http://www.suarapembaruan.com/home/kirim-tki-formal-ke-luar-negeri-indonesia-harus-belajar-dengan-filipina/25672
Kirim TKI Formal ke Luar Negeri Indonesia Harus Belajar dengan Filipina Rabu, 10 Oktober 2012 | 14:43 Kepala BNP2TKI, Jumhur Hidayat “Saya iri dengan Filipina yang menguasai sector tenaga kerja formal di negara-negara Timur Tengah (Timteng). Saya minta pihak Muhammadiyah merebut kesempatan tenaga kerja formal di Timteng ini,” kata Mohammad Jumhur Hidayat. Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) itu mengatakan hal ini dalam sambutannya dalam acara “Pelapasan 62 TKI formal ke Brunei Darussalam, di kantor Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Jakarta, Rabu (10/10). Pelepasan TKI formal sektor konstruksi merupakan bagian dari 400 TKI yang diminta oleh para pengguna di Brunei. Turut hadir dalam acara itu adalah Ketua PP Muhammadiyah, Prof Dr Bambang Sudibyo. Jumhur mengatakan, hampir 70 persen tenaga kerja formal seperti perawat di rumah sakit, petugas ruang tunggu kedatangan dan keberangkatan di bandara, di tempat-tempat perbelanjaan di negara-negara Timteng dikuasi warga negara Filipina. “Filipina luar biasa. Negara-negara Arab yang Islam saja menerima mereka (warga negara Filipina) sebagai pekerja. Pasalnya, mereka bisa berbahasa Inggris dan trampil,” kata dia. Jumhur tidaklah berlebihan. Pengalaman SP ketika mendatangi negara Uni Emirat Arab akhir tahun 2011, di bandara-bandara seperti Bandara Dubai, dan Abu Dabi, seperti di ruangan tunggu keberangkatan dan kedatangan petugas-petugasnya berkebangsaan Filipina. Demikian juga di tempat-tempat perbelanjaan seperti mal dan toko elektronik di Dubai juga tenaga kerjanya lebih banyak berkebangsaan Filipina. Bahkan di negara Afrika seperti Sudan juga “dikuasai” tenaga kerja berasal dari Filipina. “Kalau Anda datang ke rumah sakit-rumah sakit di sini, Anda akan dilayani perawat asal Filipina. Kita harus belajar dari Filipina,” kata Duber Besar Indonesia untuk Sudan kepada SP di Sudan, akhir tahun 2011 lalu. Menurut Jumhur, banyak sekali anak muda Indonesia terutama perempuan lulusan Sekolah Tinggi Keperawatan (STIKES) atau Akademi Sekretaris. “Yang perlu ditambah adalah pendidikan bahasa Inggrisnya. Nah, ini saya minta kepada semua masyarakat Indonesia, terutama warga Muhammadiyah agar memikirkan hal ini,” kata dia. Sedangkan Bambang Sudibyo pada kesempatan itu mengatakan, ke depan Muhammadiyah akan memikirkan dan melaksanakan hal tersebut. “Kita akan meminta semua warga Muhammadiyah agar menjadi tenaga kerja formal yang trampil dan handal di luar negeri,” kata dia. Namun, Bambang mengaku tidak mempunyai data mengenai berapa warga Muhammadiyah yang menjadi tenaga kerja informal di luar negeri. Lebih jauh Jumhur mengatakan, sebagai lembaga pendidikan yang sudah berpengalaman puluhan tahun dan memiliki jaringan yang luas Muhammadiyah bisa menjadi mitra terbaik BNP2TKI dalam penyediaan TKI berkualitas. Ia mengungkapkan, penempatan TKI formal ini dilakukan melalui Kelompok Kerja (Pokja) Pemberdayaan TKI Muhammadiyah bekerjasama dengan Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan (MEK) Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah. Sebelumnya, pada 2011 sudah ditempatkan 225 TKI konstruksi ini ke Brunei. Karena itu, sebelum diberangkatkan para TKI ini dibekali dengan materi kewirausahaan, karakter dan akhlak. Ia menyebutkan, para TKI yang direkrut dari kantong-kantong binaan Muhammadiyah mayoritas berasal dari daerah Magetan, Jawa Timur, Cilacap dan Sukabumi. Dalam penempatan TKI sektor konstruksi ke Brunei Darussalam ini, Muhammadiyah telah mendapat fasilitas pembiayaan dari Kredit Usaha Rakyat (KUR) Bank Rakyat Indonesia (BRI). Menurut Jumhur, BNP2TKI sudah mencanangkan 2012 sebagai tahun penempatan TKI formal. Prioritas penempatan ini diupayakan bekerjasama dengan sejumlah center of exellence (dunia perguruan tinggi) termasuk Muhammadiyah. Penempatan TKI formal ke luar negeri didorong sejalan dengan upaya BNP2TKI untuk menekan laju penempatan TKI informal Penata Laksana Rumah Tangga (PLRT). ”Moratorium penempatan TKI ke Arab Saudi, Yordania, Kuwait dan Suriah telah menguatkan komitmen pemerintah untuk fokus pada penempatan TKI berkualitas,” paparnya. Di luar sektor konstruksi, kata Jumhur ada banyak permintaan TKI kesehatan, oil dan gas, retail bisnis dan lainnya. Jumhur mengambahkan, ke depan, Muhammadiyah diharapkan bisa menjadi institusi yang melakukan peningkatan skill TKI (upskill) dan peningkatan status. (upgrading) ketersediaan TKI formal. [SP/Siprianus Edi Hardum] Berita Terkait a.. Pemerintah Melepas berangkatkan 101 TKI Perawat ke Jepang b.. Afsel Sangat Butuh TKI Formal Bidang Teknologi c.. Sudan Sambut Baik Tawaran Indonesia d.. Indonesia Jajaki Penempatan TKI Formal di Sudan e.. Timteng Butuh Banyak TKI Formal [Non-text portions of this message have been removed]
