From: Theophilus Bela
Sent: Tuesday, October 09, 2012 4:04 PM
To: Aristides Katoppo Kaliurang ; Zuly Qodir Kaliurang ; Paring Waluyo
Kaliurang ; Kobu ; Mathias Hariyadi ; Abraham Runga ; Aloy Rebong ; Domi Lewuk
; Elga Sarapung Interfidei ; Ibu Dr.Musdah Mulia ICRP ; Stien Djalil Church
World Service
Cc: Indah ICRP ; Ulil Abshar-Abdalla ; M. Nashihin Hasan Tokoh Islam ; Warta
Kota ; Warta Kota ; Sant' Egidio Prisca Nuriati ; Hirim Nurliana NGO HRWG ;
Hirim Nurliana NGO HRWG ; Hirim Nurliana NGO HRWG ; Setara Institute
Sekertariat ; Yenny Zannuba Wahid Tokoh Islam ; Yenny Zannuba Wahid Tokoh Islam
; Yenny Zannuba Wahid Tokoh Islam ; Charles Whitely Embassy ; Julian Wilson
Embassy ; Wachid Ridwan Tokoh Islam ; Onno Koopmans Dutch Embassy
Subject: Riwayat Hidup Uskup Gunnar Stalsett dari Oslo, Norwegia, Ceramah Rabu,
10 Oktober
Uskup Gunnar Stalsett dari Oslo Nowegia
(Pada hari Rabu tanggal 10 Oktober 2012 Uskup Gunnar Stalsett akan berceramah
tentang "Hubungan antara Dialog Lintas Agama dan Kebebasan Beragama" didepan
forum tokoh-tokoh agama dan masyarakat luas dikantor CDCC, Jalan Kemiri nomor
24, Menteng, Jakarta Pusat . Berikut ini kami ingin perkenalkan tokoh lintas
agama internasional tersebut Ceramah mulai pukul 10.00 s/d pukul 12.00 siang
dengan moderator Prof. Din Syamsuddin, Chairman CDCC dan Ketua Umum PP
Muhammadiyah, info : pada Sdr. Affan, Hp 08128 401 2846 telp.3154 939 dalam
lampiran ada foto Uskup Gunnar Stalsett)
Uskup Gunnar Stalsett (kami singkat GS) dilahirkan pada tanggal 10 Februari
1935 di Nordkapp, daerah pedesaan yang miskin paling utara Norwegia . Dibawah
nanti kami akan membentangkan jalan karir tokoh besar ini dalam mengupayakan
perdamaian dunia melalui banyak jalan dan beliau juga seorang penggiat
pembangunan internasional dengan melibatkan organisasi-organisasi keagamaan
untuk mencapai keadilan sosial dan solidaritas antar umat manusia .
Ada tiga pengaruh dan nilai yang diperoleh GS saat masih kecil yang amat
berperan dalam membentuk jalan hidup tokoh ini yaitu :
(1) identitas GS sebagai seorang anggota masyarakat minoritas
(2) tumbuh dalam lingkungan pedesaan yang miskin
(3) etos kerja yang mencakup semangat setia kawan (solidaritas) yang nyata
GS dilahirkan di Nordkapp, sebuah desa miskin yang masih bisa dihuni manusia
dan terletak paling utara di Norwegia . Kakek dan neneknya adalah imigran dari
Finlandia, sebuah negara tetangga Norwegia . Waktu itu golongan minoritas masih
diperlakukan tidak adil dinegerinya . Ada tiga kelompok etnis yang menghuni
wilayah tempat lahir GS yaitu kelompok etnik Sami, yang merupakan penduduk asli
setempat dan etnik Norwegia serta kelompok imigran asal Finlandia . GS termasuk
kelompok etnik nomor tiga tersebut . Kebijaksanaan resmi pemerintah Norwegia
waktu itu (sekitar 77 tahun silam) ialah menjalankan asimilasi yang dipaksakan
. Anak-anak dari suku Sami yang tidak bisa berbahasa Norwegia waktu itu
dilarang keras berbicara dalam bahasa daerah mereka juga diluar jam sekolah .
Wilayah asal GS amat terpencil sehingga saat sekolah para murid diasramakan
selama tiga bulan . Keadaan ini dirasakn amat sepi dan terisolasi . Orang tua
GS amat bangga dengan warisan budaya negeri asalnya termasuk bahasa Finlandia,
akan tetapi dalam menghadapi tekanan politik terhadap kaum minoritas maka orang
tua GS tidak ingin membebani anak-anak mereka dengan masalah bahasa negeri asal
mereka . Pada saat makan pagi bersama dimeja makan orang tua GS berbicara
dalam bahasa Finlandia hanya kalau ingin merahasiakan apa yang mereka bicarakan
terhadap anak-anaknya . Selain itu mereka selalu berbicara dalam bahasa
Norwegia dengan anak-anak mereka . Pengalaman itu membuat GS amat peka terhadap
masalah-masalah kaum minoritas termasuk dapat mengerti apa artinya
termarginalisir dan ditindas, yang untuk orang lain belum tentu mudah untuk
mengertinya .
Hal lain yang dialami GS saat masih kanak-kanak ialah hidup dilingkungan yang
amat sederhana atau miskin, yaitu hidup dimasyarakat pedesaan yang serba
kekurangan .
Waktu itu didesa tempat tinggal GS belum ada listrik, belum ada pipa saluran
air minum, belum ada telefon serta belum ada Puskesmas . Kalau orang hendak
kerumah sakit terdekat maka orang harus menempuh perjalanan laut berjam-jam
lamanya dan juga tergantung pada keadaan cuaca baik atau buruk . Waktu itu
belum ada jalan aspal didaerah tempat tinggal GS . Ini semua sungguh telah
membuka mata dan hati GS . Ketika mengunjungi daerah-daerah miskin didunia
dewasa ini seperti di Timor Leste saat GS mendengarkan keluhan orang tentang
kemiskinan, minimnya pelayanan kesehatan GS selalu dengan sungguh-sungguh
mejawab bahwa "saya mengerti semua itu karena saya dulu juga pernah
mengalaminya sendiri" . Dengan kata lain pengalaman masa kecilnya telah
memotivasi GS untuk berbuat sesuatu untuk menolong orang-orang miskin dan
terkebelakang didunia ini .
Hal ketiga yang mempengaruhi kepribadian GS ialah etos kerja . GS sendiri
berasal dari sebuah keluarga besar dengan 8 anak laki-laki dan perempuan .
Dalam keluarga GS setiap anak sejak berusia 12 atau 13 tahun harus mulai
berkeja produktip untuk memperoleh penghasilan guna menyokong kebutuhan ekonomi
keluarga . Sejak berusia 15 tahun GS sudah mulai bekerja untuk membantu
keuangan keluarga . Tiap anak dalam keluarga harus memberi penghasilan bagi
keluarga entah dengan bekerja diladang orang atau menangkap ikan dan sebagainya
. Seorang adik GS yang laki-laki setiap tahun memelihara seekor babi untuk
dijual dipasar . Anak-anak dibiasakan utnuk mengapresiasi bukan hanya pekerjaan
tetapi bahwa orang bisa menyumbangkan sesuatu bagi anggaran keluarga juga pada
saat seorang anak masih dibawah umur .Ini adalah sebuah keutamaan etis untuk
saling berbagi, solidaritas yang telah digembleng baik oleh desakan hidup tapi
juga oleh tradisi iman Kristiani yang dianut GS dengan moto "ora et labora"
(berdoalah dan bekerjalah !) .
Dalam hal agama kedua orang tua GS terpengaruh oleh gerakan pembaharuan dalam
kehidupan Kristen negeri asal mereka yaitu Finlandia . Walau orang tua GS
berbeda dalam hal menjalankan agama dengan generasi sebelumnya namun mereka
tetap memegang teguh nilai-nilai inti agama seperti cintailah sesamamu,
solidaritas, membantu orang lain, kesepuluh perintah Allah dan terutama
Perintah Terbesar yaitu cintailah sesama manusia seperti dirimu sendiri .
Itulah nilai-nilai yang dibawa dari keluarga asal GS yang tertindas dan
termarginalisir dan semua ini telah mebawa tokoh ini untuk terlibat dalam
upaya-upaya nyata guna membantu orang-orang yang tertindas atau dipinggirkan .
Hal ini semua telah berpengaruh dalam diri GS dilingkungan pekerjaan, dalam
dunia politik, dalam memperjuangkan hak-hak kaum wanita serta bagaimana
memperlakukan warga imigran dinegerinya .
Hal ini juga yang membuat GS saat menjadi Uskup Oslo menjalin hubungan akrab
dengan kelompok warga imigran asal Pakistan yang beragama Islam karena beliau
menghormati warisan budaya mereka dan peran mereka sebagai sebuah kelompok
minoritas agama dinegerinya .
Panggilan hidup menjadi Pendeta Kristen
Saat berusia 17 tahun GS mulai tertarik untuk menjadi pendeta namun mula-mula
beliau ragu-ragu apakah menjadi pendeta atau menjadi seorang dokter untuk
menyembuhkan orang sakit . GS sangat mengagumi seorang dokter yang bernama
Albert Schweitzer saat melihat tokoh ini menerima Hadiah Nobel Perdamaian di
Oslo tahun 1953 . Apakah GS kelak menjadi seorang pendeta atau dokter merupakan
sebuah pergumulan yang selalu menimpahnya bertahun-tahun lamanya .
GS pernah mendapat kesempatan untuk kuliah disekolah tinggi calon pendeta di
Amerika Serikat selama dua tahun dan saat itu diwaktu akhir pekan GS bekerja
disebuah rumah sakit . Disana juga timbul lagi kebingungan dalam diri GS apakah
dia akan menjadi pendeta atau dokter ? Akhirnya dia memutuskan untuk tetap
menjadi pendeta supaya bisa cepat pulang kenegeri asalnya Norwegia .
Saat GS tamat kuliah di Norwegia ada banyak masalah sosial yang menimpah
negerinya termasuk marginalisasi kelompok minoritas dan keadilan sosial .
