http://www.shnews.co/detile-7908-terorisme-radikalisme-dan-deradikalisasi.html

Terorisme, Radikalisme dan Deradikalisasi 
Endang Suryadinata* | Sabtu, 15 September 2012 - 11:22:04 WIB

: 138 




(dok/ist)
Membutuhkan penanganan yang komperhensif terkait ketiga hal itu.


Terorisme memang ibarat hantu. Kadang menghilang cukup lama, tapi tiba-tiba 
bisa datang dan jadi perbincangan. Hari-hari ini media kita kembali menjadikan 
terorisme sebagai buah bibir, setelah sekelompok teroris muda menyerang pos 
polisi di Solo pada 17 dan 18 Agustus 2012. 

Pada 30 Agustus, Tim Densus 88 berhasil menembak mati dua teroris muda, meski 
seorang polisi juga tewas dalam baku tembak di jalanan Kota Solo. Disusul 
penemuan amunisi bom di Tambora, Jakarta, dan konon ada satu jaringan teroris 
antara Solo dan Jakarta. 

Kalau kita bicara terorisme di negeri ini, sebenarnya tak bisa dilepaskan dari 
terorisme global, dengan Al-Qaeda sebagai pemain utama. Seperti diketahui, 
Al-Qaeda pernah menyerang World Trade Center di New York, AS, pada 11 September 
2001 yang menewaskan sekitar 3.000 orang. 

Meski pemimpin Al-Qaeda Osama bin Laden sudah tewas dalam sebuah operasi 
militer AS di Kota Abbottabad, Pakistan, awal Mei 2011, namun terorisme tidak 
mengenal kata mati. 

Demikian juga di negeri kita, meski para gembong teroris seperti Dr Azahari dan 
Noordin M Top sudah tewas dalam baku tembak dengan Densus 88, generasi baru 
teroris selalu muncul. Munculnya teroris baru menjadi bukti bahwa terorisme 
sudah menjadi ideologi yang tidak bisa hanya dihadapi dengan senjata. 

Mungkin benar bahwa perang melawan terorisme sebagai ”perang untuk merebut hati 
dan pikiran”. Lewat berbagai strateginya, para gembong teroris baru terbukti 
beberapa kali menang dalam perang merebut hati dan pikiran, sehingga selalu ada 
orang-orang muda yang bisa direkrut untuk jadi teroris. 

Peperangan seperti ini sulit dikalahkan dengan senjata, karena para teroris 
selalu meyakini setiap aksi mereka adalah demi membela agama, bahkan Tuhan. 
Jadi, di sinilah letak kesulitannya. Ketika para teroris sudah didorong oleh 
sebuah motif berdasar agama maka masalah terorisme menjadi persoalan yang 
rumit. 

Radikalisme 

Seperti diketahui, para teroris memiliki pemahaman keagamaan yang radikal. 
Radikalisme itu seperti lahir lagi setelah 2001. Pascatragedi 11/9 atau 
serangan teroris ke AS pada 2001, berbagai negara, termasuk Indonesia, justru 
direpotkan oleh munculnya jaringan terorisme global dengan membawa-bawa ajaran 
Islam. Tentu mereka memiliki pandangan keislaman yang berbeda dengan mayoritas 
Islam di negeri kita, yang rata-rata bersikap moderat dan menjauhi radikalisme. 

Ajaran Islam sejati yang memuliakan hidup terpinggirkan oleh argumentasi 
teologis yang tampak rasional, sehingga ujung-ujungnya kematian justru dipuja, 
baik kematian si pelaku bom bunuh diri sebagai syuhada maupun kematian dari 
warga tak berdosa. 

Padahal, Islam yang sejati mengajarkan bahwa membunuh satu orang sudah membunuh 
seluruh umat manusia. Jadi, para teroris sudah menodai agama, karena sejak lama 
mereka menjadikan agama sebagai pembenar atau legitimasi bagi segala aksi 
mereka. 

Untuk itu para tokoh agama mohon lebih aktif turun ke bawah guna merebut hati 
dan pikiran umat agar jauh dari hal-hal yang membahayakan agama dan 
kemanusiaan. Betapa berbahayanya agama bila sudah dibajak atau diselewengkan 
para teroris. Kebenaran agama yang damai tersisih oleh ajaran agama para 
teroris yang membenarkan kekerasan dan pembunuhan. 

Para tokoh agama atau kita harus bisa lebih cerdik daripada para gembong 
teroris sehingga orang-orang muda kita bisa dihindarkan dari bujuk rayu 
radikalisme atau ajaran yang menyesatkan. 

Kalau para gembong teroris mengajarkan bahwa radikalisme yang diusungnya demi 
membela agama dan Tuhan, para tokoh agama harus mengajarkan membela Tuhan dan 
agama tidak perlu lewat kekerasan. Ingat menurut Abdurrahman Wahid (Gus Dur) 
yang 1.000 hari wafatnya jatuh pada 17 September 2012, Islam tidak perlu 
dibela, demikian juga Tuhan tidak perlu dibela. 

Berkaca dari Belanda 

Tak berbeda jauh dengan Indonesia, negara yang pernah dijajahnya, Belanda juga 
menghadapi ancaman radikalisme yang muncul di kalangan kaum imigran asal 
Maroko, Somalia, atau Timur Tengah lain. Radikalisme itu memuncak pada 
terbunuhnya politikus Belanda Pim Fortuijn pada 2002 dan sineas Theo van Gogh 
pada 2004, yang dinilai telah melecehkan Islam. 

Terbunuhnya kedua sosok itu mendorong pemerintah Belanda mencari jalan untuk 
mengatasi radikalisme agama. Pemerintah Belanda menggandeng para pemikir dan 
perguruan tinggi guna menghadapi radikalisme agama. 

Froukje Demant merupakan peneliti radikalisme yang terkenal. Dia menyarankan 
agar pemerintah Belanda yang sekuler lebih terbuka untuk argumen-argumen 
religius dan kaum muslim moderat harus mengajak sesama muslim yang radikal 
masuk ke mainstream Islam yang damai. Tentu itu bukan saran yang mudah. 

Dalam hal radikalisme, pemerintah Belanda juga menghargai jasa para pemikir 
Islam Timur Tengah yang ditampung sebagai akademikus migran di sejumlah kampus 
atau pusat riset di Belanda. Abdul Karim Soroush yang asal Iran, misalnya, 
segaris dengan iklim kebebasan Belanda dan berkontribusi dalam proses 
deradikalisasi kaum radikal. 

Mungkin, ada baiknya para tokoh agama, demikian juga para cendekiawan muslim di 
negeri kita berkumpul dan mendiskusikan persoalan terorisme ini. Ini penting, 
bukan demi citra Islam yang positif saja, tetapi jangan sampai sejarah kelak 
mencatat negeri kita sebagai sarang teroris. 

Kecuali itu, pemerintah Belanda terus memantau atau melakukan supervisi atas 
lembaga-lembaga agama yang dianggap rentan menumbuhkan ide-ide radikal. Dinas 
intelijen Belanda AIVD juga selalu proaktif dalam melihat sesuatu yang 
berpotensi membahayakan keselamatan banyak orang. 

Polisi Belanda akan menyelidiki siapa pun yang berani memuji aksi kaum radikal. 
Itu senada dengan yang diucapkan Ansad Mbai, Ketua Badan Nasional 
Penanggulangan Terorisme (BNPT). Dia menyayangkan sikap beberapa tokoh agama 
atau ustaz yang justru memuji teroris yang mati sebagai martir. 

Ansad menambahkan, percuma polisi bekerja keras di lapangan, sementara setiap 
saat muncul teroris baru karena apa yang dilakukan dianggap sebagai pahlawan 
atau suhada. Dengan membiarkan segala puja-puji untuk para teroris, berarti 
kita yang memiliki pemahaman moderat, sesungguhnya sudah kalah dalam peperangan 
merebut hati dan pikiran. 

Memang yang diperlukan dalam peperangan merebut hati dan pikiran adalah 
kesadaraan bahwa masalah ini tidak ringan. Karena itu jangan lagi, kita 
berlindung di balik kata, yang menganggap mereka yang memiliki pandangan 
radikal itu toh hanya segelintir orang, bukan mayoritas. 

Jangan lupa segelintir orang, dengan bom yang siap mereka ledakkan, bisa 
menghadirkan petaka dan bahaya. Jadi, mari kita jangan bosan menyebut bahwa 
terorisme adalah sebuah kejahatan. Agama apa pun akan mengutuk aksi teror. 
Jadi, mari kita terus mencari upaya untuk melakukan deradikalisasi sehingga 
negeri ini akan bebas dari ancaman radikalisme dan terorisme. 

  

*Alumnus Erasmus Universiteit Rotterdam-Belanda, tinggal di Surabaya. 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke