http://www.thejakartaglobe.com/home/governor-violence-in-maluku-not-sectarian/548817 Governor: Violence in Maluku Not Sectarian October 08, 2012
Ambon, Maluku. Maluku Governor Karel Albert Ralahallu has bemoaned the frequent outbreaks of violence in the province, but insists that none of the incidents are linked to the sectarian tension that wracked the islands a decade earlier. Karel, speaking in response to a clash in Ambon early on Saturday morning, said it was regrettable that incidents like this occurred so frequently. “Before we can resolve one issue, another one pops up,” he said on Saturday. The clash earlier in the day saw residents from two different areas of Ambon attack each other with rocks, sticks, iron bars and machetes. They also set fire to several shop-houses in the Ongkoliong area of Ambon. No casualties were reported. The same rival groups had clashed on Thursday, resulting in four people having to be hospitalized with knife wounds. The cause of the clashes are unclear. Karel said similar clashes were also common in Central Maluku district, but he was quick to rule out sectarian tension as the underlying cause. Animosity between Muslim and Christian communities in the Maluku archipelago sparked deadly conflicts between 1999 and 2002 that left an estimated 5,000 people dead and forced the displacement of another 700,000. The period of violence also saw at least three mass riots break out in Ambon, the provincial capital. The influx of militants from groups like the hard-line Laskar Jihad also led to brutal acts of violence such as the forced circumcisions and genital mutilation of nearly 4,000 Christian men and women. Karel said the religious tensions had eased over the years, but added that there still needed to be greater coordination between communities, security forces and local authorities to maintain social harmony in the province. He said that security forces in particular needed to act swiftly against all acts of violence and unrest, in order to show that there was no tolerance for such incidents. He also called on religious organizations to be more prominent in encouraging interfaith tolerance. In addition to the intercommunity fights, the province has also been the focus of recent suspected terrorist activities. Police are investigating a bomb attack at the Pasar Mardika bus terminal in Ambon in the early hours of Oct. 1. No one was injured in the incident, in which an improvised pipe bomb was detonated outside a store at the terminal. The incident came just a few weeks after the arrest of a high-level terrorism suspect in Southeast Maluku district. The suspect, an alleged member of a terrorist cell based in Ambon, was believed to have had prior training with Lashkar-e-Taiba, the Pakistani militant group responsible for the 2008 Mumbai attacks. SP & JG ++++ http://www.ambonekspres.com/index.php?option=read&cat=53&id=39765 SENIN, 08 Oktober 2012 | 2041 Hits Polisi Kecolongan Lagi Provokasi Besar Kacaukan Masohi Masohi, AE,- Provokasi besar untuk kacaukan kondisi keamanan di Masohi, Ibukota Kabupaten Maluku Tengah benar-benar dilakukan sekelompok orang. Empat orang dibacok di tempat berbeda, tapi di waktu yang nyaris bersamaan. Polisi tak berkutik menghadapi aksi ini, padahal sebelumnya telah beredar selebaran provokasi dan penyerangan terhadap rumah Ketua KPUD Maluku Tengah. Empat orang masing-masing, Rian Tantoli (20), Korneles Serusi (29), Jeki Welyrubun (19), Randi Ramode (20) dibacok orang tak dikenalSabtu (6/10) sekira pukul 00.30 Wit. Keempat korban, sempat dirawat di RSUD Masohi. Informasi yang berhasil dihimpun koran ini, korban bacokan atas nama Brilian Tantoli (20) dibacok pada pukul 00.30 WIT. Korban merupakan pegawai pada kantor Statistik. Dia dibacok di kawasan perumahan dokter samping pendopo Bupati. korban mengalami luka bacok pada tangan sebelah kiri dengan 18 jahitan. Saat itu, korban sedang berjalan pulang ke rumah usai jaga malam di kantor statistik. Tiba-tiba dari arah belakang korban langsung dibacok dua orang yang berboncengan dengan sepeda motor. Sedangkan Korneles Seruserai (28) warga batas kota yang berprofesi sebagai dosen STIKIP dibacok pada pukul 00.40 di kawasan belakang kantor Den POM XVI/2 Masohi Kelurahan Namaelo. Korban mengalami luka bacokan pada tangan sebelah kanan (23 Jahitan). Saat itu korban sedang mengendarai sepeda motor. Tiba-tiba dari arah belakang, 2 orang dengan menggunakan sepeda motor langsung membacok korban. Jeki Welirubun (19) warga Waipia yang berstatus Mahsiswa di STIA dibacok di kawasan Belakang RSUD Masohi. Saat itu korban sedang berboncengan dengan Saudara Randi Ramode yang hendak ke Pelabuhan Amahai. Korban dibacok dari arah belakang oleh dua orang yang berboncengan dengan sepeda motor. Korban terluka pada bagian tangan kanan (7 jahitan). Randi Ramode (20) Warga Waipia yang masih berstatus mahasiswa STISIP juga kena bacokan. Saat itu korban sudah berboncengan dengan korban lain, Jeki Walaerubun. Akibat bacokan ini, korban mengalami luka bacok dibagian punggung. Menurut keterangan, mereka dibacok oleh dua orang yang mengendarai sepeda motor . Kasat Reskrim polres Malteng, AKP Hendrik Eka Bahalwan ketika dikonfirmasi koran ini membenarkan adanya peristiwa penganiayaan dengan menggunakan parang di kawasan Kecamatan Kota Masohi pada Sabtu malam itu. Sejak kejadian pihaknya telah melakukan penyisiran untuk mengungkap pelaku pembacokan. Hanya saja, karena kondisi jalan yang gelap ditambah dengan tidak adanya penerangan, penyisiran tidak membuahkan hasil. Meski demikian, polisi akan mengerahkan pasukan untuk mengungkap pelaku dibalik aksi pembacokan tersebut. “Berdasarkan keterangan korban, pelaku melakukan aksinya berboncengan dengan menggunakan sepeda motor. Dan, pada umumnya korban di bacok dari arah belakang. Akibatnya, korban tidak mengetahui ciri-ciri pelaku,” katanya. Ditanya apakah ada indikasi pelaku pembacokan lebih dari satu orang? Bahalwan mengungkapkan bahwa hingga saat ini pihaknya belum berhasil mengidentifikasi pelaku mengingat kondisi TKP yang gelap. Korban tidak dapat mengenali pelaku. “Pastinya, pelaku lebih dari satu orang. Tapi kita belum bisa mengidentifikasi pelaku,” tandasnya. Terhadap kejadian ini dia mengimbau pemerintah daerah untuk memperhatikan lampu penerangan jalan. Ini mengingat banyaknya kawasan jalan yang tidak dilengkapi dengan lampu penerangan. Dia berharap masyarakat dapat mengoptimalkan kembali pengamanan swakarsa demi mencegah terjadi kondisi serupa. “Keamanan bukan tanggung jawab kepolisian sendiri. Faktor penerangan harus diperhatikan pemerintah agar tidak terjadi hal serupa. Masyarakat harus mengaktifkan kembali pam swakarsa,” imbuhnya. (MYX) [Non-text portions of this message have been removed]