Masalah-masalah sosial itu telah menggerakkan hati GS dan beliaupun terjun
kedunia politik . GS pernah menjadi anggota DPR Kotapraja Oslo selama 8 tahun
dan beliau merupakan anggota DPR pertama yang mendesak agar kepada warga Muslim
diberikan lokasi untuk membangun sebuah mesjid di Oslo yang waktu itu masih
merupakan sebuah isu yang hangat dipermasalahkan . GS mendapat kritik yang
pedas dari pihak-pihak yang menentang pendirian mesjid tersebut .
Dalam karir politiknya GS pernah juga menjadi Menteri Muda di kabinet nasional
dan pernah juga menjadi anggota DPR dan pemimpin sebuah partai politik .
Saat melibatkan diri didunia politik GS mengambil cuti tetap dari jabatan
kegerejaannya sebagai Sekjen Komisi Ekumenis Gereja Kristen Norwegia yang telah
ikut dibentuknya tahun 1970 . Tahun 1979 GS menghadapi sebuah pilihan lagi
apakah tetap didunia politik atau berbakti didalam gereja . Akhirnya GS
memilih berbakti didalam gereja sebagai Sekjen Dewan Gereja-Gereja Sedunia di
Jenewa, Swiss selama 10 tahun yang membawanya berkecimpung dalam
masalah-masalah internasional pula . Setelah sebentar menjadi rektor Sekolah
Tinggi Teologi di Oslo maka pada tahun 1998 GS menjadi Uskup Gereja Kristen di
Oslo . Selain mejabat sebagai Uskup Oslo beliau dilibatkan Pemerintah Norwegia
sebagai penasihat untuk masalah yang menyangkut HAM, perdamaian dan perlucutan
senjata . Pernah juga GS menjadi anggota delegasi resmi pemerintah negerinya
untuk menghadiri Sidang Umum PBB yang membahas masalah perlucutan senjata dan
mengenai Konvensi Anak-Anak . Juga GS menjadi penasihat khusus pemerintah
Norwegia dalam kampanye pemberantasan HIV dan AIDS .
Pada saat yang sama beliau juga mengabdikan diri sebagai anggota Komite Hadiah
Nobel Perdamaian selama 14 tahun lamanya .
Karena GS menyaksikan makin meningkatnya peran gereja dan lembaga-lembaga civil
society dalam masalah internasional maka beliau juga melibatkan diri dalam
kegiatan dialog dan kerjasama antar agama secara internasional lebih-lebih
sejak beliau pensiun dari jabatan Uskup Oslo tahun 2004 .
GS menjalankan kegiatan dialog tidak secara tradisionil yaitu dengan
mengagung-agungkan agama masing-masing tetapi yang beliau lakukan ialah
bagaimana membawa nilai-nilai luhur masing-masing agama untuk memperbaiki
kualitas hidup manusia perorangan maupun masyarakat serta dunia secara
keseluruhan . Kerja sama antar agama ini menyangkut hal-hal penting dewasa ini
seperti lingkungan hidup, kesehatan, kemiskinan serta status, peran dan
keluhuran kaum wanita dan anak-anak dalam masyarakat .
Sejak Kongres Dunia di Amman, Yordania tahun 1994 GS terpilih menjadi salah
satu Presiden dari World Conference on Religion and Peace (WCRP) dan sejak itu
beliau selalu terlibat secara aktiv dalam kegiatan-kegiatan dialog agama secara
internasional . GS telah memprakarsai berdirinya European Council of Religious
Leaders dan mejabat sebagai Ketua Umum-nya sejak saat berdirinya organisasi
bergengsi tersebut .
Tahun 2006 saat terjadi krisis politik di Timor Leste GS telah diminta untuk
menjadi Utusan Khusus Pemerintah Norwegia guna memfasilitasi sebuah dialog dan
rekonsiliasi dinegeri muda tersebut . Dalam kunjungan ke Jakarta kali ini GS
baru saja mengadakan sebuah lawatan ke Timor Leste .
GS juga duduk sebagai Ketua Komite Perdamaian Niwano yang berkantor di Tokyo,
Jepang dan kegiatan ini membuat beliau lebih terlibat secara internasional
serta beragam budaya pula . GS aktiv dalam pembentukan Intereligious Council di
Albania serta beliau juga ikut meprakarsai upaya-upaya perdamaian di Sri Langka
serta beliau juga mendorong dialog antara para pemimpin Muslim Kosovo dan
Kelompok Kristen Ortodox Serbia .
Demikianlah sekilas kisah tentang perjalanan pengabdian tokoh besar perdamaian
dunia Uskup Emeritus Gunnar Satlsett dari Oslo, Norwegia .
Jakarta, 9 Oktober 2012
Theophilus Bela
Sekertaris Jenderal Indonesia Committee on Religions for Peace (IComRP)
Ketua Umum Forum Komunikasi Kristiani Jakarta (FKKJ)
email : [email protected]
Facebook Theophilus Bela
[Non-text portions of this message have been removed]