http://www.antaranews.com/en/news/84709/indonesia-has-succeeded-in-reducing-deforestation-president

Indonesia has succeeded in reducing deforestation: president 
Tue, September 25 2012 16:52 | 19 Views

 
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (REUTERS/Daniel Hartley-Allen)

  35 percent of Indonesia`s tropical rain forests are currently protected by 
the government... 
Related News
  a.. Indonesian government and Boeing sign MoU 
  b.. Indonesia to propose anti-religion denigration protocol at UN 
  c.. Britain to guarantee safety of President Yudhoyono: Spokesman 
  d.. Indonesia to chair APEC in 2013 
  e.. President Yudhoyono to inaugurate National Sports Week in Riau 
  f.. 
New York (ANTARA News) - President Susilo Bambang Yudhoyono has stated that 
Indonesia has succeeded in reducing deforestation and the government is 
continuing its reforestation efforts by implementing a number of programmes 
involving the local community.

"The most depressing event relating to deforestation in our country is when we 
lost 3.5 million hectares of rain forests during the transition-to-democracy 
period in 2000," he said in New York on Monday night.

"From that point on, Indonesia launched a number of policies to regain its 
forest cover," he added.

President Yudhoyono admitted that it was not easy to implement such policies, 
which required cooperation of the local community as well as the international 
community.

"One of our decisions was to make a breakthrough by implementing the REDD plus 
program in cooperation with the Norwegian government," he said.

However, the decision was widely criticized across Indonesia. The head of the 
state had to assure his countrymen that the move was part of the government's 
efforts to preserve the environment and it would benefit Indonesia in the long 
term.

"We also issued a moratorium to protect our forests, as part of our reformation 
efforts," the President said.

"One of the positive outcomes of the policy is that 35 percent of Indonesia`s 
tropical rain forests are currently protected by the government," he explained.

"Besides, we also aggressively initiated our reforestation efforts. I led the 
campaign and have managed to plant one billion trees every year. So far, we 
have planted about three billion trees," President Yudhoyono stated.

He also called on the global community to cooperate with Indonesia in its 
efforts to achieve sustainable economic growth.
(A050) 
Editor: Ella Syafputri

++++

http://www.ambonekspres.com/index.php?option=read&cat=53&id=39259
MINGGU, 25 Agustus 2012 | 962 Hits

Uskup Ancam Internasionalisasi Kasus Yamdena



AMBON,AE.- Uskup Diosis Amboina Mgr P.C. Mandagi MSC mengancam akan menggunakan 
kekuatan internasional bila pada akhirnya pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara 
Barat (MTB), Pemprov Maluku dan Pemerintah Pusat tidak segera mencabut ijin 
pengelolaan hasil hutan kayu di desa Arma Kecamatan Nirunmas Ka

“Bila dalam kurun waktu beberapa bulan kedepan, Pemkab, Pemprov maupun Pempus 
belum juga memutuskan untuk mencabut Surat Keputusan IPHHK milik PT Karya Jaya 
Berdikari, saya akan membawa persoalan ini ke tingkat Internasional,” tegas 
Uskup kepada wartawan menyikapi aksi pembakaran yang dilakukan oleh masyarakat 
Desa Arma terhadap camp milik PT.KJB yang berbuntut penahanan terhadap 36 warga 
desa Arma oleh aparat kepolisian setempat.

Pemimpin Katolik di wilayah Maluku-Maluku Utara ini mengaku kesal atas tindakan 
kekerasan tersebut. Hanya saja tindakan kekerasan itu, hendaknya mengajak 
pemerintah pusat (Kementrian Kehutanan), Pemprov Maluku dan Pemkab MTB yang 
mengeluarkan SK IPHHK di pulau Yamdena untuk meninjau kembali SK tersebut. “ 
Mungkin saja SK atau izin IPHHK itu diterbitkan akibat tindakan penyuapan 
pemilik PT.KJB kepada beberapa oknum pejabat pemerintah (desa, kecamatan, 
kabupaten, provinsi hingga Pempus) yang bertuga mengeluarkan SK 
tersebut,”katanya menduga.

Menurutnya, IPHHK di Pulau Yamdena telah menyengsarakan masyarakat yang hidup 
di sekitar hutan tersebut. Hak ulayat masyarakat setempat telah dilanggar, 
malah diperkosa. Akibat adanya IPHHK itu, hutan di Pulau Yamdena semakin 
gundul, dan terjadi banjir di musim penghujan. 

Akibat banjir tanah menjadi longsor dan masyarakat menjadi korban. “Sungguh 
IPHHK di Pulau Yamdena tidak berperikemanusiaan. Dan pantas dicabut,” tegasnya.

Kehadiran PT. KJB lanjut Uskup, sangatlah tidak menguntungkan masyarakat, yang 
ada di Pulau Yamdena, tetapi hanya menguntungkan pemilik perusahaan dan 
beberapa oknum pejabat di pusat (Jakarta), Provinsi Maluku dan kabupaten. 

Belum lama ini, akibat kerusakan lingkungan, banjir dan tanah longsor 
memporak-porandakan masyarakat di Kota Ambon, Maluku Tengah, Seram Bagian 
Barat, Buru, Bursel dan telah menelan korban jiwa. Olehnya itu tindakan 
masyarakat Desa Arma kabupaten MTB sebagai sebuah peringatan akan adanya bahaya 
banjir dan tanah longsor. 

“Saya minta agar Pemkab MTB, Pemprov Maluku dan Pempus bisa mendengar jeritan 
dan suara rakyat terutama rakyat kecil di Pulau Yamdena dengan mencabut izin 
IPHHK milik PT Karya Jaya Berdikari,” pintanya. 

Terkait dengan penahanan terhadap 36 warga Arma, Uskup menghimbau kepada aparat 
kepolisian setempat untuk memberlakukan mereka seadil-adilnya. Jangan 
sekali-kali ada oknum aparat kepolisian yang melakukan tindakan kekerasan 
kepada mereka. “Kalau ada, oknum tersebut harus ditangkap, dihukum diadili, 
serta Kapolres dan Kapolsek harus bertanggungjawab,” pungkasnya.

Tokoh Pemuda Desa Arma, Jermia Siletty mengakui sekira 95 persen warga menolak 
keberadaan aktivitas HPH di Petuanan Desa Arma. Apalagi salah satu faktor 
kemarahan warga yaitu adanya penyimpangan dari rencana kerja tahunan (RKT) 
tahun 2012 milik perusahaan PT.KJB. 

"Dalam RKT tahun 2012 itu perusahaan beroperasi di petuanan Desa Watmuri, jadi 
tidak benarkan jika sudah memasuki petuanan Desa Arma," ungkap Siletty saat 
menghubungi via ponselnya, kemarin.

Menurut dia, tidak benar jika pembakaran kamp perusahaan oleh warga Arma karena 
diprovokasi pihak tertentu. Pembakaran kamp perusahaan itu secara spontan 
ketika warga meluapkan emosi. apalagi karena perusahaan sudah beroperasi dan 
menebang pohon di petuanan warga Arma. "Siapa yang tidak marah ketika lahan 
miliknya diobrak-abrik, pohon ditebang tanpa ada kesepakatan dari warga," 
tuturnya seraya meminta Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu dan Kapolda 
Maluku, Brigjen Muktiono menyikapi kasus ini. (CR2/M4/M6)

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke