http://arrahmah.com/read/2012/10/16/24003-nusron-wahid-pemberontakan-pki-1965-seakan-akan-pki-dizholimi-itu-tidak-betul.html

Nusron Wahid: Pemberontakan PKI 1965, seakan-akan PKI dizholimi itu tidak betul
Bilal

Selasa, 16 Oktober 2012 17:11:49

 
JAKARTA (Arrahmah.com) - Gerakan Pemuda (GP) Ansor yang terdiri dari para 
pemuda Nahdlatul Ulama (NU) meminta agar para anggota bisa lebih arif dalam 
melihat peristiwa pemberontakan PKI tahun 65 silam. Menurut ketua umum GP Ansor 
Nusron Wahid, peristiwa tersebut haruslah dilihat dengan sudut pandang yang 
sesuai dengan zamannya masing-masing.

"Kita harus arif melihat sejarah peristiwa 65 itu dengan sudut pandang 65, 
jangan sudut pandang hari ini tidak akan ketemu," kata Nusron

Hal tersebut disampaikan Nusron dalam acara "Tabayyun Kebangsaan Pemberontakan 
PKI 1948-1965 di Mata NU/GP Ansor," di Sekretariat Ansor, Jalan Kramat Raya, 
Jakarta, Senin, (15/10) malam seperti dilansir detikcom.

Nusron mengatakan, konflik yang terjadi antara NU dan PKI pada masa silam itu 
merupakan konflik horizontal. Seakan-akan ada persepsi peristiwa pembantaian, 
dimana yang satu terbantai dan pihak yang satu lagi dibantai.

"Seakan-akan PKI adalah kaum yang dizolimi dan warga NU kaum santri adalah 
orang yg menzolimi. Itu semua tidak betul. Oleh karena itu kita adakan acara 
ini sebagai upaya edukasi publik. Anak muda menjadi tahu tentang duduk perkara 
yg sesungguhnya," ucap Nusron.

Menurut Nusron warga NU adalah orang memiliki toleransi yang tinggi, hanya saja 
dia menyayangkan peran media massa yang terkesan malah menyudutkan NU seolah NU 
adalah kelompok yang tidak bisa bertoleransi.

"Kita menginginkan sejarah harus ditulis secara utuh. Kita hanya ingin 
menyampaikan fakta bahwa ada prolog dan epilog sebelum kejadian. Warga NU itu 
habitusnya (orang) yang ramah dan toleran," ucap Nusron.

Nusron mengungkapkan bahwa, saat ini sudah banyak dari keluarga korban PKI dan 
generasi keturunan mereka yang sudah membaur dengan NU. Nusron mengharapkan 
agar pemberitaan sejarah massa lalu yang ada disampaikan secara menyeluruh, 
jangan setengah-setengah karena bisa mengungkit kembali luka lama.

"Keluarga korban PKI sudah banyak yang membaur dengan kita, bahkan sebagian 
sudah ada yg menjadi anggota ansor. Ngaji di masjid masuk pesantren, hidup 
bersama. Tapi kemudian luka itu muncul lagi karena terungkit dengan adanya 
buku-buku, film yang ditampilkan secara parsial tidak holistik, hanya 
sepotong-sepotong," ujar Nusron.

Dalam acara tersebut hadir juga bebrapa tokoh seperti Taufik Abdullah 
(sejarahwan), KH. Asad Ali Said (wakil ketua umum PB NU), dan KH Hasyim Muzadi 
(mantan ketua umum PB NU). (bilal/arrahmah.com)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke