http://www.indopos.co.id/index.php/arsip-berita-indopos/111-info-grafis/27881-pilgub-dki-megawati-buntung.html

Pilgub DKI, Megawati Buntung

Monday, 24 September 2012 11:50 



Prabowo Untung, Jokowi Jangan Ikut Pilpres 2014

JAKARTA-Siapa yang paling diuntungkan di balik kemenangan Joko Widodo-Basuki 
Tjahja Purnama dalam Pilgub DKI kemarin? Saiful Mujani Research dan Consulting 
(SMRC) menjawabnya dari hasil exit poll putaran kedua pada Pemilihan Umum 
Kepala Daerah (Pemilukada) DKI Jakarta.

Chief Eksekutif Officer SMRC, Grace Natalie mengatakan dari hasil exit poll 
yang dilakukan Kamis (20/9) lalu, pemilih DKI menginginkan Ketua Dewan Pembina 
Partai Gerindra, Prabowo Subianto yang menjadi presiden. "Yang dipilih menjadi 
presiden bila pemilihan diadakan sekarang adalah Prabowo dengan suara 19,1 
persen," kata Grace dalam diskusi yang digelar di Jakarta, Minggu (23/09).

Exit poll SMRC ini dilakukan di 400 Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang dipilih 
secara random dan proporsional. Di tiap TPS yang dipilih, diambil sampel 2 
orang saat keluar dari TPS sebagai responden. Responden yang terpilih terdiri 
dari 1 laki-laki dan 1 orang perempuan sudah ditentukan dari awal dengan metode 
pengacakan.

Jumlah responden yang berhasil diwawancarai sebanyak 740 orang (95 persen). 
Tingkat kesalahannya adalah kurang lebih 3,7 persen sedangkan tingkat 
kepercayaannya 95 persen. Untuk lebih mevalidkan data exit poll, quality 
control dilakukan dengan spot check sebanyak 20 persen responden yang dipilih 
secara random dan 100 persen responden ditelepon.

Grace yang juga mantan presenter TV ini mengakui bila Pilkada DKI menguatkan 
posisi Prabowo sebagai Calon Presiden (Capres). Jika Prabowo diuntungkan, 
justru Megawati Soekarnoputri yang digadang-gadang akan kembali menjadi Capres 
PDI Perjuangan pada Pemilihan Presiden 2014 malah bernasib sebaliknya alias 
buntung.

"Tidak pernah terjadi dalam survei nasional maupun Pilkada di daerah lain, 
dukungan pada Prabowo jauh di atas Megawati ketika stimulasi dilakukan secara 
semi terbuka," ucapnya. Mega sendiri dari hasil exit poll ini berada di urutan 
kedua dengan angka 10,1 persen. Sebagaimana diketahui, pasangan berakronim 
Jokowi-Ahok diusung oleh PDI Perjuangan dan Partai Gerindra.

Meskipun belum ada penghitungan resmi dari KPU DKI Jakarta, namun dari seluruh 
hitung cepat lembaga survei, Jokowi-Ahok diposisikan sebagai pemenang Pilkada 
DKI putaran kedua. Sementara itu, politisi PDI Perjuangan menanggapi dingin, 
exit poll Saiful Mujani Research dan Consulting (SMRC) Pemilihan Umum Kepala 
Daerah (Pemilukada) DKI Jakarta putaran kedua. Meskipun hasilnya menguntungkan 
Calon Presiden Prabowo Subianto dan merugikan Megawati Soekarnoputri yang 
digadang akan kembali mencalonkan, tapi PDI Perjuangan tak mau pusing.

"Pemilu masih jauh. Ingat dong bagaimana waktu yang tujuh hari saja menjungkir 
balikkan ramalan-ramalan hasil poll menjelang putaran pertama pilkada DKI, 
apalagi jika time lag-nya masih dua tahun," kata Eva, menjawab JPNN, Minggu 
(23/9). Eva menegaskan, di politik perubahan itu bisa terjadi dalam hitungan 
detik.

"Lagipula, bagaimana mendefinisikan untung dan buntung? Terlalu tendensius, 
apalagi kalau poll dilakukan oleh konsultan politik Pak Prabowo misalnya," kata 
Eva. Karena, dia melanjutkan, siapapun tahu bahwa PDI Perjuangan mendapat 
keuntungan intangible yang luar biasa.

Menurutnya, bukan saja membuktikan bahwa jalan ideologi melalui strategi gotong 
royong terbukti terjawab setelah pikada DIY, dan DKI pada skala yang lebih 
besar, demikian juga keputusan partai untuk merekom (memberi tiket) Jokowi 
merupakan eksperimen politik PDIP untuk menjadi partai pelopor (vs mainstream 
politik) berhasil secara melegakan.

"Terlalu dini untuk mengukur pilpres, terlalu gegabah untuk mengkaitkan pilkada 
DKI sebagai barometer pilpres," ujar Eva yang juga Anggota Komisi III DPR itu.



Ingatkan Jokowi 

Usai memenangi pilkada DKI Jakarta versi hitung cepat, sosok Joko Widodo yang 
sederhana, ceplas ceplos dan blusukan pemukiman kumuh tersebut mulai 
digadang-gadang oleh sejumlah pihak untuk maju menjadi RI 1 dalam pemilihan 
presiden 2014. Namun sejumlah pengamat mengatakan ide tersebut terlalu 
buru-buru dan euforia semata pemilukada Jakarta.

Karena waktu dua tahun bagi Jokowi (panggilan akrab Joko Widodo-red) dianggap 
terlalu singkat untuk membuktikan kinerjanya kepada masyarakat. ”Kalau dua 
tahun langsung ikut Pilpres, itu sama saja bunuh diri. Kalau 2019 itu mungkin 
pas, asal kinerjanya sebagai Gubernur DKI terlihat,” ujar Hamdi Muluk, pakar 
psikologi dari Universitas Indonesia kemarin (23/9).

Jika nekad maju dalam pilpres 2014, publik akan menjudge Jokowi sebagai kutu 
loncat dan tidak bertanggung jawab terhadap amanah yang baru diembannya. Selain 
itu, alasan fundamental bukti kinerjanya dalam slogan Jakarta Baru yang 
diusungnya belum terlihat. Namun Jakarta paling tidak merupakan tempat terbaik 
untuk membuktikan kinerjanya, karena Jakarta merupakan barometer Indonesia.

”Kalau Jakarta oke, 2019 merupakan moment yang pas untuknya maju dalam Pilpres. 
Kalau 2014 saya rasa beliau (Jokowi) tidak akan majulah,” prediksi guru besar 
psikologi UI tersebut. Dari pengamatannya, fenomena pilkada DKI tidak bisa 
disandingkan dengan pemilihan berikutnya termasuk pemilihan presiden.

Pasalnya gegap gempita pemilihan sebelumnya tidak berkaitan dengan pemilihan 
sesudahnya, karena sifatnya terpisah. ”Jadi misalkan pilgub menang, belum tentu 
misalkan maju di Pilpres juga menang. Tidak ada itu hubungannya,” tandasnya. 
Karena itu, dirinya berharap dengan segala kearifan yang dimiliki oleh Jokowi 
dapat bersabar dan membenahi Kota Jakarta terlebih dahulu sebelum maju menjadi 
Presiden atau wapres.

Buktikan terlebih dahulu bisa menata Jakarta baru melangkah kedepan untuk maju 
menjadi RI 1. ”Apalagi dari segi umur, Jokowi masih muda dan energinya masih 
besar. Bersabar sedikit sajalah,” pungkasnya. Sementara itu, Ketua Badan 
Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) DPP Partai Golkar, Indra J Pialang 
menambahkan proyeksi kemenangan Jokowi –Ahok tidaklah dapat dihubungkan dengan 
pemilihan sesudahnya. Pasalnya pilkada Jakarta itu merupakan fenomena politik 
lokal, karena hanya satu provinsi.

”Pilkada DKI Jakarta itu seperti musik pok, cepat naik dan cepat pula 
tenggelam,” katanya kemarin (23/9). Dan kesalahan terbesar Partai Golkar, 
sambungnya, yakni mendukung Foke-Nara yang notabene adalah anggota Demokrat. Di 
mana dalam Pilpres kelak, kedua parpol tersebut merupakan musuh bebuyutan.

Kesalahan Foke menurutnya yakni memasukkan peran parpol, dan terlihat begitu 
ketakutan hingga memutuskan masuk menjadi anggota dewan pembina Partai 
Demokrat. ”Secara pribadi sejak awal saja mendukung Jokowi Ahok, karena untuk 
Alex Nordin bagaimana bisa menang orang minang dan Madura di Jakarta berapa sih 
prosentasenya,” beber dia.

Terpisah, beberapa waktu yang lalu di setiap kesempatan, Joko Widodo selalu 
menepis tudingan sejumlah pihak yang menyatakan dirinya akan mengikuti Pilpres 
2014. Walikota Surakarta tersebut lebih memilih konsentrasi untuk membenahi 
Kota Jakartaterlebih dahulu.

”Tidak usah muluk-muluk, permasalahan Jakarta itu sangat kompleks. Pilpres itu 
kan masih jauh. Ini saja belum beres,” ucapnya. (sar/awa/boy/jpnn)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke