http://www.analisadaily.com/news/read/2012/09/18/75211/noda_hitam_negara/#.UFjK_FGKjBo

      Selasa, 18 Sep 2012 01:33 WIB


      Noda Hitam Negara? 
      Oleh : Roy Naldy Simare-mare.


      Setiap negara pasti mempunyai ideologi/falsafah masing-masing yang harus 
dijalankan oleh pemerintah, yang dapat menghantarkan suatu bangsa itu kepada 
cita-cita yang lebih baik. Saya pikir semuanya sepakat dengan pernyataan ini. 
Kalau ada yang menentang atau pun tidak sepakat terhadap ideologi pada suatu 
negara, pastilah individu itu adalah bahagian dari penghancur sebuah negara 
karena ketidaksepakatan ideologi adalah awal dari tindakan pemberontakan 
terhadap suatu negara.
      Pancasila yang merupakan asas negara Indonesia—yang berisikan: Pertama, 
Ketuhanan Yang Maha Esa. Kedua, Kemanusiaan yang adil dan beradab. Ketiga, 
Persatuan Indonesia. Keempat, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat 
kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Kelima, Keadilan sosial bagi 
seluruh rakyat Indonesia—harus kita hayati dan implementasikan (pengamalan) 
dalam dinamika berbangsa atau pun bernegara.

      Pancasila merupakan harga mati dalam Republik Indonesia, yang tidak boleh 
diganggu-gugat oleh siapa pun. Kalau ada yang berani menggugat dari kelima sila 
di atas, itu berarti Pancasila telah mengalami ancaman. Ancaman tersebut bisa 
saja dari intern maupun ekstern. Dan jika hal itu terjadi, negara harus 
mengambil sikap yang bijak terhadap hal tersebut. Asas Pancasila merupakan 
langkah awal dan akhir masyarakat Indonesia untuk menjadikan bangsa ini maju, 
aman, sejahtera dan makmur. Itu jika segenap rakyat Indonesia menjalankannya. 
Nah, kalau tidak, maka bangsa ini akan mengarah kepada titik kehancuran.

      Nilai-nilai luhur yang berada dalam Pancasila dan UUD 1945, bukanlah 
hanya suatu hafalan saja kepada para pemerintah dan masyarakat Indonesia. 
Tetapi, harus kita hidupi dalam dinamika berbangsa dan bernegara. Karena segala 
aktivitas tanpa dibarengi dengan pemahaman Pancasila dan UUD 1945, otomatis 
dalam kehidupan sosial akan timpang dan "kocar kacir". Fakta yang ada di 
lapangan adalah perusakan rumah ibadah, kekerasan atas nama agama, teroris, 
korupsi, hukum yang sifatnya terkadang tajam kepada rakyat lemah, isu SARA, 
kaum kapitalis menyerobot tanah rakyat, dan lain-lain. Itulah noda-noda negara 
yang sudah lazim kita rasakan dan lihat. Dan memang, segala noda yang dilakukan 
oleh orang yang tidak bertanggung jawab, haruslah dihapuskan agar Indonesia 
bisa merasakan cita-cita falsafah Pancasila tersebut.

      Dimana Peran Pemerintah?

      Mungkin kita selalu mempertanyakan dalam logika sehat ini. Kok negara ini 
terus diterpa kemelut-kemelut yang memang sudah sangat lazim. Alhasil kita 
mempertanyakan, dimanakah aksi yang telah dilakukan negara ketika Kebhinekaan 
kita yang pada saat ini telah dicekokin oleh orang yang tidak bertanggung jawab 
dan fanatik. Dimanakah peran pemerintah ketika kaum minoritas dibubarkan 
seenaknya oleh kaum intoleran? Dan malah ada yang tidak senang terhadap mereka. 
Padahal, banyak tindakan yang seharusnya dapat dilakukan oleh pemerintah dalam 
menyelesaikan kasus-kasus tersebut, yang memang bukan "angin segar" lagi. Dan, 
itu sudah menjadi "santapan" di dalam dunia hukum Indonesia. Kasus yang marak 
sekarang, yaitu kasus intoleransi, teroris dan korupsi sudah menjadi perhatian 
nasional maupun dunia internasional. Begitu juga sudah menjadi agenda Komnas 
HAM Republik Indonesia karena masalah HAM menjadi salah satu pusat perhatian 
manusia sejagat raya. Hingga kini, Hak Asasi Manusia tetap menjadi isu aktual 
dalam berbagai peristiwa sosial, agama, politik dan ekonomi, dan lain-lain, di 
tingkat nasional serta internasional.

      Sebagai rakyat, kami memang harus mendapat perhatian serta dilindungi 
oleh negara. Hal itu mencakup segala proses kehidupan kami. Negara tidak boleh 
diam saja terhadap perilaku yang tidak sehat tersebut. Kalaupun ada 
permasalahan dalam dinamika sosial, negara jangan hanya berkumandang nyaring, 
yang enak didengar tapi jauh dari tindakan real. Berdiam dan memperhatikan 
kerintihan rakyat merupakan salah satu dari nilai-nilai Pancasila. Begitu juga 
dengan wujud dari seorang pemimpin yang bijaksana. Kalau ada seorang pemimpin 
yang mau berada dalam kondisi real masyarakat, tentu dia yang akan dipilih oleh 
rakyat. Bukan di saat mau menjadi pemimpin, ia meminta suara dari rakyat dan 
memberikan kepada rakyat "bumbu penyedap" seperti biaya pendidikan murah, 
mengurangi rakyat miskin, tidak ada lagi kekerasan atas nama agama, hidup 
rakyat makmur, kesehatan terjamin, dan lain-lain. Yang kebanyakan hanya 
"gelembung-gelembung" saja.

      Pelanggaran-pelanggaran HAM yang terus dihujani oleh kelompok-kelompok 
garis keras, kasus korupsi yang tidak ada hentinya di birokrasi negara. Tapi, 
kasus rakyat kecil bermasalah, sangat cepat selesai. Mulai dari reformasi 1998, 
dengan agenda bahwa Presiden Suharto korupsi yang harus lengser dari 
kepemimpinannya. Eh, ternyata pejabat-pejabat kita korupsi juga. Berarti, kalau 
ada yang korupsi, cabut saja jabatannya. Seperti ada kata mutiara mengatakan, 
‘balok di matamu tidak kau lihat, tapi selumbar di mata orang lain ingin 
dikeluarkan.’

      Perilaku korupsi yang telah terjadi di arena birokrasi Indonesia sangat 
besar dampaknya bagi kehidupan orang banyak. Dan jika korupsi ini terus 
mengalami peningkatan, maka, mungkin saja negara ini akan terkena bencana 
kelaparan, penyakit, dan kematian. Akibat uang rakyat sudah ditimbun di 
"bagasi" pribadi. 

      Presiden SBY adalah pemimpin yang mempunyai kekuatan untuk menghentikan 
orang-orang yang sudah menjelekkan citra birokrasi. Seruan rakyat kepada 
presiden sangatlah berharga, yang memang harus didengar. Karena suara rakyat 
adalah suara presiden. Presiden dipilih untuk menjalankan roda kepemimpinan 
bangsa ini oleh rakyat. Itu tandanya hati nurani rakyat masih percaya kepada 
beliau, yang sudah memimpin negara ini dengan dua periode.

      Tindakan, Bukan Suara

      Untuk menjadikan negara ini bersih serta mengalami pembaharuan, maka 
pemerintah harus memberikan sikap yang tegas terhadap pelaku-pelaku korupsi dan 
pelanggar-pelanggar HAM. Bukan saat kampanye politik saja kita melakukan 
tindakan, tetapi ketika sudah menjabat itu yang lebih penting. Rakyat bukan 
"boneka," tapi rakyat adalah manusia yang mempunyai akal dan budi. Rakyat 
bukanlah batu loncatan untuk meraih mimpi keinginan para elite politik. Tapi 
rakyat punya hati nurani.

      Pemerintah harus benar-benar menghidupi nilai-nilai Pancasila dan 
memegang teguh Undang-Undang Dasar 1945 sebagai dasar untuk berdinamika yang 
dapat menghantarkan segenap rakyat Indonesia kepada kesejahteraan bersama. 
Kalau itu saja tidak bisa dihayati serta diimplementasikan, lebih baik mundur. 
Rakyat sudah bosan terhadap janji-janji yang hanya enak didengar. Yang telah 
dibawa bermimpi oleh para calon-calon pemimpin. Keagungan seorang pemimpin 
adalah ketika ia dekat dengan rakyat. Ketika ia berjalan di samping rakyat dan 
menguatkan rakyat ketika berada pada posisi pergumulan.

      Presiden Sukarno adalah pemimpin yang nasionalis dan dekat dengan rakyat. 
Sikap beliau merupakan potret kepada calon pemimpin-pemimpin sekarang. Kiprah 
Sukarno memang tidak diragukan lagi di belantika nasional dan internasional. 
Selain religius, juga menjunjung dan memegang teguh nilai-nilai filosofis 
bangsa ini.

      Tindakan nyata yang telah dikampanyekan para elite politik adalah sebuah 
keinginan seluruh rakyat. Seorang pemimpin harus bisa memberikan potret 
positif, tindakan nyata, dan memegang janjinya kepada rakyat. Pemimpin bukanlah 
hanya memenuhi kebutuhan diri sendiri, tapi pemimpin yang telah dipercayakan 
oleh Sang Khalik, untuk membawa bangsa dan negara ini kepada perubahan hidup 
yang lebih baik dan bermoral. Maka itu, bertindaklah sebelum terlambat, bukan 
suara anda yang mau kami dengar. Kami tidak butuh suara nyaring anda. Tapi 
mulailah melakukan apa yang anda katakan.***

      Penulis adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Teologia (STT) Abdi Sabda, 
Sekretaris di Solidarity for Human Rights (SA-HAM) dan Sekretaris Komisi 
Perempuan GMKI Cab. Medan.
     


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke