Pemborosan !!! Dana Pilgub Jatim Rp 1 Triliun, APBD Tidak Cukup, Proyek 
Pembangunan di Jatim Bisa Terhenti 

Pengajuan dana yang dibuat penyelenggara pemilihan gubernur (Pilgub) 
Jawa Timur hingga Rp 1 triliun membuat geleng-geleng Badan Anggaran 
(Banggar) DPRD Jatim. Usulan dana sebesar itu dinilai boros dan tidak 
wajar. Apalagi, kekuatan APBD Jatim tahun 2013 juga tidak cukup untuk 
membiayai pilgu
b sebesar itu.

Faf Adisiswo, wakil ketua Banggar DPRD Jatim mengatakan, selama ini dana
 yang sudah disiapkan untuk Pilgub Jatim berjumlah Rp 600 miliar. Namun,
 jika ternyata para penyelenggara pilgub seperti KPU (Komisi Pemilihan 
Umum), Bawaslu (Badan Pengawas Pemilu) dan pihak keamanan meminta 
anggaran yang cukup tinggi, tentu hal ini perlu pembahasan ulang.

“Biaya keseluruhan pilgub kan awalnya Rp600 miliar, tapi KPU ternyata 
minta anggaran sendiri Rp 646 miliar, itu belum Bawaslu yang minta Rp 
206 miliar. Belum lagi pihak keamanan,” ujar Faf, Rabu (17/10).

Anggaran sebesar Rp 1 triliun itu hingga saat ini juga belum diajukan 
kepada DPRD Jatim. Padahal, saat ini di DPRD Jatim sedang dilakukan 
pembahasan RAPBD 2013. “Di KUA-PPAS (Kebijakan Umum Anggaran dan Plafon 
Penggunaan Anggaran Sementara, red) yang diajukan eksekutif sebagai 
bahan pembahasan RAPBD, tidak ada pengajuan dana pilgub sampai Rp 1 
triliun,” ungkap Faf.

Jika dalam waktu dekat ini akan diajukan,
 maka Banggar akan mempelajari. Apakah anggaran tersebut untuk satu kali
 putaran atau dua putaran. Kalau dana Rp 1 triliun hanya untuk satu 
putaran, jelas tidak wajar. “Kalau cuma satu putaran, ya seharusnya 
tidak sebesar itu. Nanti kalau cuma satu putaran jelas itu pemborosan 
dan cuma akan dihabis-habiskan. Kita tidak akan setujui yang sifatnya 
pemborosan,” papar dia.

Sebagai perbandingan, Pilgub Jatim 2008
 yang digelar hingga dua putaran plus penghitungan ulang di Madura, 
tidak sampai Rp 1 triliun. Jumlah DPT (daftar pemilih tetap) saat itu 
sekitar 28 juta. Pada putaran pertama pada 23 Juli 2008, dana yang 
dialokasikan Rp 550 miliar. Untuk putaran kedua pada 4 November 2008, 
dana terserap Rp 265 miliar. Sedang putaran tambahan, yakni penghitungan
 ulang di Pamekasan serta pemungutan ulang di Bangkalan dan Sampang, 
memerlukan tambahan anggaran Rp 18,6 miliar. Penghitungan ulang 
dilaksanakan 28 Desember 2008 dan pemungutan ulang 21 Januari 2009. 
Jadi, pada Pilgub Jatim 2008 menghabiskan sekitar Rp 833,6 miliar.

Panggil KPU dan Bawaslu

Pihak DPRD Jatim juga akan mengupayakan untuk minta penjelasan dari KPU
 dan Bawaslu. Sebab diperkirakan akan banyak kebutuhan anggaran yang 
kurang sesuai. Khususnya anggaran di Bawaslu yang mencapai Rp 206 
miliar, padahal pada pilgub 2008 tidak kurang dari Rp 5 miliar. “Katanya
 untuk perekrutan pengawas hingga ke desa-desa, jadi butuh dana besar. 
Kita tentu tidak langsung percaya begitu saja,” sergah Faf yang juga 
sekretaris DPD Partai Gerindra Jatim ini.

Menurut Faf, anggaran
 APBD Jatim ini tidak menyediakan call money atau dana on call yang bisa
 digunakan sewaktu-waktu berapapun kebutuhannya. Maka, jika dana pilgub 
harus Rp 1 triliun, praktis akan dialokasikan pada tahun 2013. Padahal 
kekuatan APBD Jatim 2013 mendatang tidak banyak. Dibanding anggaran 
murni tahun 2012, APBD Jatim terlihat stagnan, karena berkutat di angka 
Rp 12,7 triliun.

“Ya paling menghentikan beberapa program 
pembangunan. Kekuatan APBD sendiri untuk angka segitu jelas tidak 
ngatasi. Kalau itu terpaksa harus dilakukan, pasti akan memangkas biaya 
rutin dan biaya pembangunan,” terang dia.

Lebih lanjut Faf 
menjelaskan, DPRD akan mengajak mencari jalan keluarnya bersama-sama. 
Dengan cara betul-betul menghitung secara tepat, mana yang paling perlu 
dan mana yang bisa dihapus. “Kami tidak ingin pilgub ini dianggap 
sebagai pesta dan belanja-belanja yang kurang penting. Harus ada 
efisiensi atau penghematan,” pungkasnya.

Harus Efisien

Usulan dana Pilgub Jatim hampir Rp 1 triliun itu juga membuat kaget 
pengamat politik Universitas Airlangga (Unair), Mohammad Asfar. 
Menurutnya, dana Pilgub Jatim sebesar Rp 1 triliun untuk sekali putaran 
itu sebagai pemborosan uang negara dan tidak efisien. “Kalau seperti 
yang lalu sekitar 600 miliar itu masih cocok,” cetus Asfar yang juga 
direktur Pusdeham (Pusat Studi Demokrasi dan HAM) ini.

Ia juga 
heran dengan pengajuan dana sebesar itu. Padahal, KPU Jatim masih 
memiliki aset seperti kotak suara yang digunakan dalam Pilgub Jatim 2008
 maupun Pilkada-Pilkada di daerah. Menurut Asfar, peralatan lama seperti
 itu harusnya masih bisa digunakan. ”Harusnya bisa, karena salah satu 
efisiensi yang memang memanfaatkan barang-barang atau alat yang masih 
bisa dipakai,” ujarnya.

Contoh efisiensi lainnya dengan 
mengupayakan pemilihan secara serentak, karena dengan penyelenggaraan 
serentak dana yang dikeluarkan untuk penyelenggara cukup sekali saja. 
Bahkan barang-barang dan panitianya cukup kerja sekali untuk beberapa 
kali pemilihan. “Selama ini dana terbesar kan terletak di penyelengara,”
 jelas Asfar.

Ia tidak setuju jika pemilihan gubernur Jatim 
nanti digelar di DPRD, seperti pada masa pemilihan gubernur Imam Utomo 
maupun Basofi Sudirman. Menurut Asfar, jika ada yang mengusulkan seperti
 itu merupakan logika yang salah. Sebab, di mana-mana demokrasi itu 
memang membutuhkan dana. “Bahkan kalau tidak ada pemilahan langsung oleh
 rakyat sebenarnya indikasi korupsi justru akan lebih besar dan rakyat 
justru akan kehilangan banyak dana. Apakah ada jaminan jika nantinya ada
 proyek yang tidak jelas? Karena ada pemilihan secara langsung inilah 
APBD bisa dimanfaatkan oleh rakyat,” pungkasnya 


Cari Gubernur Jatim, Didanai Rp 1 Triliun, Hamburkan Uang Rakyat

Pemrov  Jawa Timur benar-benar menyiapkan pelaksanaan pesta demokrasi 
pemilihan gubernur (Pilgub) Jatim 2013 dengan penuh kemewahan. Ini 
terbukti dari rencana alokasi anggaran yang disiapkan sebanyak Rp 1 
triliun atau Rp 1000 miliar. Itu pun hanya untuk satu putaran! Rencana 
ini mengundang kontroversi, sebab awalnya dianggarkan hanya Rp 600 
miliar untuk satu putaran. Jumlah itu juga meningkat drastis dibanding 
Pilgub Jatim 2008 sebesar Rp 833,6 miliar yang dilalui dengan tiga 
putaran. Atas kontoversi ini, DPRD Jatim bakal menolak rencana alokasi 
dana itu karena dianggap hanya menghambur-hamburkan uang rakyat. 
Padahal, jika Pilgub bisa dipilih di DPRD Jatim –bukan pemilihan 
langsung—anggaran yang dibutuhkan tak lebih dari Rp 1 miliar.

Perencanaan tersebut muncul saat rapat koordinasi Desk Pilkada di Kantor
 Gubernur dua hari lalu. Pengajuan Biro Administrasi Pemerintahan yang 
selama ini digunakan sebagai cantolan hibah anggaran Pilgub Jatim. Dana 
tersebut rencananya akan mengalir ke KPUD Jatim, Bawaslu Jatim, Kodam V 
Brawijaya dan Polda Jatim.

Rapat Desk Pilkada dihadiri Komisi 
Pemilihan Umum (KPU) Jatim, Badan Pengawas Pemilu (Banwaslu), Dinas 
Komunikasi dan Informastika (Diskominfo), Dinas Tenaga Kerja 
Transmigrasi dan Kependudukan (Disnakertransduk) Jatim, Kodam V 
Brawijaya TNI AD, Polri, Humas dan Protokol Pemprov, Biro Administrasi 
Pemerintahan, dan Satpol PP Jatim.

Kepala Biro Administrasi 
Pemerintahan Setdaprov Jatim, Suprayitno, membenarkan pengajuan dana 
hampir Rp 1 triliun itu. Jumlah anggaran sebesar itu berdasarkan 
pengajuan dari sejumlah pihak, yakni KPU, kepolisian, TNI, dan Banwaslu,
 terkait suksesnya penyelenggaraan Pilgub. Rinciannya, KPU menyampaikan 
anggaran sebesar Rp 646 miliar, pengamanan Polda Rp 78 miliar, Kodam V 
Brawijaya Rp 13 miliar, dan Banwas Rp 206 miliar. “Iya, tapi ini masih 
bersifat usulan. Nanti akan dibahas dengan tim terkait, seperti BPKAD, 
Bappeda, Biro Keuangan, dan Biro Hukum Pemprov,” aku Suprayitno, Selasa 
(16/10).

Dengan adanya perencanaan dana pilgub Jatim hingga Rp 1
 triliun, maka akan terjadi perubahan susunan alokasi kebutuhan yang 
awalnya dianggarkan Rp 600 miliar. Sejauh ini, anggaran Pilgub Jatim Rp 
600 miliar sudah disiapkan secara menyicil berupa dana cadangan. Dalam 
APBD 2012, sudah disiapkan Rp 100 miliar di pos dana cadangan dan Rp 500
 miliar di APBD 2013. Jika ada perubahan hingga Rp 1 triliun, maka mau 
tidak mau RAPBD 2013 harus segera mengalokasikan penuh.

Menanggapi hal ini, kalangan DPRD Jatim sepakat menolak bila pilgub 
Jatim dianggarkan Rp 1 triliun. Dewan menganggap dana Rp 1 triliun 
terlalu besar dan terkesan menghambur-hamburkan uang rakyat hanya untuk 
memilih gubernur dan wakil gubernur. “Kalau pemprov mengajukan Rp 1 
triliun, pasti kita kepras dan kita menolaknya,” tandas Sabron Djamil 
Pasaribu, Ketua Komisi A DPRD Jatim, kemarin.

Sabron mengakui 
jika usulan Pemprov Jatim untuk anggaran Pilgub dalam pembahasan RAPBD 
2013 hampir mencapai angka Rp 1 triliun, namun bagi dewan dana sebesar 
itu terlalu besar. Untuk itu, dalam waktu dekat ini dewan akan segera 
mengundang
KPU Jatim serta pihak-pihak terkait untuk membahas 
anggaran pilgub Jatim. “Kita tahu waktu itu APBD Jatim mengalokasikan 
anggaran sebesar Rp 1 triliun untuk tiga putaran. Namun untuk saat ini 
dewan hanya mengalokasikan satu putaran saja. Artinya dana sebesar Rp 
600 miliar atau Rp 650 miliar sudah cukup termasuk untuk KPU, Bawaslu 
dan pengamanan,” ungkap politikus asal Partai Golkar Jatim ini.

Sabron berpendapat, andai saja pilgub Jatim bisa dipilih DPRD Jatim, 
tentu tidak membutuhkan dana sebesar ini. “Kalau pilgub di DPRD, Rp 1 
miliar saja sudah cukup,” ujar pria keturunan Batak ini.

Sementara itu, anggota Komisi A DPRD Jatim yang lain, Kartika Hidayati 
meminta Pemprov konsisten dengan angka maksimal Rp 650 miliar untuk 
pelaksanaan Pilgub Jatim. Selain itu, pihaknya meminta masyarakat tidak 
perlu berputar-putar dalam memilih pimpinan. Sehingga satu putaran saja 
sudah cukup. “Saya berharap masyarakat cukup menggunakan hak suara 
sebaik-baiknya dalam memilih pemimpin Jatim. Artinya pilihlah pemimpin 
yang benar-benar memikirkan dan memperjuangkan kepentingan rakyat Jatim.
 Dengan begitu anggaran yang ada dapat dialokasikan untuk kepentingan 
pembangunan,’’ tegas politisi berjilbab ini dari PKB Jatim.

Disisi lain, pihaknya meminta kepada pihak-pihak yang berkaitan dengan 
Pilgub Jatim dapat menahan diri dengan tidak bermain-main anggaran APBD 
Jatim. “Kasihan masyarakat yang selama ini jika menjadi harus korban,” 
tukas Kartika.

Akan Dicek Lagi

Gubernur Soekarwo 
mengatakan pengajuan anggaran untuk Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jatim 
2013 di desk Pilkada sebesar Rp 943 miliar atau hampir Rp 1 triliun 
masih akan dicek. Setelah dicek dan dilihat proporsionalitasnya, 
Pemprov, kata Pakde Karwo – panggilan Soekarwo akan menyampaikan 
anggaran tersebut kepada Komisi A DPRD Jatim yang membidangi masalah 
hukum dan pemerintahan. “Jadi nanti (anggarannya) akan kita klarifikasi 
dan cek dengan komisi A (DPRD Jatim),” ujarnya, kepada wartawan, di 
Gedung Negara Grahadi, Selasa (16/10).

Dari usulan anggaran 
Pilgub yang masuk ke desk pilkada, pihaknya, kata Pakde Karwo terutama 
akan menyoroti anggaran sebesar Rp 206 miliar yang diusulkan Banwaslu. 
Anggaran ini dinilai cukup besar menyusul perubahan struktur dan sistem 
pengawasan pemilu oleh Banwaslu, dimana tiap desa harus ada pengawasnya.
 “Makanya kalau perintahnya (model pengawasan oleh Banwaslu) seperti 
itu, ya nanti akan kita bicarakan dengan Komisi A. Dan nanti akan kita 
umumkan kepada masyarakat bahwa besarnya anggaran (Pilgub) untuk itu 
(pengawasan),” tegas orang nomor satu di Jatim ini.

Untuk itu, 
pihaknya, kata Pakde Karwo minta KPU, Banwaslu, dan tim anggaran Pemprov
 bertemu dengan Komisi A DPRD Jatim untuk membahas anggaran Pilgub Jatim
 2013. “Klarifikasi itu penting, karena masalah pembiayaan Pilgub ini 
peka,” imbuh Pakde Karwo, mengingatkan. 


Melawan Lupa, Baca juga berita terkait  :

KPK Dalami Pilgub Jatim Dan menyelidiki dugaan mark up logistik Pilgub 
Jatim 2008 senilai miliaran rupiah yang diduga mengalir ke salah satu 
calon gubernur saat itu ==> 
http://jaringanantikorupsi.blogspot.com/2012/08/medianusantara-melawan-lupa-kpk-dalami.html

cara Soekarwo - Saifulah memenangkan PILGUB Jatim pada tahun 2008 ==> 
http://jaringanantikorupsi.blogspot.com/2012/07/medianusantara-melawan-lupa-cara_21.html

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke