawa yaitu melakukan pendudukan dan 
meciptakan perdamaian. Tugas terakhir ini diberikan kapada prajurit Jawa dan 
Sunda karena mereka memiliki sifat tenang dan mampu menahan diri.

Diskriminasi Dalam Pasukan KNIL

Belanda selalu senang menciptakan segregasi antara satu kelompok dan kelompok 
yang lainnya termasuk antar

   
  Para Prajurit KNIL yang berdarah Ambon (Sumber/engelfriet.netsuku di dalam 
pasukan KNIL. Segregasi yang diciptakan berupa diskriminasi dalam bentuk 
penggajian dan fasilitas. Orang Jawa yang merupakan mayoritas ternyata tidak 
serta merta dihargai oleh Belanda, justru merekalah yang mengalami perlakuan 
diskriminasi.

Jika ada penghargaan medali kuning untuk keberanian dan kesetiaan (Voor Moed en 
Trouw) maka prajurit Ambon dan Manado akan mendapatkan tambahan gaji f10,9 
(gulden), sedangkan prajurit Sunda dan Jawa hanya mendapat f6,39. Hal ini juga 
berlaku dalam berbagai fasilitas termasuk tingkat kelas jika bepergian. Sebelum 
tahun 1905 prajurit Jawa tidak mendapatkan fasilitas sepatu karena keunggulan 
berperang dianggap tidak sebaik prajurit Ambon dan Manado. Prajurit Jawa yang 
cenderung nrimo dengan perlakukan ini menyebabkan selalu mengalami diskriminasi.

Nasib prajurit Jawa mengalami perbaikan setelah diprotes oleh J. van der Weiden 
–menantu Jendral van Heutsz (komandan pasukan Belanda yang berhasil menaklukkan 
Aceh)– yang mengatakan bahwa prajurit Jawa juga gagah berani –selain prajurit 
Aceh– terbukti dari perang Jawa yang sangat sulit dihentikan Belanda. Orang 
Belandalah yang berpikiran bahwa prajurit Jawa lebih lemah sehingga mendapatkan 
perlakuan diskriminasi.

Kekuatan pasukan KNIL mengalami penurunan setelah Perang Dunia II berakhir dan 
Belanda ingin menguasai kembali Indonesia dengan melancarkan Agresi Militer I 
dan II. Sebagian besar pasukan KNIL –antara lain A.H Nasution, Urip Sumoharjo, 
Alex Kawilarang dan yang lainnya– pada masa ini sudah terpengaruh ide revolusi 
dan kemerdekaan sehingga mereka berjuang untuk kemerdekaan Republik Indones


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke