Indonesia Perlu Pemimpin Jujur yang Tidak Merampok
http://www.suarapembaruan.com/politikdanhukum/indonesia-perlu-pemimpin-jujur-yang-tidak-merampok/23929
Selasa, 28 Agustus 2012

Politisi senior PDI Perjuangan, Sabam Sirait[JAKARTA] Indonesia harus mempunyai 
pemimpin yang jujur dan tidak “merampok”. Karena itu perlu aturan dan 
pengawasan yang ketat sebagai rambu bagi pemimpin tersebut. Hal itu disampaikan 
politisi senior Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Sabam Sirait 
kepada SP, di Jakarta, Selasa (28/8).

“Kita harus punya pemimpin yang jujur yang tidak merampok. Buat peraturan, 
kalau merampok bisa ketahuan. Pengawasan selama lima tahun kepemimpinan juga 
perlu dilakukan,” kata Sabam.

Sabam mengemukakan, pemimpin bangsa ini ke depan juga harus benar-benar 
memahami Indonesia. Selain itu, seorang pemimpin perlu mencermati perkembangan 
politik nasional dan yang akan datang.

Secara khusus, kepemimpinan nasional sudah diatur jelas dalam 
perundang-undangan yang berlaku. Artinya, calon pemimpin wajib mematuhi 
persyaratan yang diatur dalam undang-undang (UU) itu. “Kalau syarat 
kepemimpinan nasional sudah ada di UU. Tapi, secara umum pemimpin harus tahu 
yang apa diurus. Kalau presiden, harus tahu Indonesia seperti apa. Dia harus 
paham Indonesia termasuk sejarah politik yang terjadi,” jelas Sabam.

Ditambahkan, rasa nasionalisme perlu dimiliki oleh seorang pemimpin. Namun hal 
tersebut harus diimbangi dengan pengetahuan mengenai dunia internasional. 
Misalnya terkait perkembangan wilayah Asia Tenggara. “Pemimpin mesti punya 
nasionalisme. Bagaimana dia tahu soal Asia Tenggara itu juga penting. Jangan 
sampai pemimpin itu tidak tahu sama sekali,” imbuhnya.

Sabam berharap Pemilihan Umum (Pemilu) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 
dapat berjalan dengan baik. Dikatakan, biarlah rakyat menentukan pemimpin yang 
akan dipilih. Sedangkan menyangkut dibukanya ruang tokoh non partai menjadi 
kandidat presiden, menurut Sabam, hal tersebut merupakan wewenang dari 
masing-masing partai. “Pemilu dan Pilpres 2014 harus berjalan baik. Orangnya 
siapa, biar rakyat yang menentukan. Calon presiden (capres) mesti diusung 
partai politik (parpol). Tapi apakah capres itu bukan anggota parpol, bisa saja 
dan tidak dilarang. Partai bisa memilih calon dari dalam maupun luar partai,” 
ujar Sabam.

Pada kesempatan tersebut, Sabam mengkritisi sikap Presiden Susilo Bambang 
Yudhoyono (SBY) yang terkesan tidak ingin mencampuri masalah Komisi 
Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Polri dalam kasus simulator mengemudi di Korps 
Lalu Lintas (Korlantas). “Pemimpin itu perlu tahu. Jangan dikatakan bahwa dia 
tidak bisa mencampuri KPK dan Polri, padahal dia (posisinya) di atas (dua 
lembaga penegak hukum) itu,” tukas Sabam.

Bahkan, lanjut dia, kalau kejaksaan dan Polri bekerja tidak baik sepenuhnya 
menjadi tanggung jawab presiden. “Kalau perlu, ganti Kapolri dan Jaksa Agung 
jika memang ada pelanggaran. Jangan justru lepas tangan,” tegasnya. [C-6]


Laporan PPATK
Pemprov DKI Korupsi Tertinggi, Foke Cari Bukti
Penulis : Riana Afifah | Selasa, 28 Agustus 2012 | 15:58 WIB
KOMPAS IMAGES/FIKRIA HIDAYAT Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo (Foke).

JAKARTA, KOMPAS.com - Terkait laporan Pusat Pelaporan Analisis Transaksi dan 
Keuangan (PPATK) mengenai kasus korupsi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta 
tertinggi dibandingkan yang lain, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo segera akan 
melakukan pengecekan terhadap informasi tersebut.

"Saya sudah baca di beberapa media massa. Saya akan segera cek informasinya. 
Kalau terbukti benar akan segera ditindaklanjuti," kata Foke, sapaan akrab 
Fauzi Bowo, di Balaikota, Jakarta, Selasa (28/8/2012).

Ia mengungkapkan bahwa pihaknya tengah mewujudkan komitmen good and clean 
governance. Selama lima tahun ini, ia mengaku pihaknya telah berupaya keras 
untuk mencegah terjadinya praktik korupsi dengan dengan menertiban pencatatan 
dan sistem penganggaran yang lebih transparan dan akuntabel.

"Sudah menjadi komitmen kami untuk mendukung upaya penegakan hukum dalam 
mengungkap kasus dugaan korupsi demi terciptanya good and clean governance," 
ujar Foke.

Salah satu buktinya, kata Foke, adalah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berhasil 
mendapatkan predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) berdasarkan audit BPK. 
Tidak hanya itu, pengelolaan APBD Jakarta juga mendapat rating tinggi (AA+) 
dari perusahaan pemeringkat terbesar PT Pefindo.

Dari data PPATK, pemerintah provinsi yang paling tinggi diduga melakukan tindak 
pidana korupsi adalah Pemprov DKI Jakarta berada di urutan pertama dengan 46,7 
persen, sementara Provinsi Bangka Belitung terendah dengan 0,1 persen.

Berikut rinciannya dari yang tertinggi:
1. Pemprov DKI Jakarta 46,7 persen.
2.Jawa Barat 6,0 persen.
3. Kalimantan Timur 5,7 persen.
4. Jawa Timur 5,2 persen.
5. Jambi 4,1 persen.
6. Sumatera Utara 4,0 persen.
7. Jawa Tengah 3,5 persen.
8. Kalimantan Selatan 2,1 persen.
9. Nangroe Aceh Darussalam 2,1 persen.
10. Papua 1,8 persen.
11. Sumatera Selatan 1,5 persen.
12. Sulawesi Selatan 1,5 persen.
13. Riau 1,5 persen.
14. Kepulauan Riau 1,3 persen.
15. Banten 1,3 persen.
16. Lampung 1,2 persen.
17. DI Yogyakarta 1,1 persen.
18. Maluku 1,1 persen.
19. Sulawesi Utara 0,9 persen.
20. Kalimantan Barat 0,8 persen.
21. Nusa Tenggara Timur 0,8 persen.
22. Bengkulu 0,8 persen.
23. Sumatera Barat 0,7 persen.
24. Bali 0,7 persen.
25. Kalimantan Tengah 0,6 persen.
26. Sulwesi Tenggara 0,6 persen.
27. Nusa tenggara Barat 0,5 persen.
28. Papua Barat 0,5 persen.
29. Maluku Utara 0,4 persen.
30. Sulawei Tengah 0,4 persen.
31. Sulawesi Barat 0,3 persen.
32. Kepulauan Bangka Belitung 0,1 persen.

Editor :
Ana Shofiana Syatiri

Kirim email ke